Bom ITC Depok, IPW Minta Polri Awasi ISIS di Indonesia
Selasa, 24 Februari 2015 - 12:29 WIB
Bom ITC Depok, IPW Minta Polri Awasi ISIS di Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) mengingatkan aparat kepolisian agar mengusut secara tuntas pelaku peledakan di ITC Depok yang terjadi pada Senin sore kemarin.
Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan, meski ledakan berdaya kecil (low explosive) namun ledakan itu bermakna peringatan bagi keamanan negeri. Menurutnya, ledakan itu disinyalir kembalinya gerakan radikalisme di Indonesia.
"Sasaran mereka tidak lagi kepentingan asing dan pusat keramaian, tapi mulai bergeser spesifik ke pusat keramaian anak-anak bermain," ujar Neta melalui rilis yang diterima Sindonews, di Jakarta, Selasa (24/2/2015). Neta menyatakan, setidaknya dalam kurun waktu selama dua tahun sampai akhir tahun 2014, polisi berhasil meredam gerakan radikalisme di Indonesia dengan tindakan pemboman sejumlah tempat yang kerap dilakukan mereka.
Menurut Neta, setelah hampir dua tahun Indonesia sepi dari aksi radikal kelompok terorisme, kini mereka diduga mulai unjuk gigi kembali dengan sasaran berbeda. Dikatakannya, sepanjang tahun 2013-2014 kantong-kantong terorisme di Indonesia mulai kehilangan kendali dan sulit menggalang konsolidasi.
Namun ledakan di ITC Depok patut diwaspadai aparat kepolisian bahwa gerakan mereka sudah terhimpun kembali. Apalagi kata Neta, gerakan terorisme kelompok ISIS disinyalir sudah melakukan peluasan basis pergerakannya di luar basis utama di Irak dan Suriah.
Neta mengingatkan polisi agar memantau pergerakan ISIS di Indonesia."Namun dengan adanya isu ISIS dan banyaknya warga Indonesia bergabung dengan ISIS di Timur Tengah, hal ini patut diwaspadai," ujarnya.
Sebab bukan mustahil sikap ekstrim dan radikal ISIS mereka bawa masuk ke indonesia dan kemudian menjadi teror bagi masyarakat. Untuk itu ledakan di Depok patut diwaspadai sebagai upaya kebangkitan kalangan radikal," pungkasnya.
Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan, meski ledakan berdaya kecil (low explosive) namun ledakan itu bermakna peringatan bagi keamanan negeri. Menurutnya, ledakan itu disinyalir kembalinya gerakan radikalisme di Indonesia.
"Sasaran mereka tidak lagi kepentingan asing dan pusat keramaian, tapi mulai bergeser spesifik ke pusat keramaian anak-anak bermain," ujar Neta melalui rilis yang diterima Sindonews, di Jakarta, Selasa (24/2/2015). Neta menyatakan, setidaknya dalam kurun waktu selama dua tahun sampai akhir tahun 2014, polisi berhasil meredam gerakan radikalisme di Indonesia dengan tindakan pemboman sejumlah tempat yang kerap dilakukan mereka.
Menurut Neta, setelah hampir dua tahun Indonesia sepi dari aksi radikal kelompok terorisme, kini mereka diduga mulai unjuk gigi kembali dengan sasaran berbeda. Dikatakannya, sepanjang tahun 2013-2014 kantong-kantong terorisme di Indonesia mulai kehilangan kendali dan sulit menggalang konsolidasi.
Namun ledakan di ITC Depok patut diwaspadai aparat kepolisian bahwa gerakan mereka sudah terhimpun kembali. Apalagi kata Neta, gerakan terorisme kelompok ISIS disinyalir sudah melakukan peluasan basis pergerakannya di luar basis utama di Irak dan Suriah.
Neta mengingatkan polisi agar memantau pergerakan ISIS di Indonesia."Namun dengan adanya isu ISIS dan banyaknya warga Indonesia bergabung dengan ISIS di Timur Tengah, hal ini patut diwaspadai," ujarnya.
Sebab bukan mustahil sikap ekstrim dan radikal ISIS mereka bawa masuk ke indonesia dan kemudian menjadi teror bagi masyarakat. Untuk itu ledakan di Depok patut diwaspadai sebagai upaya kebangkitan kalangan radikal," pungkasnya.
(whb)