Difteri, penyakit tenggorokan mematikan ancam warga Garut
Kamis, 27 Maret 2014 - 05:01 WIB
Difteri, penyakit tenggorokan mematikan ancam warga Garut
A
A
A
Sindonews.com – Sedikitnya 24 orang warga Kampung Areng, Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Garut, Jawa Barat menjalani pemeriksaan medis setelah seorang remaja Alwan (17) meninggal karena terjangkit difteri.
Ke-24 warga diperiksa karena sempat kontak dengan Alwan sebelum meninggal akibat penyakit yang menyerang saluran pernafasan tersebut.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Garut Tatang Wahyudin mengatakan, ke-24 warga yang diperiksa kesehatannya merupakan orang-orang melakukan kontak dengan Alwan.
“Pemeriksaan yang dilakukan itu hanya mengambil sampel apus tenggorokan saja. Hasilnya baru bisa diketahui setelah uji laboratorium selesai,” kata Tatang, Rabu (26/3/2014).
Diungkapkan Tatang, pada 6 Maret 2014 lalu, penyakit difteri yang dialami oleh Alwan baru sebatas gejala. Hasil ini diketahui setelah Alwan diperiksa di Puskesmas Cikajang.
“Sampel apus tenggorokan Alwan pun diambil untuk diperiksa di Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Hasil pemeriksaan menyatakan Alwan positif terjangkit difteri. Namun hasil tersebut baru muncul setelah Alwan meninggal dunia pada 17 Maret 2014,” ujarnya.
Gejala difteri dapat diidentifikasi langsung berupa lingkaran putih yang muncul pada langit-langit rongga mulut bawah. Namun untuk lebih jelas, identifikasi yang akurat baru dapat dipastikan melalui uji laboratorium.
"Setelah dilihat statusnya, Alwan ternyata tidak pernah mendapat vaksinasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus) maupun DT (Difteri Tetanus). Masyarakat selalu takut kalau mau divaksin karena selalu mendapat efeknya, demam. Padahal gunanya untuk jangka panjang," jelasnya.
Tatang mengaku belum menerima hasil laboratorium terkait pemeriksaan ke-24 warga tersebut. Namun demikian, pihaknya pun selalu mengawasi kesehatan warga di kampung tersebut.
“Pola hidup yang kurang sehat dan daya tahan tubuh yang lemah memudahkan penyakit difteri menyebar. Bakteri difteri bisa menempel pada langit-langit rumah atau benda-benda di sekitarnya setelah tersembur dari sistem pernapasan penderital," terangnya.
Apalagi sambung dia, sebanyak 22 warga di kampung itu dinyatakan menderita scabies. Artinya pola hidup mereka kurang sehat dan kurang bersih. "Kami terus memberikan penyuluhan dan pengawasan di kampung yang tidak jauh dari pusat layanan kesehatan tersebut," urainya.
Menurutnya, difteri dapat dicegah melalui vaksin DPT I, DPT II, dan DPT III, pada usia sebelum satu tahun, serta DT yang diberikan pada masa sekolah dasar. Cigedug merupakan endemis difteri setelah kasus serupa terjadi pada 2010 lalu.
“Selain itu, Kecamatan Wanaraja dan Cisompet pun sempat menjadi kawasan endemis difteri setelah kasus serupa terjadi pada 2006 silam,” pungkasnya.
Ke-24 warga diperiksa karena sempat kontak dengan Alwan sebelum meninggal akibat penyakit yang menyerang saluran pernafasan tersebut.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Garut Tatang Wahyudin mengatakan, ke-24 warga yang diperiksa kesehatannya merupakan orang-orang melakukan kontak dengan Alwan.
“Pemeriksaan yang dilakukan itu hanya mengambil sampel apus tenggorokan saja. Hasilnya baru bisa diketahui setelah uji laboratorium selesai,” kata Tatang, Rabu (26/3/2014).
Diungkapkan Tatang, pada 6 Maret 2014 lalu, penyakit difteri yang dialami oleh Alwan baru sebatas gejala. Hasil ini diketahui setelah Alwan diperiksa di Puskesmas Cikajang.
“Sampel apus tenggorokan Alwan pun diambil untuk diperiksa di Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Hasil pemeriksaan menyatakan Alwan positif terjangkit difteri. Namun hasil tersebut baru muncul setelah Alwan meninggal dunia pada 17 Maret 2014,” ujarnya.
Gejala difteri dapat diidentifikasi langsung berupa lingkaran putih yang muncul pada langit-langit rongga mulut bawah. Namun untuk lebih jelas, identifikasi yang akurat baru dapat dipastikan melalui uji laboratorium.
"Setelah dilihat statusnya, Alwan ternyata tidak pernah mendapat vaksinasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus) maupun DT (Difteri Tetanus). Masyarakat selalu takut kalau mau divaksin karena selalu mendapat efeknya, demam. Padahal gunanya untuk jangka panjang," jelasnya.
Tatang mengaku belum menerima hasil laboratorium terkait pemeriksaan ke-24 warga tersebut. Namun demikian, pihaknya pun selalu mengawasi kesehatan warga di kampung tersebut.
“Pola hidup yang kurang sehat dan daya tahan tubuh yang lemah memudahkan penyakit difteri menyebar. Bakteri difteri bisa menempel pada langit-langit rumah atau benda-benda di sekitarnya setelah tersembur dari sistem pernapasan penderital," terangnya.
Apalagi sambung dia, sebanyak 22 warga di kampung itu dinyatakan menderita scabies. Artinya pola hidup mereka kurang sehat dan kurang bersih. "Kami terus memberikan penyuluhan dan pengawasan di kampung yang tidak jauh dari pusat layanan kesehatan tersebut," urainya.
Menurutnya, difteri dapat dicegah melalui vaksin DPT I, DPT II, dan DPT III, pada usia sebelum satu tahun, serta DT yang diberikan pada masa sekolah dasar. Cigedug merupakan endemis difteri setelah kasus serupa terjadi pada 2010 lalu.
“Selain itu, Kecamatan Wanaraja dan Cisompet pun sempat menjadi kawasan endemis difteri setelah kasus serupa terjadi pada 2006 silam,” pungkasnya.
(lns)