Pembuat uang palsu kualitas no1 dibekuk
Selasa, 04 Maret 2014 - 16:46 WIB
Pembuat uang palsu kualitas no1 dibekuk
A
A
A
Sindonews.com - Kepolisian Resor Kediri Kota menggerebek produsen uang palsu kualitas nomor satu, di Komplek Perumahan Grand Kota, Kelurahan Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Selain mendekati sempurna, uang kertas pecahan Rp50 ribu buatan Choirul Masyhari Deleman (47) itu juga berhasil mengelabui institusi perbankan.
"Saat itu di daerah Purwokerto, Jawa Tengah, saya mencoba menabung menggunakan uang palsu di mesin ATM dan berhasil," tutur Choirul, kepada wartawan, Selasa (4/3/2014).
Choirul berasal dari Jakarta. Dia mengaku baru setahun mengontrak rumah di Blok B1, Perumahan Grand Kota bersama Farida, istri yang juga mantan pegawai Bank International Indonesia (BII) serta dua anaknya. "Sebelum di Kediri, saya pernah tinggal di Purwokerto dan Jember," paparnya.
Hidup Choirul nomaden. Dia selalu berpindah dari satu kota ke kota lain. Itu dibuktikan dengan banyaknya KTP dan SIM yang dikantonginya. Dari pantauan wartawan, terdapat tujuh KTP, termasuk SIM dan KK dengan keterangan nama yang berbeda.
Ada yang tertulis Choirul Masyhari. Ada yang mencantumkan Choirul, Choiru, dan Deleman. Namun semua foto identitas tersebut sama. "Iya, semua identitas itu saya yang bikin," terang Choirul.
Penggerebekan tersebut, berawal dari laporan penjual kue bakpao di Jalan Raya Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, yang menerima alat pembayaran uang palsu pecahan Rp50 ribu.
Tanpa menemui banyak kesulitan, aparat langsung mengamankan barang bukti berupa empat lembar uang pecahan Rp50 ribu. Baik Choirul maupun Farida, tidak berusaha melakukan perlawanan. Petugas dengan mudah menemukan ruang khusus di bagian rumah yang sengaja dibuat sebagai ruang produksi.
Di dalam kamar yang sebelumnya berfungsi sebagai gudang tersebut, terlihat sejumlah bahan baku, termasuk piranti yang berfungsi sebagai alat produksi. Di antaranya beberapa botol tinta sablon, lembaran kertas, lem, serta alat pemotongnya. Kemudian juga satu unit mesin printer merek Epson yang berfungsi sebagai cetakan.
"Semua bahan itu bersifat umum. Semuanya bisa diperoleh dipasaran," terangnya.
Uang palsu ciptaan Choirul juga memiliki water mark. Yakni garis tipis yang di dalam lapisan kertas sebagaimana uang keluaran Bank Indonesia (BI). Ini yang membuat banyak orang terkelabui. Sebab secara kasat mata, uang palsu tersebut hampir tidak ada bedanya dengan yang asli.
"Setiap hari saya memproduksi empat lembar. Saya biasanya membelanjakan sendiri di tempat umum, seperti SPBU, pasar, dan pedagang makanan, "terangnya.
Yang membedakan, pita yang tertanam pada lapisan kertas (water mark) milik Choirul lebih menyatu. Sementara uang asli terpisah dan putus-putus. Selain itu, kualitas kertas yang digunakan Choirul juga lebih tebal, termasuk warna tintanya sedikit pudar.
"Ongkos produksi untuk uang pecahan Rp50 ribu lebih murah dibanding uang Rp100 ribu. Kalau uang Rp100 ribu memerlukan ongkos Rp80 ribu per lembarnya," jelasnya.
Di hadapan petugas, Choirul mengaku baru tiga bulan menjalankan aksi kejahatanya di Kediri. Namun dia juga mengakui sudah menjalankan aksi serupa tiga tahun silam di kota lain, termasuk di Kabupaten Purwokerto, Jawa Tengah.
"Saat itu di daerah Purwokerto, Jawa Tengah, saya mencoba menabung menggunakan uang palsu di mesin ATM dan berhasil," tutur Choirul, kepada wartawan, Selasa (4/3/2014).
Choirul berasal dari Jakarta. Dia mengaku baru setahun mengontrak rumah di Blok B1, Perumahan Grand Kota bersama Farida, istri yang juga mantan pegawai Bank International Indonesia (BII) serta dua anaknya. "Sebelum di Kediri, saya pernah tinggal di Purwokerto dan Jember," paparnya.
Hidup Choirul nomaden. Dia selalu berpindah dari satu kota ke kota lain. Itu dibuktikan dengan banyaknya KTP dan SIM yang dikantonginya. Dari pantauan wartawan, terdapat tujuh KTP, termasuk SIM dan KK dengan keterangan nama yang berbeda.
Ada yang tertulis Choirul Masyhari. Ada yang mencantumkan Choirul, Choiru, dan Deleman. Namun semua foto identitas tersebut sama. "Iya, semua identitas itu saya yang bikin," terang Choirul.
Penggerebekan tersebut, berawal dari laporan penjual kue bakpao di Jalan Raya Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, yang menerima alat pembayaran uang palsu pecahan Rp50 ribu.
Tanpa menemui banyak kesulitan, aparat langsung mengamankan barang bukti berupa empat lembar uang pecahan Rp50 ribu. Baik Choirul maupun Farida, tidak berusaha melakukan perlawanan. Petugas dengan mudah menemukan ruang khusus di bagian rumah yang sengaja dibuat sebagai ruang produksi.
Di dalam kamar yang sebelumnya berfungsi sebagai gudang tersebut, terlihat sejumlah bahan baku, termasuk piranti yang berfungsi sebagai alat produksi. Di antaranya beberapa botol tinta sablon, lembaran kertas, lem, serta alat pemotongnya. Kemudian juga satu unit mesin printer merek Epson yang berfungsi sebagai cetakan.
"Semua bahan itu bersifat umum. Semuanya bisa diperoleh dipasaran," terangnya.
Uang palsu ciptaan Choirul juga memiliki water mark. Yakni garis tipis yang di dalam lapisan kertas sebagaimana uang keluaran Bank Indonesia (BI). Ini yang membuat banyak orang terkelabui. Sebab secara kasat mata, uang palsu tersebut hampir tidak ada bedanya dengan yang asli.
"Setiap hari saya memproduksi empat lembar. Saya biasanya membelanjakan sendiri di tempat umum, seperti SPBU, pasar, dan pedagang makanan, "terangnya.
Yang membedakan, pita yang tertanam pada lapisan kertas (water mark) milik Choirul lebih menyatu. Sementara uang asli terpisah dan putus-putus. Selain itu, kualitas kertas yang digunakan Choirul juga lebih tebal, termasuk warna tintanya sedikit pudar.
"Ongkos produksi untuk uang pecahan Rp50 ribu lebih murah dibanding uang Rp100 ribu. Kalau uang Rp100 ribu memerlukan ongkos Rp80 ribu per lembarnya," jelasnya.
Di hadapan petugas, Choirul mengaku baru tiga bulan menjalankan aksi kejahatanya di Kediri. Namun dia juga mengakui sudah menjalankan aksi serupa tiga tahun silam di kota lain, termasuk di Kabupaten Purwokerto, Jawa Tengah.
(san)