Wyataguna, panti sosial terbesar di Asia Tenggara

Rabu, 12 Februari 2014 - 06:00 WIB
Wyataguna, panti sosial...
Wyataguna, panti sosial terbesar di Asia Tenggara
A A A
BERADA di Jalan Pajajaran, Kota Bandung, gedung Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyataguna Bandung, masih tampak kokoh. Sejak berdiri tahun 1901 di zaman kolonial, luas panti tunanetra tertua dan terbesar di Indonesia ini telah mencapai sekira 4,5 hektare.

Suhendar, Humas Wyataguna mengatakan, panti ini didirikan oleh dokter mata asal Belanda, Dr Cha Westhoff. Saat itu, dia merasa prihatin dengan banyaknya kaum pribumi yang mengalami kebutaan.

"Semula, tempat ini diberi nama Yayasan Rumah Buta Bandung. Mereka yang ada di sana diberi berbagai pelatihan, di antaranya pelatihan membuat anyaman, keset, dan berbagai keahlian lain. Sehingga, meskipun buta, mereka punya kemampuan hidup mandiri ketika keluar dari sini," ungkapnya, kepada wartawan, Selasa (11/2/2014).

Kemudian, pada 1942, Jepang masuk ke Indonesia dan mengambil alih Yayasan Rumah Buta Bandung. "Saat dikelola Jepang, sistem pengelolaannya tidak jauh berbeda dengan zaman pendudukan Belanda," terangnya.

Setelah Indonesia merdeka, pada 1945 hingga 1963, Yayasan Rumah Buta Bandung diserahkan kepada warga pribumi. Hingga akhirnya pada 1963, pengelolaannya diserahkan ke Departemen Sosial dan berganti nama menjadi Wyataguna.

"Wyataguna itu artinya wadah atau tempat yang berguna. Harapannya ketika keluar dari sini, mereka yang belajar di sini menjadi lebih berguna," jelasnya.

Dari 1963 hingga kini, pengelolaan Wyataguna beberapa kali berubah. Kini, PSBN Wyataguna dikelola Kementerian Sosial RI Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial. Wyataguna sendiri diyakini sebagai salah satu panti tunanetra terbesar di Asia Tenggara.

"Berdasarkan pengakuan beberapa narasumber dari luar negeri, katanya ini terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara," ungkapnya.

Suhendar mengatakan, Wyataguna memiliki tugas memberikan bimbingan, pelayanan, dan rehabilitasi sosial, bagi para penyandang cacat netra. Untuk itu, gedung ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang. Mulai dari gedung pendidikan dan keterampilan, poliklinik, auditorium, panti pijat shiatsu, panti massage, asrama, hingga olahraga.

"Di sini ada dua jenis pendidikan, yaitu formal dan nonforma. Untuk pendidikan formal, ada sekolah tingkat SD hingga SMA. Sedangkan untuk pendidikan nonformal, ada beberapa pelatihan mulai dari pijat, kursus Alquran braile, hingga kelas musik," jelasnya.

Total kapasitas Wyataguna adalah 250 orang untuk semua jenis pendidikan formal dan nonformal. Sebagian di antara mereka bahkan tinggal di asrama.
(san)
Berita Terkait
Mentransformasi Jaminan...
Mentransformasi Jaminan Sosial sebagai Budaya Masyarakat
Seminar Ketahanan Sosial...
Seminar Ketahanan Sosial Budaya, TNI AU Belajar Dinamisasi Budaya di DIY
Perkuat Sikap Toleransi...
Perkuat Sikap Toleransi lewat Pendekatan Sosial Budaya
Budaya Baca di Tengah...
Budaya Baca di Tengah Gempuran Media Sosial
7 Kelebihan Gen Z yang...
7 Kelebihan Gen Z yang Bisa dicontoh Semua Generasi
Pj Wali Kota Izinkan...
Pj Wali Kota Izinkan Pelaksanaan Event Sosial Budaya
Berita Terkini
The Banjoemas, Diplomasi...
The Banjoemas, Diplomasi Identitas Banyumas di Pusat Budaya Ibu Kota
28 menit yang lalu
Generasi Hijau dari...
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
1 jam yang lalu
BMKG Ungkap Daftar Wilayah...
BMKG Ungkap Daftar Wilayah yang Bakal Alami Kemarau Panjang
2 jam yang lalu
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
2 jam yang lalu
Terima Suap Rp15 Juta...
Terima Suap Rp15 Juta dan Urus Perkara, Hakim PN Cilacap Dipecat
3 jam yang lalu
Enam Tahun Penerjemahan,...
Enam Tahun Penerjemahan, Alkitab Bahasa Sunda Kini Hadir dalam Format Cetak dan Digital
3 jam yang lalu
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved