Psikolog: Pemilik pistol tak kuasai emosi
Kamis, 20 Maret 2014 - 06:30 WIB
Psikolog: Pemilik pistol tak kuasai emosi
A
A
A
Sindonews.com - Kasus tewasnya Kepala Denma AKBP Pamudji di Polda Metro Jaya terbukti bahwa pemegang pistol dalam kasus ini tidak memiliki pengontrolan emosi yang matang. Pasalnya, pemegang senjata itu hanya mengedepankan emosi dan tidak berpikir panjang serta akibat dari perbuatannya tersebut.
"Dari kasus tersebut bisa dilihat bahwa pelakunya hanya matang secara kognitif, tetapi dari psikologinya belum. Dia tidak memiliki bekal untuk menganalisis suatu masalah dengan cukup matang," kata Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Diennaryati Tjokrosuprihatono kepada Sindo, Rabu 19 Maret 2014.
Perkembangan moral pelaku juga tidak sesuai dengan usianya. Pelaku tidak bisa mengambil keputusan dengan matang. Dengan kata lain, secara impulsif dia hanya mengikuti perasaan tanpa melakukan perimbangan matang dalam mengambil keputusan.
"Dia bersifat impulsif dan reaktif. Karena untuk menembak itu bukan hal mudah seharusnya mengingat risiko yang harus ditanggungnya nanti. Tapi itu tetap dilakukan. Ini menandakan tingkat moralnya rendah dan bersifat impulsif," tutupnya.
Seperti diberitakan Sindonews, Kepala Denma AKBP Pamudji tewas akibat tembakan di pelipis sebelah kiri di kantor Pelayanan Markas (Yanma) Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa 18 Maret 2014 malam.
Kasus penembakan itu juga bertepatan dengan acara pisah sambut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Dwi Priyatno baru dengan yang lama Irjen Pol Putut Eko Bayuseno di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan.
Baca:
Polisi pemegang senpi harus dievaluasi
"Dari kasus tersebut bisa dilihat bahwa pelakunya hanya matang secara kognitif, tetapi dari psikologinya belum. Dia tidak memiliki bekal untuk menganalisis suatu masalah dengan cukup matang," kata Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Diennaryati Tjokrosuprihatono kepada Sindo, Rabu 19 Maret 2014.
Perkembangan moral pelaku juga tidak sesuai dengan usianya. Pelaku tidak bisa mengambil keputusan dengan matang. Dengan kata lain, secara impulsif dia hanya mengikuti perasaan tanpa melakukan perimbangan matang dalam mengambil keputusan.
"Dia bersifat impulsif dan reaktif. Karena untuk menembak itu bukan hal mudah seharusnya mengingat risiko yang harus ditanggungnya nanti. Tapi itu tetap dilakukan. Ini menandakan tingkat moralnya rendah dan bersifat impulsif," tutupnya.
Seperti diberitakan Sindonews, Kepala Denma AKBP Pamudji tewas akibat tembakan di pelipis sebelah kiri di kantor Pelayanan Markas (Yanma) Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa 18 Maret 2014 malam.
Kasus penembakan itu juga bertepatan dengan acara pisah sambut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Dwi Priyatno baru dengan yang lama Irjen Pol Putut Eko Bayuseno di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan.
Baca:
Polisi pemegang senpi harus dievaluasi
(mhd)