Ismawati yakin anak dan suaminya bukan teroris
Sabtu, 19 Oktober 2013 - 06:01 WIB
Ismawati yakin anak dan suaminya bukan teroris
A
A
A
Sindonews.com - Ismawati, istri Suardi, terduga teroris yang ditembak mati Densus 88 Antiteror Kamis (17/10) malam kemarin di Desa Alinge, Kecamatan Ulaweng, mengaku sangat terpukul.
Tidak hanya kehilangan suami untuk selama-lamanya, wanita setengah baya itu, juga ditinggal putra sulungnya, Ahmad Iswandi (17). Ahmad ikut dibekuk Densus 88 karena diduga kuat ikut dalam jaringan terorisme.
Ahmad ditangkap ketika bersama rekannya bernama Jodi alias Umail (37).
Menurut wanita yang berprofesi sebagai Guru SD ini, putranya itu masih duduk di kelas tiga Pondok Pesantren 77 Kecamatan Kejuara Kabupaten Bone. Karena ia yakin putranya tidak bersalah, maka penangkapan itu sangat disesalkannya.
"Saya jamin, anak saya tidak bersalah. Dia tidak tahu apa-apa, dia masih di bawah umur, jadi saya minta kepolisian agar mengembalikannya," harap Ismawati dengan nada sedih.
Mengenai kematian suaminya, Ismawati berusaha mengikhlaskan, dia mengaku sudah melapangkan dada dan yakin kematian suami adalah kehendak Tuhan yang Maha Kuasa.
Namun, menurut Ismawati menembak mati dan menuduh suaminya sebagai teroris itu adalah penilaian yang salah.
Suaminya, lanjut Ismawati keseharian hanya berkebun dan menjahit pakaian. Tidak ada pekerjaan lain, apalagi dituduh sebagai teroris.
"Saya heran, suami saya tidak pernah keluar daerah. Saya meminta pihak kepolisian mengungkap kasus kematian ini jika suami saya dikatakan teroris," pinta Isma.
Sementara mengenai Jodi alias Umail, wanita berkerudung ini mengaku tidak mengenalnya. Menurut dia, sebelum Idul Adha pria itu memang datang menginap, Ismawati sendiri melihat adanya kejanggalan.
"Saya tidak kenal dia, dan saya sudah meminta agar orang itu pergi," kata dia.
Tidak hanya kehilangan suami untuk selama-lamanya, wanita setengah baya itu, juga ditinggal putra sulungnya, Ahmad Iswandi (17). Ahmad ikut dibekuk Densus 88 karena diduga kuat ikut dalam jaringan terorisme.
Ahmad ditangkap ketika bersama rekannya bernama Jodi alias Umail (37).
Menurut wanita yang berprofesi sebagai Guru SD ini, putranya itu masih duduk di kelas tiga Pondok Pesantren 77 Kecamatan Kejuara Kabupaten Bone. Karena ia yakin putranya tidak bersalah, maka penangkapan itu sangat disesalkannya.
"Saya jamin, anak saya tidak bersalah. Dia tidak tahu apa-apa, dia masih di bawah umur, jadi saya minta kepolisian agar mengembalikannya," harap Ismawati dengan nada sedih.
Mengenai kematian suaminya, Ismawati berusaha mengikhlaskan, dia mengaku sudah melapangkan dada dan yakin kematian suami adalah kehendak Tuhan yang Maha Kuasa.
Namun, menurut Ismawati menembak mati dan menuduh suaminya sebagai teroris itu adalah penilaian yang salah.
Suaminya, lanjut Ismawati keseharian hanya berkebun dan menjahit pakaian. Tidak ada pekerjaan lain, apalagi dituduh sebagai teroris.
"Saya heran, suami saya tidak pernah keluar daerah. Saya meminta pihak kepolisian mengungkap kasus kematian ini jika suami saya dikatakan teroris," pinta Isma.
Sementara mengenai Jodi alias Umail, wanita berkerudung ini mengaku tidak mengenalnya. Menurut dia, sebelum Idul Adha pria itu memang datang menginap, Ismawati sendiri melihat adanya kejanggalan.
"Saya tidak kenal dia, dan saya sudah meminta agar orang itu pergi," kata dia.
(lns)