Mediasi tak berfungsi, orang mudah stres
Senin, 10 Maret 2014 - 12:08 WIB
Mediasi tak berfungsi, orang mudah stres
A
A
A
Sindonews.com - Berbagai tindakan negatif yang terjadi dikalangan masyarakat membuktikan fungsi mediasi yang tak berjalan dengan baik. Salah satunya, kasus pembunuhan Ade Sara Angelina yang dilakukan mantan pacarnya Ahmad Imam Al Hafitd.
Menurut kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Iqrak Sulhin, hal itu karena fungsi mediasi yang tidak ada. Makanya, kasus pembunuhan tersebut terjadi.
"Dalam satu masalah, ketika ada peranan mediasi bisa jadi tindak negatif bisa terhenti atau dihentikan," kata kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Iqrak Sulhin, Senin (10/3/2014).
Dia memaparkan, dalam tatanan masyarakat saat ini, ada individu yang bisa toleran terhadap satu masalah sehingga dia tidak mengalami stres. Namun, ada juga yang tidak memiliki rasa toleran terhadap suatu masalah sehingga mengalami stres ketika menghadapinya.
"Misalnya, individu X memiliki toleransi tinggi terhadap satu masalah. Dan dia tidak terserang stres. Namun individu Y tidak memiliki toleransi tinggi terhadap masalah yang sama. Individu ini yang terserang stres dan bisa jadi bertindak negatif," terangnya.
Maka itu, kata Iqrak, hal tersebut akan menimbulkan sifat egosentris. Karena, individu tersebut memiliki pemikiran yang tak perduli terhadap permasalahan orang lain.
"Secara teori, telah terjadi dis organisasi sosial sehingga memunculkan sifat egosentris, individual dan tidak peduli," katanya.
Baca:
Hafitd & Assyifa disarankan diperiksa kejiwaannya
Menurut kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Iqrak Sulhin, hal itu karena fungsi mediasi yang tidak ada. Makanya, kasus pembunuhan tersebut terjadi.
"Dalam satu masalah, ketika ada peranan mediasi bisa jadi tindak negatif bisa terhenti atau dihentikan," kata kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Iqrak Sulhin, Senin (10/3/2014).
Dia memaparkan, dalam tatanan masyarakat saat ini, ada individu yang bisa toleran terhadap satu masalah sehingga dia tidak mengalami stres. Namun, ada juga yang tidak memiliki rasa toleran terhadap suatu masalah sehingga mengalami stres ketika menghadapinya.
"Misalnya, individu X memiliki toleransi tinggi terhadap satu masalah. Dan dia tidak terserang stres. Namun individu Y tidak memiliki toleransi tinggi terhadap masalah yang sama. Individu ini yang terserang stres dan bisa jadi bertindak negatif," terangnya.
Maka itu, kata Iqrak, hal tersebut akan menimbulkan sifat egosentris. Karena, individu tersebut memiliki pemikiran yang tak perduli terhadap permasalahan orang lain.
"Secara teori, telah terjadi dis organisasi sosial sehingga memunculkan sifat egosentris, individual dan tidak peduli," katanya.
Baca:
Hafitd & Assyifa disarankan diperiksa kejiwaannya
(mhd)