Puting beliung, banjir & lahar dingin ancam Sleman
Jum'at, 08 November 2013 - 19:08 WIB
Puting beliung, banjir & lahar dingin ancam Sleman
A
A
A
Sindonews.com -Puting beliung, banjir dan lahar dingin mengancam beberapa wilayah Kabupayen Sleman pada musim penghujan ini. Puting beliung rawan terjadi di kecamatan Seyegan, Mlati, Depok, Kalasan, Ngaglik dan Ngemplak.
Banjir rawan terjadi di kecamatan Mlati dan Depok,sedangkan banjir lahar dingin rawan terjadi di semua wilayah kecamatan yang dilalui sungai dari hulu Merapi.
Selain itu, tanah longsor, terutama di daerah perbukitan, seperti kecamatan Prambanan dan juga kebakaran.
Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono mengatakan pada dasarnya semua bencana berpotensi di seluruh wilayah Kabupaten Sleman pada musim penghujan ini, sehingga semua yang berpotensi menyebabkan bencana harus diwaspadai.
Untuk itu, semua masyarakat harus selalu siap siaga dalam menghadapi bencana tersebut.
“Selain dengan mensosialisasikan ke masyarakat, untuk kesiagsiagaan, kami juga telah membentuk forum penanggulangan bencana di tingkat kecamatan,” ungkap Julisetiono, Jumat (8/11/2013)
Julisetiono menjelaskan forum tersebut merupakan embrio, yaitu sebagai unit operasional bencana dan untuk pelaksanana penanggulangan bencana ada di tingkat desa.
Unit-unit itu nantinya akan disinkronkan dengan kampung siaga bencana maupun desa tangguh. Seperti di desa Sindumartani, Ngemplak, yang sudah membentuk desa tangguh bencana.
“Kami juga sudah mensosialisasikan skenario evakuasi bencana, sehingga dengan skenario tersebut masyarakat sudah mengetahui kemana saja harus mengungsi dan mengevakuasi diri jika terjadi bencana,” jelasnya.
Selain itu, BPBD Sleman juga telah membentuk forum guru peduli bencana pada unit pengelola kegiatan (UPK) Pendidikan di tingkat kecamatan. Melalui forum itu para guru diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para siswa bagaimana harus bertindak ketika terjadi bencana.
“Melalui cara ini, diharapkan dapat meminimalisir korban, baik jiwa maupun harta benda,” tandasnya.
Julisetinon menambahkan untuk penanggulangan bencana ini, yang masih perlu mendapatkan perhatin adalah belum semua jalur evakuasi, terutama untuk bencana lahar dingin.
Sebab untuk kondisi jalan belum kondusif, masih ada beberapa titik yang rusak. Sehingga untuk mengatasi jika ada bencana untuk jalur menuju tempat pengusian harus menyesuaikan.
“Namun untuk fasilitas lain seperti barak dan fasilitas umum sudah siap, termasuk bila barak tidak dapat menampung, juga sudah ada tenda pengungsian. Untuk barak ada 30 tempat dengan kapasitas antara 300-400 orang per barak,” paparnya.
Banjir rawan terjadi di kecamatan Mlati dan Depok,sedangkan banjir lahar dingin rawan terjadi di semua wilayah kecamatan yang dilalui sungai dari hulu Merapi.
Selain itu, tanah longsor, terutama di daerah perbukitan, seperti kecamatan Prambanan dan juga kebakaran.
Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono mengatakan pada dasarnya semua bencana berpotensi di seluruh wilayah Kabupaten Sleman pada musim penghujan ini, sehingga semua yang berpotensi menyebabkan bencana harus diwaspadai.
Untuk itu, semua masyarakat harus selalu siap siaga dalam menghadapi bencana tersebut.
“Selain dengan mensosialisasikan ke masyarakat, untuk kesiagsiagaan, kami juga telah membentuk forum penanggulangan bencana di tingkat kecamatan,” ungkap Julisetiono, Jumat (8/11/2013)
Julisetiono menjelaskan forum tersebut merupakan embrio, yaitu sebagai unit operasional bencana dan untuk pelaksanana penanggulangan bencana ada di tingkat desa.
Unit-unit itu nantinya akan disinkronkan dengan kampung siaga bencana maupun desa tangguh. Seperti di desa Sindumartani, Ngemplak, yang sudah membentuk desa tangguh bencana.
“Kami juga sudah mensosialisasikan skenario evakuasi bencana, sehingga dengan skenario tersebut masyarakat sudah mengetahui kemana saja harus mengungsi dan mengevakuasi diri jika terjadi bencana,” jelasnya.
Selain itu, BPBD Sleman juga telah membentuk forum guru peduli bencana pada unit pengelola kegiatan (UPK) Pendidikan di tingkat kecamatan. Melalui forum itu para guru diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para siswa bagaimana harus bertindak ketika terjadi bencana.
“Melalui cara ini, diharapkan dapat meminimalisir korban, baik jiwa maupun harta benda,” tandasnya.
Julisetinon menambahkan untuk penanggulangan bencana ini, yang masih perlu mendapatkan perhatin adalah belum semua jalur evakuasi, terutama untuk bencana lahar dingin.
Sebab untuk kondisi jalan belum kondusif, masih ada beberapa titik yang rusak. Sehingga untuk mengatasi jika ada bencana untuk jalur menuju tempat pengusian harus menyesuaikan.
“Namun untuk fasilitas lain seperti barak dan fasilitas umum sudah siap, termasuk bila barak tidak dapat menampung, juga sudah ada tenda pengungsian. Untuk barak ada 30 tempat dengan kapasitas antara 300-400 orang per barak,” paparnya.
(lns)