Hotspot di Kalteng dan Sumsel Meningkat Lagi

Minggu, 02 November 2014 - 14:58 WIB
Hotspot di Kalteng dan...
Hotspot di Kalteng dan Sumsel Meningkat Lagi
A A A
PALEMBANG - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah hotspot (titik api) di wilayah Kalteng dan Sumsel meningkat lagi.

Berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua pada Minggu (2/11/2014) pukul 05.00 WIB hotspot di Kalteng 1.225, Sumsel 344, Kalbar 203, Kaltim 32, dan Lampung 20.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Palembang, jarak pandang 400 meter pada pukul 06.00 WIB dan 800 meter pada pukul 08.00 WIB.

Dari 344 hotspot di Sumsel, kata Sutopo, terkonsentrasi di OKI 320. Artinya 93% berada di OKI. Sudah sejak 2 bulan, OKI adalah sumber kebakaran di Sumsel yang menyuplai asap ke Palembang hingga ke Jambi dan Riau.

Sementara di Kalteng, dari 1.225 hotspot tersebar di Kotawaringin Timur 276, Seruyan 273, Pulang Pisau 232, Kotawaringin Barat 125, Katingan 123, dan daerah lainnya.

"Sebanyak 99% penyebab kebakaran hutan adalah disengaja. Bahkan hutan pun juga dibakar, seperti di Suaka Margasatwa, Padang Sugihan Sumsel ada 11 hotspot, dan Taman Nasional Tanjung Putting Kalteng 1 hotspot. Modusnya adalah alasan ekonomi karena pembakaran lebih murah, " kata Sutopo dalam rilis yang dikirimkan ke Sindonews, Minggu (2/11/2014)

Upaya pemadaman, lanjut Sutopo, akan terus menerus dilakukan BNPB. Caranya dengan memperkuat Pemda dengan mengerahkan helikopter, pesawat dan modifikasi cuaca.

Di Sumsel ada 4 pesawat dan heli untuk pemboman air yaitu Bolco, MI-8, Kamov, Sirkorsky dan Air Tractor. Pesawat Casa 212 digunakan untuk modifikasi cuaca.

Total 10.032 sorti penerbangan sudah dilakukan untuk menjatuhkan air 24,4 juta liter guna memadamkan api. Modifikasi cuaca sudah menebarkan 67 ton garam ke awan.

Hal serupa juga dilakukan di Kalteng, Riau, dan Kalbar. Namun, timpal Sutopo, pembakaran di darat masih terus dilakukan.

Karena itu, kata dia, Upaya penegakan hukum harus lebih ditingkatkan untuk memberikan efek jera. "Gubernur, bupati dan wali kota sebagai penanggung jawab utama penyelenggaran penanggulangan bencana di daerahnya harus dapat melakukan pencegahan, " ujar Sutopo.
(sms)
Berita Terkait
Cegah Kebakaran Hutan...
Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan, Pemkab Muba Anggarkan Rp10 Miliar
Penyebab Pendakian Belum...
Penyebab Pendakian Belum Dibuka Meski Titik Api Gunung Arjuno-Welirang Sudah Padam
Provinsi Kanada Umumkan...
Provinsi Kanada Umumkan Keadaan Darurat Akibat Kebakaran Hutan, 24.000 Orang Dievakuasi
Kebakaran Hutan di Chile...
Kebakaran Hutan di Chile Tewaskan 40 Orang
Kebakaran California...
Kebakaran California Meluas, Muncul Titik Api Baru di West Hills
Antisipasi Karhutla,...
Antisipasi Karhutla, Polisi Intensifkan Patroli Hutan di Blora
Berita Terkini
Koops TNI Habema Ungkap...
Koops TNI Habema Ungkap Satu Warga Tewas Ditembak Kelompok Bersenjata OPM
47 menit yang lalu
Emak-emak Kian Banyak...
Emak-emak Kian Banyak Bergabung, DPD Partai Perindo Kota Palu Perkuat Struktur hingga Akar Rumput
1 jam yang lalu
Momen Menegangkan Pasukan...
Momen Menegangkan Pasukan TNI Evakuasi Jenazah Pilot AS yang Ditembak OPM di Yahukimo
1 jam yang lalu
Asosiasi Kepala Desa...
Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia di NTB Dukung MBG Diperluas hingga Pelosok
2 jam yang lalu
BNPB Pulihkan Akses...
BNPB Pulihkan Akses Air Bersih di Merapi dengan Pipanisasi Sepanjang 30 Km
3 jam yang lalu
ITS Dorong Mahasiswa...
ITS Dorong Mahasiswa Kembangkan Inovasi untuk Mendukung Kinerja PLN
3 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved