Pertahankan bendera mirip simbol separatis, sikap disintegrasi

Selasa, 17 Desember 2013 - 08:20 WIB
Pertahankan bendera...
Pertahankan bendera mirip simbol separatis, sikap disintegrasi
A A A
Sindonews.com - Tidak ada yang berbahaya dari warna dalam bendera yang dipertahankan rakyat Aceh. Namun, sikap rakyat Aceh tetap mengibarkan dan mengarak bendera mirip lambang separatis itu menunjukan sikap disintegrasi bangsa.

"Jika ditanya, apakah bahaya atau tidak dengan warna bendera itu? Tidak ada, tapi dilihat dari integrasi bangsa itu sudah disintegrasi, sudah tidak murni bagian dari sistem NKRI," tandas Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin (TBH), Selasa (17/12/2013).

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini juga mempertanyakan adanya Wali Negara yang memiliki kedudukan di atas Gubernur. Menurutnya, dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di atas Gubernur tetap saja Presiden.

"Di mana ada provinsi memakai wali negara?"ujarnya dengan nada bertanya.

Pemerintah pusat mengakui dan mengizinkan daerah memiliki lambang daerah. Di provinsi seluruh NKRI semua memiliki bendera daerahnya masing-masing. Namun semua sebatas sebagai lambang daerah dan penggunaannya diatur dengan tata tertib.

"Tapi Aceh? Apakah mau diperlakukan sama dengan daerah lainnya? Mereka tidak mau," tukas TBH.

Persoalan Aceh ini, menurutnya harus segera diselesaikan agar tidak berlarut-larut. Perbedaan pendapat antara pemerintah pusat dengan daerah hendaknya harus diselesaikan dengan cara duduk bersama untuk mencari solusi.

Seperti diketahui, kemarin, rakyat Aceh mengukuhkan Wali Nanggroe Aceh ke-9 Malik Mahmud. Dia merupakan mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Malik dipilih melalui sidang paripurna istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Saat pengukuhan, rakyat Aceh mengarak dan mengibarkan bendera Aceh yang simbolnya mirip GAM. Akibatnya terjadi gesekan antara aparat kemanana dengan rakyat Aceh.

Kedudukan Wali Nanggroe Aceh (Wali Negara) sendiri di atas Gubernur. Dia bertindak sebagai penasihat Gubernur dan Legislatif. Dalam sejarah Aceh, Wali Nanggroe itu sebagai pengganti Sultan.

Chik Ditiro merupakan Wali Nanggroe Aceh pertama. Dia diangkat sebagai Wali Nanggroe saat berusia 11 tahun, saat itu Aceh membutuhkan pemimpin untuk melawan Belanda. Sehingga saat itu, segala tanggung jawab pemerintahan dijalankan oleh Wali Nanggroe, tanpa menggeser posisi Sultan atau Raja.
(lns)
Berita Terkait
Kombatan GAM yang Pernah...
Kombatan GAM yang Pernah Dididik di Libya Gelar Silaturahmi, Polisi Siaga Satu
Koalisi Masyarakat Sipil...
Koalisi Masyarakat Sipil Kritik TNI Turun Tangani Aksi Demo di Aceh Utara
Profil Ishak Daud, Panglima...
Profil Ishak Daud, Panglima GAM yang Disegani pada Zamannya
ST Burhanuddin Pernah...
ST Burhanuddin Pernah Diancam GAM hingga Dibilang Mirip Suami Inul
TNI Sayangkan Narasi...
TNI Sayangkan Narasi Represif soal Larangan Pengibaran Bendera GAM di Aceh: Tak Sesuai Fakta di Lapangan
Profil Danrem 011 Kolonel...
Profil Danrem 011 Kolonel Ali Imran, Perwira Kopassus yang Viral Bubarkan Konvoi Berbendera GAM
Berita Terkini
Mahasiswa hingga Dosen...
Mahasiswa hingga Dosen STIA Madinatul Ilmi Depok Ikuti Kegiatan Literasi Keuangan
10 menit yang lalu
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
1 jam yang lalu
Keberhasilan Memanfaatkan...
Keberhasilan Memanfaatkan Bonus Demografi Bergantung pada Kualitas Generasi Muda
2 jam yang lalu
Warga Wanam Harap Pembangunan...
Warga Wanam Harap Pembangunan PSN di Papua Selatan Dilanjutkan
2 jam yang lalu
PLN Cikarang Tegaskan...
PLN Cikarang Tegaskan Jarak Aman 3 Meter, Kegiatan Berisiko Tinggi Wajib Koordinasi
3 jam yang lalu
5 Jam Diperiksa Polda...
5 Jam Diperiksa Polda Metro, Saiful Mujani Dicecar 37 Pertanyaan
3 jam yang lalu
Infografis
7 Pantai Pasir Putih...
7 Pantai Pasir Putih di Jawa Timur, Ada yang Mirip Tanah Lot Bali
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved