Warga Tetap Tolak Penutupan Dolly

Senin, 26 Mei 2014 - 12:31 WIB
Warga Tetap Tolak Penutupan...
Warga Tetap Tolak Penutupan Dolly
A A A
SURABAYA - Kendati Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memberi iming-iming pekerjaan dan modal kerja, para Pekerja Seks Komersial (PSK), mucikari, dan warga di lokalisasi Dolly tetap menolak penutupan lokalisasi tersebut. Sebab, janji-janji dari pemkot tersebut belum tentu akan membawa kehidupan yang lebih baik.

Untuk kesekian kalinya, puluhan PSK, mucikari dan warga di lokalisasi Dolly yang tergabung dalam Front Pekerja Lokalisasi (FPL), Senin, (26/5/2014) menggelar aksi unjuk rasa di Jalan Jarak. Mereka membentangkan sejumlah spanduk yang berisi penolakan terhadap lokalisasi yang konon terbesar se-Asia Tenggara. Aksi tersebut mengakibatkan arus lalu lintas di jalan yang menghubungkan antara Jalan Mayjend Sungkono dan Jalan Diponegoro menjadi tersendat. Aksi menutup jalan ini tidak berlangsung lama, sehingga tidak sampai menimbulkan kemacetan yang panjang.

Ketua Umum FPL Suyitno dengan tegas menyatakan menolak penutupan Dolly. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Surabaya sempat berencana menyalurkan para warga yang sepakat penutupan Dolly ke sebanyak 80 perusahaan. Namun, sampai saat ini, buruh pabrik masih mudah di-PHK. Selain itu, menjadi buruh pabrik juga tidak ada jaminan sosial. Bahkan, upah menjadi buruh juga masih jauh dari layak.

"Jika Wisnu (Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana) menyatakan warga sepakat penutupan Dolly, itu keliru dan salah besar. Tidak ada satu pun warga sepakat penutupan, kami semua menolak. Saya minta pernyataan Wisnu itu diklarifikasi," terangnya.

Suyitno menambahkan, jika pemkot ngotot menutup lokalisasi sebelum mampu menyejahterakan rakyat, pihaknya siap melakukan perlawanan. Jika nanti pemkot tetap melaksanakan penutupan dengan cara-cara kekerasan, pihaknya tak segan-segan melaporkan tindakan tersebut ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) maupun lembaga internasional lainnya.

"Kompensasi dari pemerintah itu bohong. Jika Dolly ditutup, maka semua tempat yang juga jadi praktik prostitusi juga harus ditutup, seperti diskotek, panti pijat, dan juga rumah karaoke remang-remang," tegasnya.
(zik)
Berita Terkait
Masih Bertahan, Penghuni...
Masih Bertahan, Penghuni Bangunan Gang Royal Rawa Bebek Resah dan Pasrah
9 Tempat Prostitusi...
9 Tempat Prostitusi Legendaris di Indonesia, Nomor 4 Terbesar di Asia Tenggara
Lokalisasi Gang Royal...
Lokalisasi Gang Royal Rawa Bebek telah Dibongkar, Ini Harapan Warga ke Pemprov DKI
Prostitusi Online-Lokalisasi...
Prostitusi Online-Lokalisasi Berkedok Karaoke Marak di Ketapang, Warga Resah
ABG Cantik asal Serang...
ABG Cantik asal Serang Dijual ke Pengelola Lokalisasi di Jakarta
3 Tempat Prostitusi...
3 Tempat Prostitusi di Jakarta yang Sudah Ditutup, 2 di Antaranya Disulap Jadi Bangunan Bermanfaat
Berita Terkini
PWI Laporkan Hotman...
PWI Laporkan Hotman Paris ke Polisi, Sahroni Yakin Diusut secara Transparan
19 menit yang lalu
Pembangunan Fakultas...
Pembangunan Fakultas Kedokteran Telkom University di Bandung Rampung
55 menit yang lalu
Program Berkelanjutan...
Program Berkelanjutan Kesehatan Jangkau Lebih dari 16.500 Orang
3 jam yang lalu
Perkuat Kolaborasi Inovasi...
Perkuat Kolaborasi Inovasi Perikanan, Bupati Bogor Tinjau Fasilitas Raiser Ikan Hias BRIN
7 jam yang lalu
Sudah 2 Tahun SDN Kebayoran...
Sudah 2 Tahun SDN Kebayoran Lama 09 Roboh, Pramono: Saya Baru Tahu Pas Viral
7 jam yang lalu
Integrasi Satuan Pendidikan,...
Integrasi Satuan Pendidikan, UIN Jakarta: Tak Bergantung pada Satu Putusan PTUN
8 jam yang lalu
Infografis
Gubernur Muzakir Manaf,...
Gubernur Muzakir Manaf, Mantan Panglima GAM yang Tolak 4 Pulau Aceh Masuk Sumut
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved