Alasan remaja mulai bertindak nekat
Sabtu, 15 Maret 2014 - 11:17 WIB
Alasan remaja mulai bertindak nekat
A
A
A
Sindonews.com - Banyaknya kasusu kekerasan yang melibatkan remaja belakangan ini membuat miris semua pihak. Kondisi ini ditengarai karena hilangnya hati nurani dan norma kehidupan.
Sosiolog dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), Raphy Uli Tobing mengatakan, pemicu mudahnya anak melakukan kekerasan karena hati nurani tidak dipakai dan hilangnya norma kehidupan.
"Mereka menggunakan kekuatan sebagai penentu siapa yang berkuasa, dan itu bukan panutan yang baik," kata Raphy saat dihubungi, Sabtu (15/3/2014).
Lebih mengkhawatirkan lagi, terangnya, remaja sudah tidak takut akan sanksi hukum karena hukum bisa dibeli. Ini didapat berdasarkan pengalaman yang dilihat disekitar mereka.
Mantan Rektor UKI ini menambahkan, Indonesia merupakan negara materialisme yang semua ditentukan dengan uang. Sementara saat ini perkembangan jaman juga lebih mementingkan kepuasan semu.
"Sekarang orang hanya mencari kepuasan sementara, tanpa memikirkan nilai kemanusiaan, hati nurani dan moral," katanya.
Sayangnya, remaja Indonesia sekarang hidup dalam jaman yang seperti itu.
Kondisi ini diperparah dengan sistem pendidikan yang amburadul dan buruknya ahlak oknum gru terhadap siswanya.
"Guru memberikan pembelajaran hanya dengan ucapan saja tanpa ada perbuatan yang baik dan bisa dicontoh," imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan, mahasiswi Universitas Bunda Mulia tewas ditangan mantan kekasihnya karena alasan cemburu.
Kasus serupa juga terjadi di Cilandak, Jakarta Selatan, seorang ABG tewas ditangan mantan kekasihnya karena wanita yang dicintainya menjalin kasih dengan pemuda lain.
Sosiolog dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), Raphy Uli Tobing mengatakan, pemicu mudahnya anak melakukan kekerasan karena hati nurani tidak dipakai dan hilangnya norma kehidupan.
"Mereka menggunakan kekuatan sebagai penentu siapa yang berkuasa, dan itu bukan panutan yang baik," kata Raphy saat dihubungi, Sabtu (15/3/2014).
Lebih mengkhawatirkan lagi, terangnya, remaja sudah tidak takut akan sanksi hukum karena hukum bisa dibeli. Ini didapat berdasarkan pengalaman yang dilihat disekitar mereka.
Mantan Rektor UKI ini menambahkan, Indonesia merupakan negara materialisme yang semua ditentukan dengan uang. Sementara saat ini perkembangan jaman juga lebih mementingkan kepuasan semu.
"Sekarang orang hanya mencari kepuasan sementara, tanpa memikirkan nilai kemanusiaan, hati nurani dan moral," katanya.
Sayangnya, remaja Indonesia sekarang hidup dalam jaman yang seperti itu.
Kondisi ini diperparah dengan sistem pendidikan yang amburadul dan buruknya ahlak oknum gru terhadap siswanya.
"Guru memberikan pembelajaran hanya dengan ucapan saja tanpa ada perbuatan yang baik dan bisa dicontoh," imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan, mahasiswi Universitas Bunda Mulia tewas ditangan mantan kekasihnya karena alasan cemburu.
Kasus serupa juga terjadi di Cilandak, Jakarta Selatan, seorang ABG tewas ditangan mantan kekasihnya karena wanita yang dicintainya menjalin kasih dengan pemuda lain.
(ysw)