Bunuh diri masal, Lina simpan pesan untuk Tuhan
Jum'at, 07 Maret 2014 - 17:23 WIB
Bunuh diri masal, Lina simpan pesan untuk Tuhan
A
A
A
Sindonews.com - Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah memastikan insiden bunuh diri bersama yang dilakukan satu keluarga di Pekalongan dan Cirebon, dilatarbelakangi masalah piutang.
Kapolda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Dwi Priyatno mengatakan, hal itu didasarkan keterangan-keterangan yang terus digali. "Ada pesan singkat di telepon seluler salah satu korban di Pekalongan. Masalah ekonomi, ada hutang yang harus dibayar," katanya, Jumat (7/3/2014).
Hutang itu, kata Dwi, ditagih oleh yang meminjamkannya. Namun korban merasa tidak mampu melunasi, sehingga nekat bunuh diri. "Korban merasa tertekan melunasi hutangnya, mencari keputusan yang tidak kita harapkan (bunuh diri)," lanjutnya.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol A Liliek Darmanto mengatakan, dari telepon seluler korban Lina, ditemukan pesan singkat, namun belum terkirim.
"Pesannya ditujukan pada Tuhan. Mengungkapkan kalau sudah tidak kuat jalani hidup. Surat kepada Tuhan, pesannya pendek. Yang intinya tidak kuat hidup," tambahnya saat ditemui di kantornya.
Kematian korban, kata Liliek, tidak ada unsur pemaksaan minum cairan porselen atas para korban. "Misalnya dipaksa dengan dicekik. Itu tidak ada. Korban murni meninggal dunia karena bunuh diri," tambahnya.
Kasus itu adalah aksi bunuh diri satu keluarga asal Pekalongan, plus seorang teman wanita salah satu korban, yang ikut kritis. Bunuh diri itu dilakukan di dua lokasi berbeda, dalam rentang waktu hampir bersamaan pada Kamis 27 Februari di Pekalongan, Jawa Tengah dan Jumat 28 Februari, di Cirebon, Jawa Barat.
Baca:
Korban bunuh diri massal pernah diteror distributor semen
Abu jenazah bunuh diri massal dilarung ke Pantai Kencana
Kapolda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Dwi Priyatno mengatakan, hal itu didasarkan keterangan-keterangan yang terus digali. "Ada pesan singkat di telepon seluler salah satu korban di Pekalongan. Masalah ekonomi, ada hutang yang harus dibayar," katanya, Jumat (7/3/2014).
Hutang itu, kata Dwi, ditagih oleh yang meminjamkannya. Namun korban merasa tidak mampu melunasi, sehingga nekat bunuh diri. "Korban merasa tertekan melunasi hutangnya, mencari keputusan yang tidak kita harapkan (bunuh diri)," lanjutnya.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol A Liliek Darmanto mengatakan, dari telepon seluler korban Lina, ditemukan pesan singkat, namun belum terkirim.
"Pesannya ditujukan pada Tuhan. Mengungkapkan kalau sudah tidak kuat jalani hidup. Surat kepada Tuhan, pesannya pendek. Yang intinya tidak kuat hidup," tambahnya saat ditemui di kantornya.
Kematian korban, kata Liliek, tidak ada unsur pemaksaan minum cairan porselen atas para korban. "Misalnya dipaksa dengan dicekik. Itu tidak ada. Korban murni meninggal dunia karena bunuh diri," tambahnya.
Kasus itu adalah aksi bunuh diri satu keluarga asal Pekalongan, plus seorang teman wanita salah satu korban, yang ikut kritis. Bunuh diri itu dilakukan di dua lokasi berbeda, dalam rentang waktu hampir bersamaan pada Kamis 27 Februari di Pekalongan, Jawa Tengah dan Jumat 28 Februari, di Cirebon, Jawa Barat.
Baca:
Korban bunuh diri massal pernah diteror distributor semen
Abu jenazah bunuh diri massal dilarung ke Pantai Kencana
(rsa)