Perkenalkan, Harimau Sumatera Pandeka Balang dan Mantagis
Selasa, 23 Desember 2014 - 11:25 WIB
Perkenalkan, Harimau Sumatera Pandeka Balang dan Mantagis
A
A
A
BUKITTINGGI - Sepasang anak harimau Sumatera yang lahir di Kebun Binatang Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi, akhirnya diberi nama setelah berusia genap tiga bulan.
Pemberian nama satwa langka dilindungi ini bertepatan dengan ulang tahun Kota Bukittinggi ke-230. Kelahiran bayi harimau kelas F-1 atau hasil perkawinan harimau asli hutan Sumatera ini merupakan yang pertama kali, sejak tahun 1960 silam.
Pemberian nama dihadiri dan dilakukan oleh Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, serta sejumlah tokoh masyarakat, dan masyarakat umum, dalam gelaran syukuran hari jadi Kota Bukittinggi ke-230.
Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis mengatakan, penetapan nama sengaja dilakukan, saat hari jadi kota, pada 22 Desember, karena dua ekor anak harimau Sumatera ini juga lahir pada tanggal 22 September, pas berusia 3 bulan.
"Apalagi kelahiran bayi harimau Sumatera di Kebun Binatang Bukittinggi ini merupakan yang pertama kalinya sejak tahun 1960," katanya, kepada wartawan, Selasa (23/12/2014).
Dia menambahkan, pemberian nama disayembarakan, supaya masyarakat juga ikut berpartisipasi mencari nama kedua makhluk buas itu. Dari ratusan nama yang diusulkan peserta, terpilih nama Pandeka Balang dan Mantagi.
Pandeka Balang diambil dari bahasa Minang yang berarti pendekar belang. Nama ini diusulkan oleh Marno, peserta sayembara yang kebetulan pawang harimau di Kebun Binatang Bukittinggi. Sedangkan Mentagi berarti wibawa sang dewi, diusulkan Asril.
Anak harimau Sumatera Pandeka Balang dan Mantagi merupakan harimau Sumatera kelas F-1 atau hasil perkawinan harimau Sumatera asli dari hutan Sumatera. Bukan merupakan harimau yang lahir dari penangkaran.
Kedua bayi harimau ini lahir secara normal, hasil perkawinan harimau Sumatera bernama Bancah dan Dara Jingga. Bancah merupakan induk jantan yang telah berusia sekitar 12-13 tahun. Nama latinnya adalah Panthera Tigris Sumatrae.
Bancah berasal dari hutan, di Desa Taratak Bancah, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto. Sedangkan induk betinanya, yakni Dara Jingga, kini telah berumur sekitar 6-7 tahun, berasal dari hutan di Gunung Medan, Kabupaten Dharmasraya.
Saat ditemukan masyarakat tahun 2007 lalu, kondisi keduanya sangat memprihatinkan. Sekujur tubuhnya penuh luka, kaki kanan luka kena tali sling, taringnya patah, dan mengalami stres.
Tim penyelamat satwa dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan polisi hutan Provinsi Sumatera Barat, mengirimkan kedua harimau ini ke Kebun Binatang Bukittinggi untuk dirawat.
Kini, dengan hadirnya sepasang anak harimau ini, jumlah harimau Sumatera satwa koleksi kebun binatang berjumlah enam ekor. Dua ekor harimau Sumatera lainnya bernama Sandy dan Sean, merupakan pasangan harimau berusia dua tahun.
Pemberian nama satwa langka dilindungi ini bertepatan dengan ulang tahun Kota Bukittinggi ke-230. Kelahiran bayi harimau kelas F-1 atau hasil perkawinan harimau asli hutan Sumatera ini merupakan yang pertama kali, sejak tahun 1960 silam.
Pemberian nama dihadiri dan dilakukan oleh Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, serta sejumlah tokoh masyarakat, dan masyarakat umum, dalam gelaran syukuran hari jadi Kota Bukittinggi ke-230.
Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis mengatakan, penetapan nama sengaja dilakukan, saat hari jadi kota, pada 22 Desember, karena dua ekor anak harimau Sumatera ini juga lahir pada tanggal 22 September, pas berusia 3 bulan.
"Apalagi kelahiran bayi harimau Sumatera di Kebun Binatang Bukittinggi ini merupakan yang pertama kalinya sejak tahun 1960," katanya, kepada wartawan, Selasa (23/12/2014).
Dia menambahkan, pemberian nama disayembarakan, supaya masyarakat juga ikut berpartisipasi mencari nama kedua makhluk buas itu. Dari ratusan nama yang diusulkan peserta, terpilih nama Pandeka Balang dan Mantagi.
Pandeka Balang diambil dari bahasa Minang yang berarti pendekar belang. Nama ini diusulkan oleh Marno, peserta sayembara yang kebetulan pawang harimau di Kebun Binatang Bukittinggi. Sedangkan Mentagi berarti wibawa sang dewi, diusulkan Asril.
Anak harimau Sumatera Pandeka Balang dan Mantagi merupakan harimau Sumatera kelas F-1 atau hasil perkawinan harimau Sumatera asli dari hutan Sumatera. Bukan merupakan harimau yang lahir dari penangkaran.
Kedua bayi harimau ini lahir secara normal, hasil perkawinan harimau Sumatera bernama Bancah dan Dara Jingga. Bancah merupakan induk jantan yang telah berusia sekitar 12-13 tahun. Nama latinnya adalah Panthera Tigris Sumatrae.
Bancah berasal dari hutan, di Desa Taratak Bancah, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto. Sedangkan induk betinanya, yakni Dara Jingga, kini telah berumur sekitar 6-7 tahun, berasal dari hutan di Gunung Medan, Kabupaten Dharmasraya.
Saat ditemukan masyarakat tahun 2007 lalu, kondisi keduanya sangat memprihatinkan. Sekujur tubuhnya penuh luka, kaki kanan luka kena tali sling, taringnya patah, dan mengalami stres.
Tim penyelamat satwa dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan polisi hutan Provinsi Sumatera Barat, mengirimkan kedua harimau ini ke Kebun Binatang Bukittinggi untuk dirawat.
Kini, dengan hadirnya sepasang anak harimau ini, jumlah harimau Sumatera satwa koleksi kebun binatang berjumlah enam ekor. Dua ekor harimau Sumatera lainnya bernama Sandy dan Sean, merupakan pasangan harimau berusia dua tahun.
(san)