Awas Penyakit Mudah Datang

Minggu, 19 April 2015 - 09:11 WIB
Awas Penyakit Mudah...
Awas Penyakit Mudah Datang
A A A
Menurut pandangan dokter ahli paru-paru Deni Suroso, penerapan pola makan sehat sangat penting dalam kehidupan manusia karena memberikan banyak manfaat bagi kesehatan.

Bagi manusia, penerapan pola makanan yang sehat tentunya tidak sulit karena sudah diajarkan sejak kecil atau di bangku sekolah, yakni makanan 4 sehat 5 sempurna. Tinggal membagi porsi masing-masing agar asupan gizi seimbang. Pembagian porsi dimaksud, berapa kandungan protein, karbohidrat, dan sebagainya yang dibutuhkan sehingga masyarakat jauh dari penyakit.

Banyak efek samping didapat apabila tidak menerapkan hidup sehat melalui pola makan yang sebenarnya dalam keseharian. Berbagai macam penyakit berdatangan, seperti kolesterol, kelainan jantung, kelainan hati, obesitas, dan lainnya. Sekadar memberitahukan, sebagian besar penyakit diderita karena pola makan yang salah. “Banyak penyakit yang datang akibat tidak menerapkan pola makan sehat.

Mulai obesitas, kolesterol, dan kelainan jantung dan hati,” ungkap Deni. Dia juga membenarkan penyakit tersebut lebih banyak menyerang masyarakat melalui pola makan yang tidak sehat. Yang mana kebutuhan tubuh tidak terpenuhi. Penyakit-penyakit tersebut juga menyerang segala lapisan masyarakat.

“Bisa saja remaja terkena setruk, anak kecil kelainan jantung, dan penyakit lainnya yang pada umumnya menyerang orang tua apabila pola makannya tidak sehat. “Kebanyakan mengonsumsi makanan yang tidak bergizi,” ungkap pria yang membuka praktik di Klinik Madani ini. Penyakit-penyakit tersebut semakin parah apabila dalam kehidupan sehari-hari tidak mengganti makanan yang biasa dikonsumsi dengan makanan sehat atau sesuai kebutuhan gizi.

Makanya, tidak heran bila mereka yang menderita satu penyakit diingatkan menjaga pola makanan. Pola makanan dimaksud tidak hanya makan teratur, tapi juga asupan gizinya. Hal ini guna menghindari penyakit diderita tidak akut. “Yang diperlukan itu kan gizi seimbang. Apa yang dikeluarkan dan dikonsumsi sehingga tidak bermasalah,” katanya lagi.

Bagi mereka yang dikatakan dilarang mengonsumsi satu makanan karena mengidap satu penyakit juga tidak perlu takut. Dia mencontohkan penderita ambeien atau jantung dilarang makan daging. Padahal daging tersebut sangat penting untuk tubuh karena mengandung banyak protein. Tinggal memperhatikan cara memakan dan memasaknya. Begitu juga menghindari makanan yang dianggap tidak perlu dikonsumsi seperti seafood , santan, dan jenis kacangkacangan.

Untuk itu, Deni menyarankan agar masyarakat mengganti pola makan dari biasanya untuk kesehatan tubuh. “Yang penting cara makanannya. Kalau daging sapi tidak ada masalah dikonsumsi. Banyak proteinnya. Tapi jangan dicampur santan. Yang kedua kalau makan daging ayam, diutamakan bagian dadanya karena banyak mengandung daging. Kalau di bagian paha masih banyak kandungan lemaknya.

Selain itu, jangan dicampur santan. Itu mendatangkan kolesterol,” paparnya. Pengamat kesehatan Umar Zein menuturkan, dari rangkaian persoalan tersebut, pola makanan yang tak seimbang akan memicu menjadi penyakit. Hal inilah yang kurang diperhatikan masyarakat. Pola makanan yang berlebih atau berkurang sebaiknya mendapat perhatian. Jangan salahkan pula faktor genetik yang menjadi tumbal.

Kondisi penyakit tertentu akan berdampak pada pantangan atau anjuran untuk tidak mengonsumsi suatu makanan yang dapat memicu penyakit tersebut. “Seperti penyakit konstipasi atau sembelit akibat tidak atau kurangnya mengonsumsi makanan berserat seperti sayuran dan banyak mengonsumsi daging.

Untuk penyakit diabetes, di samping adanya faktor genetik, erat kaitannya dengan konsumsi karbohidrat atau gula yang tinggi. Hipertensi berkaitan dengan konsumsi garam atau makanan yang asin. Hiperlipidemia atau kadar lemak darah yang tinggi berkaitan dengan konsumsi lemak hewani.

Penyakit hiperuricemia (kadar uric acid yang tinggi) berhubungan dengan konsumsi makanan yang tinggi kandungan purinenya. Seperti jeroan, kacang tanah, emping melinjo dan seafood ,” papar dokter spesialis penyakit tropik dan infensi ini. Persoalan tak hanya terhadap pola makanan. Di sisi lain, harus benar-benar pandai memilih makanan yang akan dimakan. Apa yang dimakan belum tentu sehat, melainkan munculnya penyakit baru.

Reza shahab
(bbg)
Berita Terkait
Potensi Sikomandan Cukup...
Potensi Sikomandan Cukup Besar di Sumatera Utara
Penyuluh di Sumatera...
Penyuluh di Sumatera Utara Ikuti Pelatihan TOT Proyek SIMURP
Bentrok 2 Fakultas Pecah,...
Bentrok 2 Fakultas Pecah, Aktivitas Mahasiswa di Kampus USU Diliburkan
UP DATE Covid-19 Provinsi...
UP DATE Covid-19 Provinsi Sumatera Utara
Permintaan Turun, Ekspor...
Permintaan Turun, Ekspor Karet Sumatera Utara Anjlok
KPK Gelar OTT di Labuhanbatu...
KPK Gelar OTT di Labuhanbatu Sumatera Utara
Berita Terkini
Gunung Lewotobi Laki-laki...
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi, Ketinggian Abu Mencapai 1.600 Meter
2 jam yang lalu
Gempa Magnitudo 5,8...
Gempa Magnitudo 5,8 Guncang Ternate Maluku Utara Pagi Ini
3 jam yang lalu
Dinkes Apresiasi Operasi...
Dinkes Apresiasi Operasi Bibir Sumbing Gratis MNC Peduli dan RS Azra Bogor
10 jam yang lalu
MNC Peduli dan Yayasan...
MNC Peduli dan Yayasan Jalinan Kasih Sudah Operasi Lebih dari 5.000 Pasien Bibir Sumbing Sejak 2004
12 jam yang lalu
Gelar Operasi Sumbing...
Gelar Operasi Sumbing Gratis, MNC Peduli dan Smiletrain Indonesia Gandeng RS Azra Bogor
12 jam yang lalu
Energy Executive Award...
Energy Executive Award 2026 Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan Wujudkan Ketahanan Energi
12 jam yang lalu
Infografis
Jomblo Waspada! Kesepian...
Jomblo Waspada! Kesepian Picu Penyakit Jantung hingga Diabetes
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved