Uang palsu Choirul tembus keamanan bank & ATM
Selasa, 04 Maret 2014 - 18:04 WIB
Uang palsu Choirul tembus keamanan bank & ATM
A
A
A
Sindonews.com - Uang palsu Choirul Masyhari Deleman (47), memiliki kualitas nomor satu, karena bisa menembus sistem keamanan bank, dan lolos di mesin ATM. Bahkan, aparat kepolisian sempat dibuat bingung saat membedakan uang palsu buatan Choirul dengan yang asli.
"Saat itu di daerah Purwokerto, Jawa Tengah, saya mencoba menabung menggunakan uang palsu di mesin ATM dan berhasil," tutur Choirul, kepada wartawan, Selasa (4/3/2014).
Ironisnya, pembuatan uang palsu yang berkualitas cukup tinggi itu dilakukan secara otodidak. Namun, polisi tidak langsung percaya. Mereka bahkan curiga dengan Farida, istri Choirul yang merupakan mantan pegawai Bank International Indonesia (BII).
"Kita masih mendalami hal ini, termasuk apa penyebab istrinya dipecat dari pekerjaan lamanya. Informasi yang kita peroleh, uang yang diproduksi pelaku per harinya mencapai jutaan," terang Kapolres Kediri Kota AKBP Budi Herdhi Susianto.
Uang palsu buatan Choirul memiliki water mark atau garis tipis yang berada di dalam lapisan kertas. Water mark ini juga terdapat dalam uang yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI). Ini yang membuat banyak orang tertipu, termasuk pihak bank dan aparat kepolisian.
Secara kasat mata, uang palsu tersebut hampir tidak ada bedanya dengan yang asli. "Setiap hari saya memproduksi empat lembar. Saya biasanya membelanjakan sendiri di tempat umum, seperti SPBU, pasar, dan pedagang makanan," ungkap Choirul.
Namun begitu, pita yang tertanam pada lapisan kertas (water mark) uang milik Choirul lebih menyatu. Inilah pembeda yang uang asli yang terpisah dan putus-putus. Selain itu, kualitas kertas yang digunakan Choirul juga lebih tebal dan warnanya sedikit pudar.
"Ongkos produksi untuk uang pecahan Rp50 ribu lebih murah dibanding uang Rp100 ribu. Kalau uang Rp100 ribu memerlukan ongkos Rp80 ribu per lembarnya," jelasnya.
Di hadapan petugas, Choirul mengaku baru tiga bulan menjalankan aksinya di Kediri. Namun dia juga mengakui sudah menjalankan aksi serupa tiga tahun silam di kota lain, termasuk di Kabupaten Purwokerto, Jawa Tengah.
Baca juga:
Pembuat uang palsu kualitas no1 dibekuk
Mantan pegawai BII diduga otak pembuatan uang palsu
"Saat itu di daerah Purwokerto, Jawa Tengah, saya mencoba menabung menggunakan uang palsu di mesin ATM dan berhasil," tutur Choirul, kepada wartawan, Selasa (4/3/2014).
Ironisnya, pembuatan uang palsu yang berkualitas cukup tinggi itu dilakukan secara otodidak. Namun, polisi tidak langsung percaya. Mereka bahkan curiga dengan Farida, istri Choirul yang merupakan mantan pegawai Bank International Indonesia (BII).
"Kita masih mendalami hal ini, termasuk apa penyebab istrinya dipecat dari pekerjaan lamanya. Informasi yang kita peroleh, uang yang diproduksi pelaku per harinya mencapai jutaan," terang Kapolres Kediri Kota AKBP Budi Herdhi Susianto.
Uang palsu buatan Choirul memiliki water mark atau garis tipis yang berada di dalam lapisan kertas. Water mark ini juga terdapat dalam uang yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI). Ini yang membuat banyak orang tertipu, termasuk pihak bank dan aparat kepolisian.
Secara kasat mata, uang palsu tersebut hampir tidak ada bedanya dengan yang asli. "Setiap hari saya memproduksi empat lembar. Saya biasanya membelanjakan sendiri di tempat umum, seperti SPBU, pasar, dan pedagang makanan," ungkap Choirul.
Namun begitu, pita yang tertanam pada lapisan kertas (water mark) uang milik Choirul lebih menyatu. Inilah pembeda yang uang asli yang terpisah dan putus-putus. Selain itu, kualitas kertas yang digunakan Choirul juga lebih tebal dan warnanya sedikit pudar.
"Ongkos produksi untuk uang pecahan Rp50 ribu lebih murah dibanding uang Rp100 ribu. Kalau uang Rp100 ribu memerlukan ongkos Rp80 ribu per lembarnya," jelasnya.
Di hadapan petugas, Choirul mengaku baru tiga bulan menjalankan aksinya di Kediri. Namun dia juga mengakui sudah menjalankan aksi serupa tiga tahun silam di kota lain, termasuk di Kabupaten Purwokerto, Jawa Tengah.
Baca juga:
Pembuat uang palsu kualitas no1 dibekuk
Mantan pegawai BII diduga otak pembuatan uang palsu
(san)