Dewan Nilai Pengerukan Kali Hanya Proyek Kejar Tayang
Kamis, 13 November 2014 - 04:13 WIB
Dewan Nilai Pengerukan Kali Hanya Proyek Kejar Tayang
A
A
A
JAKARTA - Pengerukan kali dan waduk yang dilakukan Pemprov DKI terkesan buru-buru sehingga dikhawatirkan tidak bisa mengatasi banjir.
Buktinya, hujan beberapoa menit saja sejumlah jalan di Jakarta tergenang. Kondisi ini membuat sejumlah pekerja harus berada di jalan lebih lama karena kendaraannya mogok karena terendam banjir.
Anggota Fraksi Gerindra DPRD DKI M Sanusi berharap, tahun ini hujan tidak sederas tahun lalu. Bila sama, maka dia khawatir ancaman banjir lebih besar.
Sebab pengerukan yang dilakukan oleh SKPD terkesan kejar tayang di akhir tahun. Sebagaimana diketahui bulan November hingga Januari merupakan musim hujan di Jakarta. Artinya pekeraan antisipasi terkesan sia-sia.
"Saya takut ketika proyek itu belum jadi. Hujan sudah deras. Maka hasil pekerjaan bukan mengurangi dampak banjir, melainkan menambah dampak lebih besar. Bisa saja tanggulnya jebol, karena belum kering," tandasnya di Gedung DPRD DKI, Rabu (12/11/2014).
Lebih jauh dia menambahkan, saat ini posisi saluran tersier atau saluran mikro posisinya lebih rendah ke dari saluran sekunder atau penghubung. Sehinga air di tersier tidak dapat mengalir, melainkan menimbulkan genangan.
"Di daerah rawan banjir mungkin sudah berkurang dampaknya. Tapi dampak genangan lebih parah. Itu umum terdapat di tengah kota. Yang mengalami imbasnya masyarakat yang beraktifitas, seperti pengendara, warga perumahan dan lain sebagainya," katanya.
Dia menegaskan, ancaman di musim hujan di Jakarta bukan lagi banjir besar, tapi genangan. Hujan 30 menit bisa menimbulkan genangan setinggi 50 cm.
Akibatnya lalu lintas tidak bergerak. Perjalanan masyarakat tergadai di tangah jalan. Bahkan waktu perjalanan masyarakat biasanya satu jam sampai di rumah bertambah menjadi empat hingga lima jam.
"Kalau begitu perekonomian tidak berjalan," sambung mantan Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta periode 2009-2014 itu.
Buktinya, hujan beberapoa menit saja sejumlah jalan di Jakarta tergenang. Kondisi ini membuat sejumlah pekerja harus berada di jalan lebih lama karena kendaraannya mogok karena terendam banjir.
Anggota Fraksi Gerindra DPRD DKI M Sanusi berharap, tahun ini hujan tidak sederas tahun lalu. Bila sama, maka dia khawatir ancaman banjir lebih besar.
Sebab pengerukan yang dilakukan oleh SKPD terkesan kejar tayang di akhir tahun. Sebagaimana diketahui bulan November hingga Januari merupakan musim hujan di Jakarta. Artinya pekeraan antisipasi terkesan sia-sia.
"Saya takut ketika proyek itu belum jadi. Hujan sudah deras. Maka hasil pekerjaan bukan mengurangi dampak banjir, melainkan menambah dampak lebih besar. Bisa saja tanggulnya jebol, karena belum kering," tandasnya di Gedung DPRD DKI, Rabu (12/11/2014).
Lebih jauh dia menambahkan, saat ini posisi saluran tersier atau saluran mikro posisinya lebih rendah ke dari saluran sekunder atau penghubung. Sehinga air di tersier tidak dapat mengalir, melainkan menimbulkan genangan.
"Di daerah rawan banjir mungkin sudah berkurang dampaknya. Tapi dampak genangan lebih parah. Itu umum terdapat di tengah kota. Yang mengalami imbasnya masyarakat yang beraktifitas, seperti pengendara, warga perumahan dan lain sebagainya," katanya.
Dia menegaskan, ancaman di musim hujan di Jakarta bukan lagi banjir besar, tapi genangan. Hujan 30 menit bisa menimbulkan genangan setinggi 50 cm.
Akibatnya lalu lintas tidak bergerak. Perjalanan masyarakat tergadai di tangah jalan. Bahkan waktu perjalanan masyarakat biasanya satu jam sampai di rumah bertambah menjadi empat hingga lima jam.
"Kalau begitu perekonomian tidak berjalan," sambung mantan Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta periode 2009-2014 itu.
(ysw)