Longsor, tiga rumah di Garut terendam Air
Minggu, 15 Desember 2013 - 23:23 WIB
Longsor, tiga rumah di Garut terendam Air
A
A
A
Sindonews.com - Sebanyak tiga rumah di Kampung Karangsari Tonggoh, RT 03, RW 03, Desa Karangsari, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, terendam air sekira pukul 18.30 WIB. Peristiwa itu diakibatkan oleh longsornya tanah badan Jalan Cangkuang, Kecamatan Leuwigoong.
“Longsornya tanah jalan menutupi saluran air. Sumbatan ini menyebabkan air meluap dan merendam tiga rumah di Kampung Karangsari,” kata Kepala Bagian Informatika Setda Kabupaten Garut, Basuki Eko, Minggu (15/12/2013).
Menurut Eko, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tiga rumah yang terendam tersebut. Air hanya menggenangi dan tidak merusak bangunan rumah warga. “Warga yang rumahnya terendam masih menyelamatkan barang berharga berupa surat-surat penting agar tidak rusak terkena air,” ujarnya.
Eko menjelaskan, tingginya curah hujan di Garut dalam waktu tiga hari terakhir setidaknya membuat material tanah di Leuwigoong dan sejumlah kecamatan lainnya mengalami longsor. Kejadian longsor juga sebelumnya terjadi pada Sabtu, 14 Desember 2013, sekira pukul 16.00 WIB di kawasan Kaki Gunung Sorong dan Kampung Pojok, Desa Sukalaksana, Kecamatan Talegong.
“Longsor di kawasan itu mengakibatkan dua unit rumah warga mengalami rusak berat dan satu lainnya rusak ringan. Sementara 25 unit rumah warga dan satu mesjid terancam longsor,” ujarnya.
Peristiwa ini membuat sedikitnya 28 kepala keluarga (KK) di Kampung Pojok harus diungsikan karena ancaman longsor susulan. Masih di hari yang sama, sebut Eko, jalan provinsi yang menghubungkan Kecamatan Cisewu dengan Kecamatan Talegong terputus di Km 63+875. Putusnya jalan penghubung di kawasan Garut Selatan ini disebabkan oleh meluapnya air Sungai Ciliwung di Desa Girimukti, Kecamatan Cisewu.
“Hujan deras yang terus menerus mengguyur Garut sejak pagi hari menyebabkan air Sungai Ciliwung meluap. Luapannya kemudian menggerus badan jalan provinsi di Desa Girimukti. Pada pukul 16.00 WIB sore Sabtu itu, jalannya mulai longsor,” katanya.
Longsor di kawasan ini membuat badan jalan sepanjang 100 meter hanya tinggal tersisa selebar dua meter saja. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Dikdik Hendrajaya, mengatakan, muspika setempat dan masyarakat di beberapa wilayah yang mengalami bencana longsor telah mengambil tindakan.
“Longsor di daerah Leuwigoong yang menyebabkan sumbatan pada saluran air saat ini sedang ditangani oleh warga dan aparat setempat. Untuk longsor di wilayah Kampung Pojok, Kecamatan Talegong, seluruh warga yang rumahnya terancam sudah diungsikan. Sementara untuk longsor yang memutus jalur Kecamatan Cisewu dan Talegong, pemerintah provinsi dan kabupaten sudah bermusyawarah untuk mulai memperbaiki dan membangun jalan baru,” urainya.
Dikdik pun mengimbau, agar seluruh masyarakat Kabupaten Garut selalu waspada akan ancaman bencana longsor. Menurut Dikdik, sebagian besar wilayah Garut masuk ke dalam kategori rawan longsor.
“Longsornya tanah jalan menutupi saluran air. Sumbatan ini menyebabkan air meluap dan merendam tiga rumah di Kampung Karangsari,” kata Kepala Bagian Informatika Setda Kabupaten Garut, Basuki Eko, Minggu (15/12/2013).
Menurut Eko, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tiga rumah yang terendam tersebut. Air hanya menggenangi dan tidak merusak bangunan rumah warga. “Warga yang rumahnya terendam masih menyelamatkan barang berharga berupa surat-surat penting agar tidak rusak terkena air,” ujarnya.
Eko menjelaskan, tingginya curah hujan di Garut dalam waktu tiga hari terakhir setidaknya membuat material tanah di Leuwigoong dan sejumlah kecamatan lainnya mengalami longsor. Kejadian longsor juga sebelumnya terjadi pada Sabtu, 14 Desember 2013, sekira pukul 16.00 WIB di kawasan Kaki Gunung Sorong dan Kampung Pojok, Desa Sukalaksana, Kecamatan Talegong.
“Longsor di kawasan itu mengakibatkan dua unit rumah warga mengalami rusak berat dan satu lainnya rusak ringan. Sementara 25 unit rumah warga dan satu mesjid terancam longsor,” ujarnya.
Peristiwa ini membuat sedikitnya 28 kepala keluarga (KK) di Kampung Pojok harus diungsikan karena ancaman longsor susulan. Masih di hari yang sama, sebut Eko, jalan provinsi yang menghubungkan Kecamatan Cisewu dengan Kecamatan Talegong terputus di Km 63+875. Putusnya jalan penghubung di kawasan Garut Selatan ini disebabkan oleh meluapnya air Sungai Ciliwung di Desa Girimukti, Kecamatan Cisewu.
“Hujan deras yang terus menerus mengguyur Garut sejak pagi hari menyebabkan air Sungai Ciliwung meluap. Luapannya kemudian menggerus badan jalan provinsi di Desa Girimukti. Pada pukul 16.00 WIB sore Sabtu itu, jalannya mulai longsor,” katanya.
Longsor di kawasan ini membuat badan jalan sepanjang 100 meter hanya tinggal tersisa selebar dua meter saja. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Dikdik Hendrajaya, mengatakan, muspika setempat dan masyarakat di beberapa wilayah yang mengalami bencana longsor telah mengambil tindakan.
“Longsor di daerah Leuwigoong yang menyebabkan sumbatan pada saluran air saat ini sedang ditangani oleh warga dan aparat setempat. Untuk longsor di wilayah Kampung Pojok, Kecamatan Talegong, seluruh warga yang rumahnya terancam sudah diungsikan. Sementara untuk longsor yang memutus jalur Kecamatan Cisewu dan Talegong, pemerintah provinsi dan kabupaten sudah bermusyawarah untuk mulai memperbaiki dan membangun jalan baru,” urainya.
Dikdik pun mengimbau, agar seluruh masyarakat Kabupaten Garut selalu waspada akan ancaman bencana longsor. Menurut Dikdik, sebagian besar wilayah Garut masuk ke dalam kategori rawan longsor.
(lal)