BMKG Perkirakan Musim Kemarau di Jateng, Agustus - September
Minggu, 13 Juli 2014 - 14:30 WIB
BMKG Perkirakan Musim Kemarau di Jateng, Agustus - September
A
A
A
SEMARANG - Anomali cuaca terjadi di Provinsi Jawa Tengah. Musim kemarau yang awalnya diperkirakan tiba Juni lalu, hingga sekarang belum terjadi. Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Semarang memerkirakan musim kemarau akan terjadi pada Agustus atau September.
Perbedaan cuaca juga terjadi di beberapa lokasi di Jateng. Seperti pada Minggu siang ini (13/7/2014), di Kota Semarang Kawasan Tembalang atau Semarang atas hujan turun cukup deras sekira 1 jam. Sabtu malam 12 Juni 2014 Kota Semarang juga diguyur hujan cukup deras.
Namun di Kota Tegal di saat yang sama (13/7/2014) siang, cuaca malah terik. "Tegal panas, nggak turun hujan. Semalam (12/7) juga nggak hujan," ungkap Haikal Adithya (25) warga Tegal.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Semarang, Reni Kraningtyas, mengatakan perbedaan cuaca di sejumlah wilayah di Jateng karena adanya konvergensi atau pertemuan arus angin di atas Pulau Jawa.
"Kebetuan hari ini (Minggu) juga terjadi konvergensi. Itu banyak membawa uap air, sehingga hujannya menjadi tidak menyeluruh. Sebagian pantura (pantura) hujan, juga pansela (pantai selatan) hujan, yang lain tidak," ungkapnya saat dihubungi lewat telepon selulernya, Minggu (13/7/2014).
Reni mengatakan, sebetulnya awal kemarau tak terkecuali di Jateng terjadi Juni lalu, namun karena anomali cuaca kemarau belum tiba. Salah satu penyebabnya adalah suhu permukaan di Laut Jawa masih hangat.
Ini menyebabkan penguapan yang signifikan yang akhirnya membentuk awan-awan dengan banyak uap air.
"Juga terjadi gangguan di perairan Samudera Hindia sebelah barat Sumatera ke selatan, konvergensi tadi. Untuk kemarau diperkirakan Agustus atau September sudah masuk," lanjutnya.
Hujan yang turun seperti ini memang diperkirakan Juli ini masih terjadi. Ini berarti rutinitas pemudik yang biasa terjadi, bisa saja disambut hujan saat berkendara.
"Potensi turun hujan masih ada, sesekali turun dengan intensitas ringan ke sedang," tandasnya.
Perbedaan cuaca juga terjadi di beberapa lokasi di Jateng. Seperti pada Minggu siang ini (13/7/2014), di Kota Semarang Kawasan Tembalang atau Semarang atas hujan turun cukup deras sekira 1 jam. Sabtu malam 12 Juni 2014 Kota Semarang juga diguyur hujan cukup deras.
Namun di Kota Tegal di saat yang sama (13/7/2014) siang, cuaca malah terik. "Tegal panas, nggak turun hujan. Semalam (12/7) juga nggak hujan," ungkap Haikal Adithya (25) warga Tegal.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Semarang, Reni Kraningtyas, mengatakan perbedaan cuaca di sejumlah wilayah di Jateng karena adanya konvergensi atau pertemuan arus angin di atas Pulau Jawa.
"Kebetuan hari ini (Minggu) juga terjadi konvergensi. Itu banyak membawa uap air, sehingga hujannya menjadi tidak menyeluruh. Sebagian pantura (pantura) hujan, juga pansela (pantai selatan) hujan, yang lain tidak," ungkapnya saat dihubungi lewat telepon selulernya, Minggu (13/7/2014).
Reni mengatakan, sebetulnya awal kemarau tak terkecuali di Jateng terjadi Juni lalu, namun karena anomali cuaca kemarau belum tiba. Salah satu penyebabnya adalah suhu permukaan di Laut Jawa masih hangat.
Ini menyebabkan penguapan yang signifikan yang akhirnya membentuk awan-awan dengan banyak uap air.
"Juga terjadi gangguan di perairan Samudera Hindia sebelah barat Sumatera ke selatan, konvergensi tadi. Untuk kemarau diperkirakan Agustus atau September sudah masuk," lanjutnya.
Hujan yang turun seperti ini memang diperkirakan Juli ini masih terjadi. Ini berarti rutinitas pemudik yang biasa terjadi, bisa saja disambut hujan saat berkendara.
"Potensi turun hujan masih ada, sesekali turun dengan intensitas ringan ke sedang," tandasnya.
(sms)