Trenyuh saat Temukan 3 Jenazah Masih Duduk di Kursi
Senin, 05 Januari 2015 - 11:30 WIB
Trenyuh saat Temukan 3 Jenazah Masih Duduk di Kursi
A
A
A
SEMARANG - Rasa iba dan dedikasi tinggi membuat para kru KRI Bung Tomo rela melawan risiko cuaca maupun terjangan ombak tinggi di perairan Selat Karimata, Kalimantan Tengah.
Mereka melakukan misi penyelamatan dan evakuasi korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501. Saat sandar di Pelabuhan Tanjung Emas Kota Semarang kemarin, terlihat aneka benda serpihan dari pesawat AirAsia maupun bawaan penumpang berada di atas kapal perang tersebut, di antaranya jok kursi penumpang yang masih dalam posisi ditumpuk dan terikat.
Kemarin, kursi itu masih basah karena air laut masih menggenangi. Saat ditemukan pada Jumat (2/11), di atas tiga jok kursi itu ada tiga jenazah diduga masih satu keluarga. “Kursi itu terombang-ambing di laut. Ada tiga jenazah terlihat. Kelihatannya satu keluarga, yakni ayah, ibu, dan anaknya. Ketiganya masih terikat seat belt (sabuk pengaman),” kata Komandan KRI Bung Tomo Kolonel Laut Yayan Sofiyan, kemarin.
Didorong perasaan iba dan dedikasi tugas, kru kapal langsung berusaha mengevakuasi. Padahal saat itu tinggi gelombang antara 3-4 meter dengan kecepatan angin 25 knot. “Itu kondisi cukup berbahaya di lautan. Rasa lelah seolah sirna melihat mereka masih satu ikatan sampai ajal menjemputnya. Kami pun mengevakuasi. Yang anaknya itu mungkin umurnya di bawah 25 tahun,” ujarnya.
Sisa kursi itu terlihat masih basah. Di beberapa bagiannya terdapat seperti serpihan lemak atau daging menempel. Bangkai kursi itu adalah bagian dari AirAsia QZ 8501 rute Surabaya- Singapura yang mengalami musibah dan hilang di perairan Selat Karimata, Minggu (28/12) lalu.
Bagian belakang kursi itu masih terdapat tulisan AirAsia.com. Yayan menambahkan, dalam sepekan terakhir sudah 10 jenazah penumpang pesawat AirAsia dievakuasi KRI Bung Tomo.
Termasuk juga aneka serpihan pesawat dan barangbarang milik korban. Jenazah diangkut helikopter, sementara aneka benda dan serpihan itu masih di kapal. “Para korban kondisinya wajah sudah rusak. Rata-rata kaki dan pergelangan tangan patah. Mungkin akibat benturan,” ujarnya.
Berbagai barang yang ada diangkat KRI Bung Tomo dari laut di antaranya potongan besar floating emergency exit door, raft survival kit, pintu darurat, hingga kursi penumpang pesawat. Aneka benda itu dikumpulkan jadi satu. Selain barang-barang itu, terlihat pula aneka bawaan penumpang, mulai dari kacamata, pakaian, rokok, beberapa sepatu, hingga tempat duduk bayi warna hitam.
Aneka benda temuan itu akan diserahkan ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna penyelidikan lebih lanjut. Kapal KRI Bung Tomo kini digantikan KRI Usman Harun dan KRI Frans Kaisiepo. Kedatangan KRI Bung Tomo berlabuh di Tanjung Emas bukan untuk bersandar karena tugasnya selesai, tapi untuk keperluan isi bahan bakar dan logistik.
Kapal perang itu tiba sekitar pukul 08.00 WIB. Sejumlah awak kapal terlihat sibuk membersihkan bagian-bagian kapal. Setelah semuanya selesai, kapal perang bernomor lambung 357 itu kembali melaut melanjutkan proses pencarian.
“Ini siklus kapal perang. Sumber daya perlu diisi lagi setelah 7 hari 7 malam di laut. Ini untuk persiapan operasi berikutnya,” katanya.
Eka Setiawan
Mereka melakukan misi penyelamatan dan evakuasi korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501. Saat sandar di Pelabuhan Tanjung Emas Kota Semarang kemarin, terlihat aneka benda serpihan dari pesawat AirAsia maupun bawaan penumpang berada di atas kapal perang tersebut, di antaranya jok kursi penumpang yang masih dalam posisi ditumpuk dan terikat.
Kemarin, kursi itu masih basah karena air laut masih menggenangi. Saat ditemukan pada Jumat (2/11), di atas tiga jok kursi itu ada tiga jenazah diduga masih satu keluarga. “Kursi itu terombang-ambing di laut. Ada tiga jenazah terlihat. Kelihatannya satu keluarga, yakni ayah, ibu, dan anaknya. Ketiganya masih terikat seat belt (sabuk pengaman),” kata Komandan KRI Bung Tomo Kolonel Laut Yayan Sofiyan, kemarin.
Didorong perasaan iba dan dedikasi tugas, kru kapal langsung berusaha mengevakuasi. Padahal saat itu tinggi gelombang antara 3-4 meter dengan kecepatan angin 25 knot. “Itu kondisi cukup berbahaya di lautan. Rasa lelah seolah sirna melihat mereka masih satu ikatan sampai ajal menjemputnya. Kami pun mengevakuasi. Yang anaknya itu mungkin umurnya di bawah 25 tahun,” ujarnya.
Sisa kursi itu terlihat masih basah. Di beberapa bagiannya terdapat seperti serpihan lemak atau daging menempel. Bangkai kursi itu adalah bagian dari AirAsia QZ 8501 rute Surabaya- Singapura yang mengalami musibah dan hilang di perairan Selat Karimata, Minggu (28/12) lalu.
Bagian belakang kursi itu masih terdapat tulisan AirAsia.com. Yayan menambahkan, dalam sepekan terakhir sudah 10 jenazah penumpang pesawat AirAsia dievakuasi KRI Bung Tomo.
Termasuk juga aneka serpihan pesawat dan barangbarang milik korban. Jenazah diangkut helikopter, sementara aneka benda dan serpihan itu masih di kapal. “Para korban kondisinya wajah sudah rusak. Rata-rata kaki dan pergelangan tangan patah. Mungkin akibat benturan,” ujarnya.
Berbagai barang yang ada diangkat KRI Bung Tomo dari laut di antaranya potongan besar floating emergency exit door, raft survival kit, pintu darurat, hingga kursi penumpang pesawat. Aneka benda itu dikumpulkan jadi satu. Selain barang-barang itu, terlihat pula aneka bawaan penumpang, mulai dari kacamata, pakaian, rokok, beberapa sepatu, hingga tempat duduk bayi warna hitam.
Aneka benda temuan itu akan diserahkan ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna penyelidikan lebih lanjut. Kapal KRI Bung Tomo kini digantikan KRI Usman Harun dan KRI Frans Kaisiepo. Kedatangan KRI Bung Tomo berlabuh di Tanjung Emas bukan untuk bersandar karena tugasnya selesai, tapi untuk keperluan isi bahan bakar dan logistik.
Kapal perang itu tiba sekitar pukul 08.00 WIB. Sejumlah awak kapal terlihat sibuk membersihkan bagian-bagian kapal. Setelah semuanya selesai, kapal perang bernomor lambung 357 itu kembali melaut melanjutkan proses pencarian.
“Ini siklus kapal perang. Sumber daya perlu diisi lagi setelah 7 hari 7 malam di laut. Ini untuk persiapan operasi berikutnya,” katanya.
Eka Setiawan
(ftr)