Pelajar diminta selektif konsumsi jajanan di sekolah
Jum'at, 21 Maret 2014 - 16:29 WIB
Pelajar diminta selektif konsumsi jajanan di sekolah
A
A
A
Sindonews.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia meminta masyarakat khususnya pelajar lebih selektif dalam mengonsumsi panganan atau jajanan yang biasa dijual di sekolah - sekolah.
Sebab, seringkali produk siap konsumsi itu mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan. Tak terkecuali jajanan - jajanan dalam jenis es, yang kerap diminum kalangan pelajar, terutama sekolah dasar (SD).
Kepala BPOM RI, Roy Sparingga, mengatakan dalam berbagai temuannya jajanan termasuk es itu kerap mengandung mikroba yang kemungkinan patogen atau menyebabkan penyakit. Itu selain bahan bakunya yang berbahaya bagi kesehatan.
"Untuk es misalnya, itu sejak awal produksinya kadang sudah tidak bersih. Aneka jajanan juga kerap ditemukan mengandung bahan berbahaya, mulai formalin hingga boraks," ungkapnya saat bertemu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di Kompleks Gubernuran Kota Semarang, Jumat
(21/3/2014).
Pada pertemuan dengan Ganjar itu dilakukan penandatanganan MoU antara BBPOM Semarang dengan tujuh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Provinsi Jawa Tengah untuk lima tahun ke depan.
Masing - masing; Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Koperasi dan UMKM, Badan Ketahanan Pangan, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Itu diharapkan dapat melakukan kerja sama dalam berbagai sektor. Di antaranya; keamanan produk olahan pangan dari perikanan, obat tradisional, pengawasan jajanan di sekolah hingga distribusi
kefarmasian dan kasus - kasus luar biasa seperti keracunan.
"Untuk jajanan yang di sekolah - sekolah itu biasanya memang penjualnya tidak tahu. Dan saya kira pembinaan akan lebih baik, selain tentu saja sanksi sosial. Misalnya diboikot masyarakat. Kami akan
kejar siapa aktor intelektualnya dan diproses sesuai ketentuan. Kami punya 449 PPNS (penyidik pegawai negeri sipil)," bebernya.
Untuk Jawa Tengah, kata Roy, adalah sentra pembuatan jamu dan obat tradisional. Potensinya sangat besar. Namun, sangat disayangkan jika tidak memerhatikan faktor keamanan konsumsinya.
"Ini adalah program yang melibatkan masyarakat, yang juga harus mandiri ikut mengawasi. Kami berharap kerjasama ini (dengan Provinsi Jawa Tengah) bisa berjalan dengan baik," katanya.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, tak menampik masih adanya aneka jajanan berbahaya di sekolah - sekolah tak terkecuali adanya industri - industri yang memproduksi jamu tradisional berbahaya bagi kesehatan.
"Saya menyambut baik kerjasama semacam ini. Pendekatan kultural yaitu secara sosiologis dan psikologis sangat penting dilakukan untuk persoalan ini," tandasnya.
Sebab, seringkali produk siap konsumsi itu mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan. Tak terkecuali jajanan - jajanan dalam jenis es, yang kerap diminum kalangan pelajar, terutama sekolah dasar (SD).
Kepala BPOM RI, Roy Sparingga, mengatakan dalam berbagai temuannya jajanan termasuk es itu kerap mengandung mikroba yang kemungkinan patogen atau menyebabkan penyakit. Itu selain bahan bakunya yang berbahaya bagi kesehatan.
"Untuk es misalnya, itu sejak awal produksinya kadang sudah tidak bersih. Aneka jajanan juga kerap ditemukan mengandung bahan berbahaya, mulai formalin hingga boraks," ungkapnya saat bertemu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di Kompleks Gubernuran Kota Semarang, Jumat
(21/3/2014).
Pada pertemuan dengan Ganjar itu dilakukan penandatanganan MoU antara BBPOM Semarang dengan tujuh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Provinsi Jawa Tengah untuk lima tahun ke depan.
Masing - masing; Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Koperasi dan UMKM, Badan Ketahanan Pangan, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Itu diharapkan dapat melakukan kerja sama dalam berbagai sektor. Di antaranya; keamanan produk olahan pangan dari perikanan, obat tradisional, pengawasan jajanan di sekolah hingga distribusi
kefarmasian dan kasus - kasus luar biasa seperti keracunan.
"Untuk jajanan yang di sekolah - sekolah itu biasanya memang penjualnya tidak tahu. Dan saya kira pembinaan akan lebih baik, selain tentu saja sanksi sosial. Misalnya diboikot masyarakat. Kami akan
kejar siapa aktor intelektualnya dan diproses sesuai ketentuan. Kami punya 449 PPNS (penyidik pegawai negeri sipil)," bebernya.
Untuk Jawa Tengah, kata Roy, adalah sentra pembuatan jamu dan obat tradisional. Potensinya sangat besar. Namun, sangat disayangkan jika tidak memerhatikan faktor keamanan konsumsinya.
"Ini adalah program yang melibatkan masyarakat, yang juga harus mandiri ikut mengawasi. Kami berharap kerjasama ini (dengan Provinsi Jawa Tengah) bisa berjalan dengan baik," katanya.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, tak menampik masih adanya aneka jajanan berbahaya di sekolah - sekolah tak terkecuali adanya industri - industri yang memproduksi jamu tradisional berbahaya bagi kesehatan.
"Saya menyambut baik kerjasama semacam ini. Pendekatan kultural yaitu secara sosiologis dan psikologis sangat penting dilakukan untuk persoalan ini," tandasnya.
(lns)