Warga Samarinda Terancam Kekurangan Air Bersih

Sabtu, 11 Oktober 2014 - 15:15 WIB
Warga Samarinda Terancam...
Warga Samarinda Terancam Kekurangan Air Bersih
A A A
SAMARINDA - Musim kemarau yang cukup panjang tahun ini berimbas pada air Sungai Mahakam yang mengalami interusi air laut.

Akibatnya, jika hujan tak segera turun, air Sungai Mahakam tak lagi bisa menjadi bahan baku pengolahan air bersih.

Bahkan jika sampai beberapa hari ke depan hujan belum turun di Samarinda, kemungkinan besar kadar chlorida di perairan Sungai Mahakam akan terus meningkat. Air Sungai Mahakam adalah bahan baku utama sumber air bersih warga Kota Samarinda.

“Dampak musim kemarau yang cukup lama mulai berimbas kepada Air Mahakam sebagai sumber air baku PDAM Tirta Kencana Kota Samarinda,” kata Humas PDAM Samarinda Syarif Rahman Hakim, Sabtu (11/10/2014).

Dia menambahkan, kondisi air Sungai Mahakam sudah terinterusi air laut sejak beberapa hari yang lalu. Kenaikan yang cukup tinggi terjadi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pulau Atas yangg sempat mencapai 250 ppm sehingga produksi sempat dihentikan.

"Interusi air laut ke sungai Mahakam ini tergantung daripada pasang surutnya air laut, jika air pasang maka kandungan clorida akan naik begitu pula sebaliknya," ujar Humas PDAM Samarinda Syarif Rahman Hakim.

Pihak PDAM Kota Samarinda akan terus memantau kadar chlorida air Sungai Mahakam. Jika terus naik tinggi dan melebihi ambang batas maksimun, operasional pengolahan air otomatis terhenti.

“Batas maksimal kadar Clorida 250 ppm untuk produksi dan layak dikonsumsi, jika sudah melebihi 250 ppm maka produksi dihentikan karena air tidak layak untuk dikonsumsi,” timpalnya.

Syarif mengimbau kepada pelanggan agar dapat menampung air sebagai persediaan dan berhemat karena tidak menutup kemungkinan produksi dihentikan dalam waktu yang relatif lama.

“Jika IPA tidak produksi dan distribusi terhenti dalam waktu yang lama, kita akan upayakan pendistribusian menggunakan armada mobil tangki ke rumah warga dan tempat-tempat ibadah khususnya,” pungkasnya.
(sms)
Berita Terkait
Awal Musim Kemarau 2024...
Awal Musim Kemarau 2024 Diprediksi Mundur, Ini Rincian Daerahnya
Sungai Batanghari Surut...
Sungai Batanghari Surut Akibat Kemarau, Munculkan Pulau Berpasir
Puncak Kemarau di Maros...
Puncak Kemarau di Maros Diprediksi Pada Bulan Agustus
56% Wilayah Indonesia...
56% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau Sejak Awal Juli 2023
Puncak Musim Kemarau...
Puncak Musim Kemarau Diprediksi Agustus 2025, BMKG: Berlangsung Lebih Singkat
September Puncak Musim...
September Puncak Musim Kemarau, Oktober Transisi ke Musim Hujan
Berita Terkini
Kapal Basarnas Terbakar...
Kapal Basarnas Terbakar di Muara Baru, 14 Unit dan 70 Personel Damkar Dikerahkan
6 jam yang lalu
Refly Harun Dampingi...
Refly Harun Dampingi Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus di PN Jakpus
8 jam yang lalu
BNPP Dorong Percepatan...
BNPP Dorong Percepatan PLBN Seimanggaris, Perkuat Gerbang Negara yang Terhubung ke Koridor Ekonomi BIMP-EAGA
8 jam yang lalu
Ruko di Pasar Ciputat...
Ruko di Pasar Ciputat Tangsel Terbakar, Api Masih Berkobar
8 jam yang lalu
Jadi Kawasan Wisata,...
Jadi Kawasan Wisata, Bali Kian Dilirik Perusahaan Asuransi
8 jam yang lalu
Riau Bhayangkara Run...
Riau Bhayangkara Run 2026 Ciptakan Efek Ekonomi Rp58,9 Miliar
8 jam yang lalu
Infografis
Marwah Piala Dunia 2026...
Marwah Piala Dunia 2026 Terancam, 5 Negara Berpotensi Absen
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved