Pengadaan bus Transjakarta buktikan pengawasan Jokowi lemah
Kamis, 13 Maret 2014 - 19:45 WIB
Pengadaan bus Transjakarta buktikan pengawasan Jokowi lemah
A
A
A
Sindonews.com - Mencuatnya isu jika mantan Tim Sukses Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) ikut terlibat dalam kasus pengadaan bus Transjakarta berkarat membuktikan pengawasan Jokowi lemah.
Terlebih, Bimo diduga pernah ke Ankai, China untuk memantau proses pengadaan bus.
Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna mengatakan kasus pengadaan bus yang diduga melibatkan mantan timses Jokowi membuat citra gubernur tercoreng.
"Ini merupakan bukti jika pengawasan Jokowi masih sangat lemah," kata Yayat saat dihubungi wartawan, Kamis (13/3/2014).
Yayat menjelaskan, Jokowi dan wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja purnama saat ini merasa dipermainkan oleh para pejabat di lingkungan Pemprov DKI.
Ditambah dengan adanya kasus tersebut, kemungkinan besar menjadi bukti kelemahan sistem pengawasan yang dilakukan Jokowi.
"Itu jelas pengawasan lemah. Mereka seakan-akan dipermainkan sama anak buah. Kenapa bisa begitu? Karena pengawasannya lemah," ujarnya.
Seperti diketahui, nama Michael Bimo mencuat lantaran kasus pengadaan bus Transjakarta dan BKTB senilai Rp 1,5 triliun tidak sesuai dengan kondisi yang ditermia Pemrov DKI. Untuk memenangkan tender pengadaan, Bimo diduga menjual nama Jokowi.
Baca juga:
Pengakuan Bimo soal bus Transjakarta
Terlebih, Bimo diduga pernah ke Ankai, China untuk memantau proses pengadaan bus.
Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna mengatakan kasus pengadaan bus yang diduga melibatkan mantan timses Jokowi membuat citra gubernur tercoreng.
"Ini merupakan bukti jika pengawasan Jokowi masih sangat lemah," kata Yayat saat dihubungi wartawan, Kamis (13/3/2014).
Yayat menjelaskan, Jokowi dan wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja purnama saat ini merasa dipermainkan oleh para pejabat di lingkungan Pemprov DKI.
Ditambah dengan adanya kasus tersebut, kemungkinan besar menjadi bukti kelemahan sistem pengawasan yang dilakukan Jokowi.
"Itu jelas pengawasan lemah. Mereka seakan-akan dipermainkan sama anak buah. Kenapa bisa begitu? Karena pengawasannya lemah," ujarnya.
Seperti diketahui, nama Michael Bimo mencuat lantaran kasus pengadaan bus Transjakarta dan BKTB senilai Rp 1,5 triliun tidak sesuai dengan kondisi yang ditermia Pemrov DKI. Untuk memenangkan tender pengadaan, Bimo diduga menjual nama Jokowi.
Baca juga:
Pengakuan Bimo soal bus Transjakarta
(ysw)