Tak Terbukti, LMS Tidak Akan Pecat Guru
Jum'at, 05 September 2014 - 22:15 WIB
Tak Terbukti, LMS Tidak Akan Pecat Guru
A
A
A
JAKARTA - Lakeside Montessori School membantah insiden pemukulan terhadap Br siswa kelas 2 SD, oleh seorang guru, MR C. Bahkan, pihak sekolah mengklaim langsung melakukan investigasi terhadap kejadian tersebut.
Staf sekolah Agus Samiaji mengatakan, proses internal yang dilakukan pihak sekolah sudah menjadi standar operasional prosedur (SOP) untuk mencari fakta dan kebenaran. Jika terbukti, maka akan dilakukan sanksi terhadap guru.
"Karena tidak terbukti maka kami tidak memberi surat teguran atau pemecatan, dan dari awal MR C tidak mengaku, dan orang tua juga keukeuh. Kami masih menunggu iktikad baik dari orang tua, tetapi justru ada berita di media," tegasnya di sekolah Komplek Villa Cibubur
Indah, Jakarta, Jumat (5/9/2014).
Guru Olahraga Herry Widodo mengatakan, penerapan kurikulum yang digunakan yakni sistem kurikulum individual. Sedangkan MR C merupakan guru Bahasa Indonesia dan menjabat sebagai asisten guru utama dari Filipina.
"Sesuai individual, jadi kalau satu kelas saja ada empat orang guru, pasti kalau dibentak atau dipukul guru lain akan melihat, guru dari luar ada dari Filipina dua orang, MR C, asisten guru dan mengajar Bahasa Indonesia, PPKN," terangnya.
Herry menyesalkan pihak orang tua yang menolak melakukan visum. "Menunggu kalau bisa selesaikan baik-baik, ya ini sudah buat pembelajaran buat kami. Iktikad baik orang tua Br akhirnya kami tunggu, tetapi malah lari ke media," tandasnya.
Staf sekolah Agus Samiaji mengatakan, proses internal yang dilakukan pihak sekolah sudah menjadi standar operasional prosedur (SOP) untuk mencari fakta dan kebenaran. Jika terbukti, maka akan dilakukan sanksi terhadap guru.
"Karena tidak terbukti maka kami tidak memberi surat teguran atau pemecatan, dan dari awal MR C tidak mengaku, dan orang tua juga keukeuh. Kami masih menunggu iktikad baik dari orang tua, tetapi justru ada berita di media," tegasnya di sekolah Komplek Villa Cibubur
Indah, Jakarta, Jumat (5/9/2014).
Guru Olahraga Herry Widodo mengatakan, penerapan kurikulum yang digunakan yakni sistem kurikulum individual. Sedangkan MR C merupakan guru Bahasa Indonesia dan menjabat sebagai asisten guru utama dari Filipina.
"Sesuai individual, jadi kalau satu kelas saja ada empat orang guru, pasti kalau dibentak atau dipukul guru lain akan melihat, guru dari luar ada dari Filipina dua orang, MR C, asisten guru dan mengajar Bahasa Indonesia, PPKN," terangnya.
Herry menyesalkan pihak orang tua yang menolak melakukan visum. "Menunggu kalau bisa selesaikan baik-baik, ya ini sudah buat pembelajaran buat kami. Iktikad baik orang tua Br akhirnya kami tunggu, tetapi malah lari ke media," tandasnya.
(mhd)