Motif Hafitd bunuh Sara dinilai tak masuk akal
Senin, 10 Maret 2014 - 10:20 WIB
Motif Hafitd bunuh Sara dinilai tak masuk akal
A
A
A
Sindonews.com - Motif pembunuhan yang dilakukan Ahmad Imam Al Hafitd (19), untuk menghabisi nyawa Ade Sara Angelina Suroto (19), dinilai tidak masuk akal. Karena, korban ogah berkomunikasi setelah putus berpacaran dari pelaku merupakan hal yang lumrah.
"Ya menurut saya ketika korban memilih untuk tidak berkomunikasi itu bukan masalah. Tapi dipersepsikan sebagai masalah oleh pelaku. Ini yang saya katakan tidak masuk akal," kata kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Iqrak Sulhin, Senin (10/3/2014).
Iqrak memaparkan, setiap kasus pembunuhan yang pelakunya tega menghabisi nyawa korbannya memiliki masalah interpersonal. Di antaranya, sambung dia, adanya hubungan keluarga, pertemanan dan persoalan cinta.
"Dalam ilmu krimonologi selalu berkaitan antara pembunuhan dengan hubungan interpersonal," kata dia.
Persoalan interpersonal muncul disebabkan dua hal. Pertama, kata Iqrak, saat bercanda pelaku merasa tersinggu dengan ocehan orang lain, dan itu akan dianggap masalah. Padahal, menurut orang lain hal itu hanya sebuah bercandaan.
"Dalam konteks bercanda misalnya muncul atau tercetus kalimat yang menyinggung menurut pelaku. Padahal, menurut orang lain itu bukanlah masalah," tukasnya.
Dalam kaitan kasus pembunuhan Ade Sara, kata Iqrak, pelaku membunuh Sara hanya karena korban tidak mau bertemu dengan Hafitd. Padahal, kata dia, hal itu merupakan hal lumrah ketika seseorang tidak mau berkomunikasi dengan orang di masa lalunya.
"Ini yang saya maksud sebagai hal yang diartikan sebagai masalah oleh pelaku tapi kalau dilihat secara umum itu sebagai hal wajar," tukasnya.
Kedua, kondisi dimana memang ada personalan konkret dalam hubungan antara pelaku dengan korban. Misalnya, persoalan selisih dalam usaha, harta warisan atau memang ada peristiwa dimana seseorang menjadi subyek hinaan oleh masyarakat.
"Tindak kekerasan yang disertai pembunuhan itu terkait dengan adanya latar belakang kebencian, balas dendam dan sakit hati," ujarnya.
Baca:
Sudah putus, Ade Sara ogah bertemu Hafitd
Ade Sara dari disiksa, disetrum hingga digigit
Ada motif lain dibalik pembunuhan Sara
"Ya menurut saya ketika korban memilih untuk tidak berkomunikasi itu bukan masalah. Tapi dipersepsikan sebagai masalah oleh pelaku. Ini yang saya katakan tidak masuk akal," kata kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Iqrak Sulhin, Senin (10/3/2014).
Iqrak memaparkan, setiap kasus pembunuhan yang pelakunya tega menghabisi nyawa korbannya memiliki masalah interpersonal. Di antaranya, sambung dia, adanya hubungan keluarga, pertemanan dan persoalan cinta.
"Dalam ilmu krimonologi selalu berkaitan antara pembunuhan dengan hubungan interpersonal," kata dia.
Persoalan interpersonal muncul disebabkan dua hal. Pertama, kata Iqrak, saat bercanda pelaku merasa tersinggu dengan ocehan orang lain, dan itu akan dianggap masalah. Padahal, menurut orang lain hal itu hanya sebuah bercandaan.
"Dalam konteks bercanda misalnya muncul atau tercetus kalimat yang menyinggung menurut pelaku. Padahal, menurut orang lain itu bukanlah masalah," tukasnya.
Dalam kaitan kasus pembunuhan Ade Sara, kata Iqrak, pelaku membunuh Sara hanya karena korban tidak mau bertemu dengan Hafitd. Padahal, kata dia, hal itu merupakan hal lumrah ketika seseorang tidak mau berkomunikasi dengan orang di masa lalunya.
"Ini yang saya maksud sebagai hal yang diartikan sebagai masalah oleh pelaku tapi kalau dilihat secara umum itu sebagai hal wajar," tukasnya.
Kedua, kondisi dimana memang ada personalan konkret dalam hubungan antara pelaku dengan korban. Misalnya, persoalan selisih dalam usaha, harta warisan atau memang ada peristiwa dimana seseorang menjadi subyek hinaan oleh masyarakat.
"Tindak kekerasan yang disertai pembunuhan itu terkait dengan adanya latar belakang kebencian, balas dendam dan sakit hati," ujarnya.
Baca:
Sudah putus, Ade Sara ogah bertemu Hafitd
Ade Sara dari disiksa, disetrum hingga digigit
Ada motif lain dibalik pembunuhan Sara
(mhd)