Miliki jaringan kuat, geng motor sulit dituntaskan
Rabu, 26 Februari 2014 - 07:30 WIB
Miliki jaringan kuat, geng motor sulit dituntaskan
A
A
A
Sindonews.com - Keberadaan geng motor di Indonesia memang sulit untuk diberantas. Kemunculan geng tersebut bagaikan jamur di tengah musim hujan ditambah aparat penagak hukum yang dinilai kurang tegas.
Hal tersebut disampaikan oleh pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rachmawati. Meskipun kerap berbuat onar, pihak kepolisian seakan kesulitan untuk membuktikan hal itu.
"Keberadaan mereka yang mengintimidasi dan mencekam tidak serta-merta bisa menjadi dalih untuk menangkap mereka," kata Devie kepada Sindo, Selasa 25 Februari 2014.
Menurut Devie, geng motor itu akan merasa kuat jika bersatu dalam kelompok dan diperkuat rasa solidaritas antar teman. Geng motor mulai tahun 1980-an, kata dia, sampai saat ini dikenal rela mati demi membela sesama karena dinilai memiliki ikatan satu sama lain.
"Untuk memasukinya, ada ritual-ritual yang tak masuk akal seperti mesti menyetir motor sepanjang beberapa kilometer tanpa rem, namun inisiasi semacam ini membangun rasa keterikatan yang kuat satu sama lain," kata dia.
Dia juga mengatakan, polisi tidak mau salah langkah dalam menindak tegas para geng motor tersebut. Karena, kelompok itu memiliki jaringan yang cukup luas dan kuat.
"Atau bukan tidak mungkin, seperti geng motor besar Hells Angel di AS, geng bermotor ini memiliki jaringan yang kuat ke mana-mana," katanya.
Devie menambahkan, para kumpulan geng ini sedang berupaya mencari jatidiri. dilihat dari bagaimana kebudayaan komunitas yang mereka kembangkan berbeda bahkan melawan kebudayaan masyarakat umumnya.
"Penonjolan keberadaan diri yang unik, yang berlawanan dengan apa yang dilazimkan oleh lingkungan itulah yang dijadikan ciri atau eksistensi mereka," katanya.
Tambahnya, geng motor juga tidak hanya mudah ditemui di Indonesia, tapi juga disejumlah negara seperti Australia, Amerika, Jepang, geng bermotor menjadi wajah yang mudah dijumpai di kota besarnya.
Baca:
Aksi Tangki Boys hanya cari perhatian
Hal tersebut disampaikan oleh pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rachmawati. Meskipun kerap berbuat onar, pihak kepolisian seakan kesulitan untuk membuktikan hal itu.
"Keberadaan mereka yang mengintimidasi dan mencekam tidak serta-merta bisa menjadi dalih untuk menangkap mereka," kata Devie kepada Sindo, Selasa 25 Februari 2014.
Menurut Devie, geng motor itu akan merasa kuat jika bersatu dalam kelompok dan diperkuat rasa solidaritas antar teman. Geng motor mulai tahun 1980-an, kata dia, sampai saat ini dikenal rela mati demi membela sesama karena dinilai memiliki ikatan satu sama lain.
"Untuk memasukinya, ada ritual-ritual yang tak masuk akal seperti mesti menyetir motor sepanjang beberapa kilometer tanpa rem, namun inisiasi semacam ini membangun rasa keterikatan yang kuat satu sama lain," kata dia.
Dia juga mengatakan, polisi tidak mau salah langkah dalam menindak tegas para geng motor tersebut. Karena, kelompok itu memiliki jaringan yang cukup luas dan kuat.
"Atau bukan tidak mungkin, seperti geng motor besar Hells Angel di AS, geng bermotor ini memiliki jaringan yang kuat ke mana-mana," katanya.
Devie menambahkan, para kumpulan geng ini sedang berupaya mencari jatidiri. dilihat dari bagaimana kebudayaan komunitas yang mereka kembangkan berbeda bahkan melawan kebudayaan masyarakat umumnya.
"Penonjolan keberadaan diri yang unik, yang berlawanan dengan apa yang dilazimkan oleh lingkungan itulah yang dijadikan ciri atau eksistensi mereka," katanya.
Tambahnya, geng motor juga tidak hanya mudah ditemui di Indonesia, tapi juga disejumlah negara seperti Australia, Amerika, Jepang, geng bermotor menjadi wajah yang mudah dijumpai di kota besarnya.
Baca:
Aksi Tangki Boys hanya cari perhatian
(mhd)