Psikolog: Stres luar biasa picu bunuh diri
Senin, 03 Maret 2014 - 20:34 WIB
Psikolog: Stres luar biasa picu bunuh diri
A
A
A
Sindonews.com - Bunuh diri merupakan kasus personal yang disebabkan beberapa faktor. Salah satu yang menjadi faktor utama adalah tekanan besar yang tidak bisa dipecahkan secara sendiri.
Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Enoch Markum mengatakan, kemampuan seseorang mengatasi stres berbeda-beda tergantung kekuatan mentalnya.
"Ketika seorang mengalami stres luar biasa dan ditanggung sendiri maka dia merasa putus asa. Ancaman besar yang tidak dapat diatasi sendiri itu dipilihlah bunuh diri sebagai jalan pintasnya," kata Enoch kepada Sindo, Senin (3/3/2014).
Dalam kondisi tekanan besar, menurut Enoch, seseorang membutuhkan teman untuk berbagi cerita untuk menguatkan mentalnya yang sedang drop. Hal itu, kata dia, bisa menghilangkan niat untuk mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas. "Karena tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri," katanya.
Begitu juga dengan kasus Muhammad Ferdy Pradipta (22) alias Madi mahasiswa Universitas Nasional (Unas) Jakarta, kata Enoch, kemungkinan dia sedang mengalami depresi yang luar biasa sehingga melakukan bunuh diri.
Walaupun, kata dia, motif bunuh diri yang dilakukan biasanya dilatarbelakangi dua faktor. Pertama, ingin mencari perhatian. Kedua, pelaku dalam kondisi depresi berat sehingga sudah tidak menginginkan untuk hidup.
Perbedaan kedua motif tersebut adalah, bagi pelaku yang mencari perhatian masih memiliki harapan hidup.
"Sedangkan depresi memang sudah tidak ingin hidup. Biasanya, yang ingin cari perhatian dikarenakan dia kurang mendapat perhatian dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Dia mencontohkan, dalam satu keluarga seorang adik merasa tidak diperhatikan, padahal kakaknya mendapatkannya. "Bisa saja dia menggunakan alasan ini untuk pura-pura bunuh diri," ujarnya. (mhd)
Baca:
Orangtua: Madi anaknya pendiam banget
Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Enoch Markum mengatakan, kemampuan seseorang mengatasi stres berbeda-beda tergantung kekuatan mentalnya.
"Ketika seorang mengalami stres luar biasa dan ditanggung sendiri maka dia merasa putus asa. Ancaman besar yang tidak dapat diatasi sendiri itu dipilihlah bunuh diri sebagai jalan pintasnya," kata Enoch kepada Sindo, Senin (3/3/2014).
Dalam kondisi tekanan besar, menurut Enoch, seseorang membutuhkan teman untuk berbagi cerita untuk menguatkan mentalnya yang sedang drop. Hal itu, kata dia, bisa menghilangkan niat untuk mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas. "Karena tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri," katanya.
Begitu juga dengan kasus Muhammad Ferdy Pradipta (22) alias Madi mahasiswa Universitas Nasional (Unas) Jakarta, kata Enoch, kemungkinan dia sedang mengalami depresi yang luar biasa sehingga melakukan bunuh diri.
Walaupun, kata dia, motif bunuh diri yang dilakukan biasanya dilatarbelakangi dua faktor. Pertama, ingin mencari perhatian. Kedua, pelaku dalam kondisi depresi berat sehingga sudah tidak menginginkan untuk hidup.
Perbedaan kedua motif tersebut adalah, bagi pelaku yang mencari perhatian masih memiliki harapan hidup.
"Sedangkan depresi memang sudah tidak ingin hidup. Biasanya, yang ingin cari perhatian dikarenakan dia kurang mendapat perhatian dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Dia mencontohkan, dalam satu keluarga seorang adik merasa tidak diperhatikan, padahal kakaknya mendapatkannya. "Bisa saja dia menggunakan alasan ini untuk pura-pura bunuh diri," ujarnya. (mhd)
Baca:
Orangtua: Madi anaknya pendiam banget
(hyk)