Ini kata kriminolog soal maraknya kasus paedofilia
Senin, 05 Mei 2014 - 18:22 WIB
Ini kata kriminolog soal maraknya kasus paedofilia
A
A
A
Sindonews.com - Kasus paedofilia dengan korban kekerasan seksual terhadap anak akhir-akhir ini makin mencuat. Setelah di Jakarta, kasus serupa terungkap di Sukabumi dan Sumedang.
Kriminolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yesmil Anwar, mengatakan fenomena kasus itu seperti gunung es. Kasus yang terungkap hanya sebagian kecil. Padahal kemungkinan sangat banyak terjadi kasus serupa tapi tidak mencuat ke permukaan.
"Di Indonesia ini (kasus pedofilia) bersifat seperti gunung es. Yang kelihatan itu sebagian kecil, padahal di dalamnya itu sangat-sangat banyak persoalan," kata Yesmil di Bandung, Jawa Barat, Senin (5/5/2014).
Menurutnya, anak-anak di Indonesia berbeda dengan di luar negeri, terutama di negara barat. "Anak kecil di barat yang sudah agak dewasa, disentuh siapapun kalau dia tidak mau, bisa menolak," ungkapnya.
Kondisi itu berbeda dengan anak di Indonesia yang cenderung penakut. Ketika mereka disentuh, mereka cenderung tidak melawan karena takut.
Yesmil mengatakan, pedofilia di Indonesia salah satunya didorong oleh pornografi anak terselubung di media massa. Misalnya ditampilkannya iklan anak mandi di kamar mandi. Secara umum, menurutnya fenomena pedofilia bisa terjadi di mana saja. "Bukan hanya di kota, tapi di daerah-daerah yang di mana pengetahuan tentang seksnya sangat lemah," tuturnya.
Yesmil mengingatkan soal bahayanya pedofilia, terutama bagi orangtua yang memiliki anak. "Yang terpenting adalah (memberikan) pengetahuan seks kepada anak agar mereka mengetahui masalah seksual dengan proporsional," jelasnya.
Dalam saat bersamaan, aparat penegak hukum juga diharapkan menegakkan aturan dengan tegas. "Tentunya saya ingin ada penegakkan hukum yang serius dalam rangka pencegahan (ke depan)," pungkas.
Kriminolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yesmil Anwar, mengatakan fenomena kasus itu seperti gunung es. Kasus yang terungkap hanya sebagian kecil. Padahal kemungkinan sangat banyak terjadi kasus serupa tapi tidak mencuat ke permukaan.
"Di Indonesia ini (kasus pedofilia) bersifat seperti gunung es. Yang kelihatan itu sebagian kecil, padahal di dalamnya itu sangat-sangat banyak persoalan," kata Yesmil di Bandung, Jawa Barat, Senin (5/5/2014).
Menurutnya, anak-anak di Indonesia berbeda dengan di luar negeri, terutama di negara barat. "Anak kecil di barat yang sudah agak dewasa, disentuh siapapun kalau dia tidak mau, bisa menolak," ungkapnya.
Kondisi itu berbeda dengan anak di Indonesia yang cenderung penakut. Ketika mereka disentuh, mereka cenderung tidak melawan karena takut.
Yesmil mengatakan, pedofilia di Indonesia salah satunya didorong oleh pornografi anak terselubung di media massa. Misalnya ditampilkannya iklan anak mandi di kamar mandi. Secara umum, menurutnya fenomena pedofilia bisa terjadi di mana saja. "Bukan hanya di kota, tapi di daerah-daerah yang di mana pengetahuan tentang seksnya sangat lemah," tuturnya.
Yesmil mengingatkan soal bahayanya pedofilia, terutama bagi orangtua yang memiliki anak. "Yang terpenting adalah (memberikan) pengetahuan seks kepada anak agar mereka mengetahui masalah seksual dengan proporsional," jelasnya.
Dalam saat bersamaan, aparat penegak hukum juga diharapkan menegakkan aturan dengan tegas. "Tentunya saya ingin ada penegakkan hukum yang serius dalam rangka pencegahan (ke depan)," pungkas.
(lns)