28 kesenian khas Cirebon punah
Senin, 24 Maret 2014 - 21:00 WIB
28 kesenian khas Cirebon punah
A
A
A
Sindonews.com - Sebanyak 28 dari 40 kesenian khas Cirebon nyaris punah. Dua di antaranya dinyatakan telah punah, sedangkan sisanya dinyatakan masih berkembang hingga kini.
Ke-28 kesenian khas Cirebon yang nyaris punah itu terdiri dari delapan kelompok kesenian, yakni enam jenis dari kelompok karawitan, satu dari seni teater, empat dari pedalangan, satu dari musik, lima dari seni tari, dua dari seni sastra, satu dari seni rupa, dan delapan jenis dari seni pertunjukan rakyat.
Sementara dua jenis kesenian yang dinyatakan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Cirebon telah punah masing-masing tunil yang termasuk kelompok seni teater, serta wayang catur dari kelompok pedalangan.
“Dahulu ragam kesenian khas Cirebon diminati banyak orang, baik lokal maupun mancanegara. Di antaranya tarling, masres (sandiwara), genjring, namun sekarang beberapa nyaris punah bahkan ada yang punah,” papar Kepala Disbudparpora Kabupaten Cirebon Asdullah, Senin (24/3/2014).
Kondisi itu, dikatakan dia, tak lepas dari semakin sepinya pementasan kesenian-kesenian khas. Maraknya budaya pop di tengah masyarakat, seperti halnya organ tunggal, telah menggeser popularitas kesenian daerah hingga mengakibatkannya di ambang keterpunahan.
Masyarakat kini cenderung lebih menyukai menampilkan organ tunggal pada event-event istimewa mereka. Padahal, biaya sewa organ tunggal maupun pertunjukan pop lainnya terhitung lebih mahal.
Menurut dia, masyarakat harus lebih didorong mencintai kesenian Cirebon. Untuk ini, pihaknya sendiri mengupayakan pelestarian melalui pementasan-pementasan kesenian khas Cirebon dalam setiap event, baik di tingkat desa hingga daerah.
“Kesenian tradisional mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Kami harap masyarakat membesarkannya agar Cirebon tetap menjadi kota budaya dan pariwisata,” pungkas dia.
Sementara itu, Kepala Seksi Kesenian Bidang Kebudayaan Disbudparpora Uuk Sukarna menyatakan, setidaknya ada sepuluh kesenian khas Cirebon yang masih berkembang. Terdiri dari wayang kulit purwa, tari topeng Cirebon, lukis kaca, sungging wayang kulit, ukir kedok, pahat ukir batu (prasasti), tekes, batik trusmi, kaligrafi, dan burok.
“Sedangkan yang nyaris punah di antaranya karawitan Cirebon, gemyung, wayang golek purwa, sandiwara, tarling klasik, angklung bungko, dan masih banyak lagi,” ungkap dia.
Ke-28 kesenian khas Cirebon yang nyaris punah itu terdiri dari delapan kelompok kesenian, yakni enam jenis dari kelompok karawitan, satu dari seni teater, empat dari pedalangan, satu dari musik, lima dari seni tari, dua dari seni sastra, satu dari seni rupa, dan delapan jenis dari seni pertunjukan rakyat.
Sementara dua jenis kesenian yang dinyatakan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Cirebon telah punah masing-masing tunil yang termasuk kelompok seni teater, serta wayang catur dari kelompok pedalangan.
“Dahulu ragam kesenian khas Cirebon diminati banyak orang, baik lokal maupun mancanegara. Di antaranya tarling, masres (sandiwara), genjring, namun sekarang beberapa nyaris punah bahkan ada yang punah,” papar Kepala Disbudparpora Kabupaten Cirebon Asdullah, Senin (24/3/2014).
Kondisi itu, dikatakan dia, tak lepas dari semakin sepinya pementasan kesenian-kesenian khas. Maraknya budaya pop di tengah masyarakat, seperti halnya organ tunggal, telah menggeser popularitas kesenian daerah hingga mengakibatkannya di ambang keterpunahan.
Masyarakat kini cenderung lebih menyukai menampilkan organ tunggal pada event-event istimewa mereka. Padahal, biaya sewa organ tunggal maupun pertunjukan pop lainnya terhitung lebih mahal.
Menurut dia, masyarakat harus lebih didorong mencintai kesenian Cirebon. Untuk ini, pihaknya sendiri mengupayakan pelestarian melalui pementasan-pementasan kesenian khas Cirebon dalam setiap event, baik di tingkat desa hingga daerah.
“Kesenian tradisional mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Kami harap masyarakat membesarkannya agar Cirebon tetap menjadi kota budaya dan pariwisata,” pungkas dia.
Sementara itu, Kepala Seksi Kesenian Bidang Kebudayaan Disbudparpora Uuk Sukarna menyatakan, setidaknya ada sepuluh kesenian khas Cirebon yang masih berkembang. Terdiri dari wayang kulit purwa, tari topeng Cirebon, lukis kaca, sungging wayang kulit, ukir kedok, pahat ukir batu (prasasti), tekes, batik trusmi, kaligrafi, dan burok.
“Sedangkan yang nyaris punah di antaranya karawitan Cirebon, gemyung, wayang golek purwa, sandiwara, tarling klasik, angklung bungko, dan masih banyak lagi,” ungkap dia.
(san)