Motif bunuh diri masal keluarga Anita masih gelap
Minggu, 02 Maret 2014 - 15:59 WIB
Motif bunuh diri masal keluarga Anita masih gelap
A
A
A
Sindonews.com - Tiga hari pasca kejadian bunuh diri masal berlalu, polisi belum bisa mengungkap apa motif di balik insiden tersebut.
Penyelidikan terus dilakukan; mengorek keterangan saksi, identifikasi Tempat Kejadian Perkara (TKP), pemeriksaan forensik hingga laboratorium, termasuk berkoordinasi kepolisian lintas provinsi.
Kasus itu adalah aksi bunuh diri satu keluarga asal Pekalongan, plus seorang teman wanita salah satu korban, yang ikut kritis. Kondisinya hingga Minggu (2/3) masih kritis. Bunuh diri itu dilakukan di dua lokasi berbeda, dalam rentang waktu hampir bersamaan pada Kamis (27/2) di Pekalongan, Jawa Tengah dan Jumat 28 Februari di Cirebon, Jawa Barat.
Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Dwi Priyatno, mengungkapkan penyelidikan masih dilakukan untuk mengungkap apa motif insiden itu.
“Dari Labfor (Laboratorium Forensik) sedang berproses. Juga dari DVI (Disaster Victim Identification) melakukan pemeriksaan atas para korban,” katanya usai membuka acara Safety Riding Contest and Skill Kapolda Cup, di Semarang, Minggu (2/3/2014).
Berdasarkan hasil pemeriksaan dari DVI, kata dia, para korban meninggal dunia akibat menenggak racun. “Tentu itu ada kemungkinan meminum atau diminumkan. Dari pemeriksaan, diduga karena meminum jadi bunuh diri. Para korban sudah dilakukan autopsi, pemeriksaan toksikologi juga masih dilakukan,” lanjutnya.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Musyafak, menyatakan berdasarkan hasil autopsi maupun pemeriksaan luar atas jenazah, para korban ini mati lemas.
“Tanda – tanda kematian disebabkan karena keracunan. Otopsi kami lakukan di RS Pekalongan sana, untuk korban di Pekalongan. Kami juga mengambil sampel, untuk menentukan jenis racun yang masuk ke tubuh korban,” jelasnya.
Insiden pertama ini diketahui terjadi di Perumahan Duta Bahagia nomor 7, Kraton Lor, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Kamis 27 Februari sekira pukul 23.30 WIB. Itu adalah rumah milik Candra (45). Di situ, ditemukan tewas istri Candra bernama Lisnawati alias Lina (41) dan anaknya Deni Richardo (11).
Mereka tewas usai minum obat pembasmi serangga bercampur pembersih lantai. Korban Lina meninggal di rumah, sedangkan Deni sempat dilarikan ke RSUD Kraton, Pekalongan. Namun nyawanya tak tertolong karena racun telah menjalar ke seluruh tubuh.
Dua anggota keluarganya yang lain, Roy Rudjito (39), adik Lina dan Anita (58), ibunda Roy dan Lina, tewas usai menenggak racun di Hotel Langensari, Cirebon, Jalan Siliwangi, Kota Cirebon, Jawa Barat pada Jumat 28 Februari pukul 02.00. Selain dua orang itu, ada satu korban yang juga kritis karena menenggak racun. Bernama Sasa, yang merupakan teman wanita Roy.
Baca:
Jenazah korban bunuh diri di Pekalongan dikremasi
Keluarga bungkam soal Shasa korban bunuh diri massal
Anita & anak-anaknya sempat makan malam kepiting bersama
Kasus bunuh diri sekeluarga masih diselidiki polisi
Danny dipaksa ikut tenggak cairan pembersih porselen
Penyelidikan terus dilakukan; mengorek keterangan saksi, identifikasi Tempat Kejadian Perkara (TKP), pemeriksaan forensik hingga laboratorium, termasuk berkoordinasi kepolisian lintas provinsi.
Kasus itu adalah aksi bunuh diri satu keluarga asal Pekalongan, plus seorang teman wanita salah satu korban, yang ikut kritis. Kondisinya hingga Minggu (2/3) masih kritis. Bunuh diri itu dilakukan di dua lokasi berbeda, dalam rentang waktu hampir bersamaan pada Kamis (27/2) di Pekalongan, Jawa Tengah dan Jumat 28 Februari di Cirebon, Jawa Barat.
Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Dwi Priyatno, mengungkapkan penyelidikan masih dilakukan untuk mengungkap apa motif insiden itu.
“Dari Labfor (Laboratorium Forensik) sedang berproses. Juga dari DVI (Disaster Victim Identification) melakukan pemeriksaan atas para korban,” katanya usai membuka acara Safety Riding Contest and Skill Kapolda Cup, di Semarang, Minggu (2/3/2014).
Berdasarkan hasil pemeriksaan dari DVI, kata dia, para korban meninggal dunia akibat menenggak racun. “Tentu itu ada kemungkinan meminum atau diminumkan. Dari pemeriksaan, diduga karena meminum jadi bunuh diri. Para korban sudah dilakukan autopsi, pemeriksaan toksikologi juga masih dilakukan,” lanjutnya.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Musyafak, menyatakan berdasarkan hasil autopsi maupun pemeriksaan luar atas jenazah, para korban ini mati lemas.
“Tanda – tanda kematian disebabkan karena keracunan. Otopsi kami lakukan di RS Pekalongan sana, untuk korban di Pekalongan. Kami juga mengambil sampel, untuk menentukan jenis racun yang masuk ke tubuh korban,” jelasnya.
Insiden pertama ini diketahui terjadi di Perumahan Duta Bahagia nomor 7, Kraton Lor, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Kamis 27 Februari sekira pukul 23.30 WIB. Itu adalah rumah milik Candra (45). Di situ, ditemukan tewas istri Candra bernama Lisnawati alias Lina (41) dan anaknya Deni Richardo (11).
Mereka tewas usai minum obat pembasmi serangga bercampur pembersih lantai. Korban Lina meninggal di rumah, sedangkan Deni sempat dilarikan ke RSUD Kraton, Pekalongan. Namun nyawanya tak tertolong karena racun telah menjalar ke seluruh tubuh.
Dua anggota keluarganya yang lain, Roy Rudjito (39), adik Lina dan Anita (58), ibunda Roy dan Lina, tewas usai menenggak racun di Hotel Langensari, Cirebon, Jalan Siliwangi, Kota Cirebon, Jawa Barat pada Jumat 28 Februari pukul 02.00. Selain dua orang itu, ada satu korban yang juga kritis karena menenggak racun. Bernama Sasa, yang merupakan teman wanita Roy.
Baca:
Jenazah korban bunuh diri di Pekalongan dikremasi
Keluarga bungkam soal Shasa korban bunuh diri massal
Anita & anak-anaknya sempat makan malam kepiting bersama
Kasus bunuh diri sekeluarga masih diselidiki polisi
Danny dipaksa ikut tenggak cairan pembersih porselen
(rsa)