Ngetem didenda Rp500 ribu bikin sopir angkot meradang
Kamis, 26 Desember 2013 - 13:43 WIB
Ngetem didenda Rp500 ribu bikin sopir angkot meradang
A
A
A
Sindonews.com - Rencana Pemprov DKI menindak tegas angkutan kota (angkot) yang ngetem sembarangan dengan denda maksimal, ditolak keras para sopir. Mereka meminta kepada Pemprov DKI untuk memberikan solusi atasi macet dengan tidak menyusahkan sopir angkutan umum.
Roy (45) sopir KWK S12 jurusan Lebak Bulus-Ragunan mengaku sangat keberatan dengan aturan denda maksimal tersebut. Sebab, bila diterapkan, aturan itu akan merugikan para sopir karena tidak bisa mendapatkan penumpang.
"Sopir bakal susah cari sewa, sekarang saja kondisinya (susah mendapatkan penumpang) begitu, apalagi kalau enggak boleh ngetem," katanya saat ditemui Sindonews di Terminal Ragunan, Jalan Harsono RM, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (26/12/2013).
Ia pun mengakui jika pangkalan liar tempatnya ngetem selama ini menyebabkan kemacetan. Terlebih, hingga kini pemerintah daerah belum memberikan solusi akan persoalan tersebut.
"Kalau mau kasih solusi, jangan asal bikin aturan tapi ujung-ujungnya malah nyusahin sopir. Katanya mau majuin angkutan umum, tapi kok enggak didukung," ungkapnya.
Hal yang sama diungkapkan Daus (43), supir KWK S15A jurusan Taman Mini-Ragunan. Ia mengatakan, larangan ngetem dan menunggu penumpang di jalan dipastikan bakal berimbas pada pendapatan sopir.
Apalagi, saat ini pengeluaran Bahan Bakar Minyak (BBM) angkot kian bertambah.
"Sudah pasti bakal nambah biaya bensinnya, soalnya kan mesin hidup terus. Beda kalau kita mangkal, mobil masih bisa kita matiin. Itu sama saja bukan solusi, malah beratin orang kecil," jelasnya.
Baca juga: Dishub pantau ratusan lokasi angkot ngetem
Roy (45) sopir KWK S12 jurusan Lebak Bulus-Ragunan mengaku sangat keberatan dengan aturan denda maksimal tersebut. Sebab, bila diterapkan, aturan itu akan merugikan para sopir karena tidak bisa mendapatkan penumpang.
"Sopir bakal susah cari sewa, sekarang saja kondisinya (susah mendapatkan penumpang) begitu, apalagi kalau enggak boleh ngetem," katanya saat ditemui Sindonews di Terminal Ragunan, Jalan Harsono RM, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (26/12/2013).
Ia pun mengakui jika pangkalan liar tempatnya ngetem selama ini menyebabkan kemacetan. Terlebih, hingga kini pemerintah daerah belum memberikan solusi akan persoalan tersebut.
"Kalau mau kasih solusi, jangan asal bikin aturan tapi ujung-ujungnya malah nyusahin sopir. Katanya mau majuin angkutan umum, tapi kok enggak didukung," ungkapnya.
Hal yang sama diungkapkan Daus (43), supir KWK S15A jurusan Taman Mini-Ragunan. Ia mengatakan, larangan ngetem dan menunggu penumpang di jalan dipastikan bakal berimbas pada pendapatan sopir.
Apalagi, saat ini pengeluaran Bahan Bakar Minyak (BBM) angkot kian bertambah.
"Sudah pasti bakal nambah biaya bensinnya, soalnya kan mesin hidup terus. Beda kalau kita mangkal, mobil masih bisa kita matiin. Itu sama saja bukan solusi, malah beratin orang kecil," jelasnya.
Baca juga: Dishub pantau ratusan lokasi angkot ngetem
(ysw)