Psikolog sebut pembunuh Sara psikopat
Minggu, 09 Maret 2014 - 23:49 WIB
Psikolog sebut pembunuh Sara psikopat
A
A
A
Sindonews.com - Tidak adanya rasa penyesalan dalam diri Hafitd dan Assyifa yang diduga membunuh Ade Sara Anggelina Suroto (19) secara spikologis bisa disebut seorang psikopat.
Psikolog UI Bagus Takwin menduga ada indikasi pelaku adalah psikopat. Artinya, dia tidak bisa mengenali emosi diri sendiri.
Seorang psikopat biasanya memiliki rasa empati yang rendah karena tidak mampu menempatkan diri pada situasi orang lain.
"Dengan kata lain, psikopat itu tidak peka atau mati rasa dan tidak memiliki hati nurani," kata Bagus ketika dihubungi Minggu (9/3/2014).
Untuk mencegah seseorang bertindak agresif hingga melakukan pembunuhan, kata Bagus, maka harus dilatih sejak kecil. Caranya, memberi pelajaran untuk bisa merasakan emosi negatif. Memberi pelajaran bahwa segala sesuatu yang diinginkan belum tentu tercapai.
"Rasa sakit dan tidak nyaman itu sebenarnya alarm kita untuk menjadi survive," paparnya.
Semakin seringnya seseorang mendapatkan rasa sakit bisa dipastikan dia menjadi pribadi tangguh.
"Dalam teori kognitif, rasa sakit dan tidak nyaman dipersepsikan tidak enak dan memerlukan pelampiasan," tukasnya.
Dalam kondisi tersebut, yang mungkin terjadi adalah dominasi emosi. Sehingga pikiran dan perasaan tidak bekerja lagi. Artinya, antara kehendak dan perasaan tidak bisa mengubah sikap.
"Dalam situasi itu, hanya emosi yang berperan. Dan kalau emosi sudah dominan maka kehendak dan perasaan sudah tidak bekerja," tutupnya.
Baca juga:
Pelaku taruh kertas 'mampus lo' di peti Sara?
Hafitd & Assyifa tak menyesal bunuh Sara
Psikolog UI Bagus Takwin menduga ada indikasi pelaku adalah psikopat. Artinya, dia tidak bisa mengenali emosi diri sendiri.
Seorang psikopat biasanya memiliki rasa empati yang rendah karena tidak mampu menempatkan diri pada situasi orang lain.
"Dengan kata lain, psikopat itu tidak peka atau mati rasa dan tidak memiliki hati nurani," kata Bagus ketika dihubungi Minggu (9/3/2014).
Untuk mencegah seseorang bertindak agresif hingga melakukan pembunuhan, kata Bagus, maka harus dilatih sejak kecil. Caranya, memberi pelajaran untuk bisa merasakan emosi negatif. Memberi pelajaran bahwa segala sesuatu yang diinginkan belum tentu tercapai.
"Rasa sakit dan tidak nyaman itu sebenarnya alarm kita untuk menjadi survive," paparnya.
Semakin seringnya seseorang mendapatkan rasa sakit bisa dipastikan dia menjadi pribadi tangguh.
"Dalam teori kognitif, rasa sakit dan tidak nyaman dipersepsikan tidak enak dan memerlukan pelampiasan," tukasnya.
Dalam kondisi tersebut, yang mungkin terjadi adalah dominasi emosi. Sehingga pikiran dan perasaan tidak bekerja lagi. Artinya, antara kehendak dan perasaan tidak bisa mengubah sikap.
"Dalam situasi itu, hanya emosi yang berperan. Dan kalau emosi sudah dominan maka kehendak dan perasaan sudah tidak bekerja," tutupnya.
Baca juga:
Pelaku taruh kertas 'mampus lo' di peti Sara?
Hafitd & Assyifa tak menyesal bunuh Sara
(ysw)