Dapur magma Kelud & Slamet berbeda
Kamis, 13 Maret 2014 - 06:01 WIB
Dapur magma Kelud & Slamet berbeda
A
A
A
Sindonews.com - Pasca naiknya status Gunung Slamet dari Normal menjadi Waspada, muncul beragam pendapat yang datang dari banyak kalangan. Sebagian masyarakat percaya jika aktivitas Gunung Slamet terkait dengan aktivitas Gunung Kelud pasca letusan.
Namun, hal itu dibantah Kepala Bidang Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Gerakan Tanah PVMBG, Gede Suantika. Menurutnya, setiap gunung berapi selalu memiliki dapur magma yang berbeda-beda.
"Berdasarkan kajian, sistem dapur magma bersifat independen. Artinya, aktivitas satu gunung dengan gunung lainnya tidak saling mempengaruhi. Setiap gunung memiliki dapur magmanya sendiri-sendiri," tutur Gede Suantika kepada SINDOnews.com, Kamis (13/3/2014).
Terkait aktivitas gunung berapi yang dipantau berulang, seperti Gunung Slamet dengan siklus lima tahunnya, Gede menyatakan jika aktivitas tersebut merupakan periode ulang aktivitas gunung.
"Bila ada siklus tahunan, itu merupakan bagian dari sistem periode ulang. Aktivitas gunung api tergantung pada pergerakan magma dari dapur magma ke permukaan," tuturnya.
Disebutkannya, magma di Gunung Slamet dan deretan gunung api di sepanjang Pulau Jawa dan Sumatera berasal dari lelehan lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia ketika bertumbukan.
Kendati demikian, dirinya mengatakan jika masyarakat tak perlu khawatir dengan kondisi saat ini. Dia menyarankan, masyarakat agar peka dan mengikuti arahan yang dikeluarkan petugas berwenang. Seperti mentaati larangan tak beraktivitas dari zona steril radius 2 km.
Baca:
Meski terlihat tenang, Gunung Slamet tetap berbahaya
Gunung Slamet semburkan asap hitam
Meski indah, Gunung Slamet terkenal angker
Cerita rakyat, asal-usul Gunung Slamet
Takut meletus, warga berduyun-duyun pantau Gunung Slamet
Namun, hal itu dibantah Kepala Bidang Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Gerakan Tanah PVMBG, Gede Suantika. Menurutnya, setiap gunung berapi selalu memiliki dapur magma yang berbeda-beda.
"Berdasarkan kajian, sistem dapur magma bersifat independen. Artinya, aktivitas satu gunung dengan gunung lainnya tidak saling mempengaruhi. Setiap gunung memiliki dapur magmanya sendiri-sendiri," tutur Gede Suantika kepada SINDOnews.com, Kamis (13/3/2014).
Terkait aktivitas gunung berapi yang dipantau berulang, seperti Gunung Slamet dengan siklus lima tahunnya, Gede menyatakan jika aktivitas tersebut merupakan periode ulang aktivitas gunung.
"Bila ada siklus tahunan, itu merupakan bagian dari sistem periode ulang. Aktivitas gunung api tergantung pada pergerakan magma dari dapur magma ke permukaan," tuturnya.
Disebutkannya, magma di Gunung Slamet dan deretan gunung api di sepanjang Pulau Jawa dan Sumatera berasal dari lelehan lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia ketika bertumbukan.
Kendati demikian, dirinya mengatakan jika masyarakat tak perlu khawatir dengan kondisi saat ini. Dia menyarankan, masyarakat agar peka dan mengikuti arahan yang dikeluarkan petugas berwenang. Seperti mentaati larangan tak beraktivitas dari zona steril radius 2 km.
Baca:
Meski terlihat tenang, Gunung Slamet tetap berbahaya
Gunung Slamet semburkan asap hitam
Meski indah, Gunung Slamet terkenal angker
Cerita rakyat, asal-usul Gunung Slamet
Takut meletus, warga berduyun-duyun pantau Gunung Slamet
(rsa)