Ditagih janjinya, SBY sanggupi 500 sapi untuk warga Sleman
Jum'at, 18 Oktober 2013 - 21:16 WIB
Ditagih janjinya, SBY sanggupi 500 sapi untuk warga Sleman
A
A
A
Sindonews.com - Janji pemerintah yang akan memberikan bantuan 600 ekor sapi perah kepada warga Sleman yang terkena dampak erupsi merapi 2010 lalu ternyata belum teralisasikan semua.
Terbukti hingga Oktober 2013 pemerintah baru memberikan bantuan 100 atau baru 16,6 persen dari jumlah sapi perah yang dijanjikan.
Padahal beternak sapi perah menjadi mata pencaharian utama warga lereng Merapi, selain bercocok tanam, maka pemerintah diminta segera merealisasikan kekurangan bantuan sapi perah itu.
Hal tersebut mengemuka saat presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan dialog dengan warga hunian tetap (huntap) Pagerjurang, Kepuharjo, Cangkringan Sleman, di gedung serbaguna huntap setempat, Jumat (18/10/2013).
Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman Heri Suprapto mengatakan dengan adanya keterlambatan penyaluran bantuan tersebut berdampak terhadap kegiatan perekonomian warga, bukan hanya yang menggantungkan nafkah hidup dari usaha peternakan namun juga pertanian.
Warga mengharapkan, bantuan sapi yang dijanjikan bisa segera turun, sehingga kembali bisa memerah susu seperti dulu.
“Karena sekarang warga ingin memulai lagi beternak sapi perah, kalau bisa sisa 500 ekor sapi perah akhir tahun ini bisa diberikan,” kata Heri Suprapto saat acara dialog dengan presiden tersebut.
Dalam kesempatan itu Heri juga meminta kepada presiden supaya dibuatkan jembatan di atas sungai Gendol wilayah Pagerjurang dan Manggong.
Sebab akses jembatan yang menghubungkan Desa Kepuharjo dan Glagaharjo, putus pascaerupsi Merapi 2010. Sehingga dengan tidak adanya jembatan itu menyebabkan warga ke dua desa bila ingin berinteraksi harus memutar sejauh lima kilometer.
Termasuk para siswa yang bersekolah di SMP 2 Cangkringan yang ada di wilayah Kepuharjo.
“Selain itu, kami juga berharap agar pemerintah segera membangun jalur evakuasi khususnya di ruas Dusun Geblok sepanjang delapan kilometer dan lapangan sebagai sarana publik dan kegiatan sekolah,” pintanya.
Erupsi Merapi tahun 2010 lalu, selain merusak 2.682 rumah juga menghancurkan berbagai macam infrastruktur. Sedangkan awan panas merusak 341 rumah dan 3.000 ekor sapi mati serta untuk korban jiwa keseluruhan mencapai 385 jiwa. Sementara untuk kerugian materiil sebesar Rp3,62 triliun.
Presiden SBY langsung merespon keinginan warga tersebut. Yaitu dengan memerintahkan kementerian terkait maupun badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) untuk menindaklanjutinya. Baik bantuan sapi perah maupun infrastruktur. Dan menandaskan bantuan itu harus selesai pada tahun ini.
“Kekurangan 500 ekor sapi perah siap kami berikan akhir tahun ini,” janji SBY.
Pada kesempatan itu, SBY juga memberikan langsung bantuan sebesar Rp1 miliar untuk peningkatan ekonomi warga lereng Merapi. Uang tunai itu diterima oleh Bupati Slemn Sri Purnomo.
Terbukti hingga Oktober 2013 pemerintah baru memberikan bantuan 100 atau baru 16,6 persen dari jumlah sapi perah yang dijanjikan.
Padahal beternak sapi perah menjadi mata pencaharian utama warga lereng Merapi, selain bercocok tanam, maka pemerintah diminta segera merealisasikan kekurangan bantuan sapi perah itu.
Hal tersebut mengemuka saat presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan dialog dengan warga hunian tetap (huntap) Pagerjurang, Kepuharjo, Cangkringan Sleman, di gedung serbaguna huntap setempat, Jumat (18/10/2013).
Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman Heri Suprapto mengatakan dengan adanya keterlambatan penyaluran bantuan tersebut berdampak terhadap kegiatan perekonomian warga, bukan hanya yang menggantungkan nafkah hidup dari usaha peternakan namun juga pertanian.
Warga mengharapkan, bantuan sapi yang dijanjikan bisa segera turun, sehingga kembali bisa memerah susu seperti dulu.
“Karena sekarang warga ingin memulai lagi beternak sapi perah, kalau bisa sisa 500 ekor sapi perah akhir tahun ini bisa diberikan,” kata Heri Suprapto saat acara dialog dengan presiden tersebut.
Dalam kesempatan itu Heri juga meminta kepada presiden supaya dibuatkan jembatan di atas sungai Gendol wilayah Pagerjurang dan Manggong.
Sebab akses jembatan yang menghubungkan Desa Kepuharjo dan Glagaharjo, putus pascaerupsi Merapi 2010. Sehingga dengan tidak adanya jembatan itu menyebabkan warga ke dua desa bila ingin berinteraksi harus memutar sejauh lima kilometer.
Termasuk para siswa yang bersekolah di SMP 2 Cangkringan yang ada di wilayah Kepuharjo.
“Selain itu, kami juga berharap agar pemerintah segera membangun jalur evakuasi khususnya di ruas Dusun Geblok sepanjang delapan kilometer dan lapangan sebagai sarana publik dan kegiatan sekolah,” pintanya.
Erupsi Merapi tahun 2010 lalu, selain merusak 2.682 rumah juga menghancurkan berbagai macam infrastruktur. Sedangkan awan panas merusak 341 rumah dan 3.000 ekor sapi mati serta untuk korban jiwa keseluruhan mencapai 385 jiwa. Sementara untuk kerugian materiil sebesar Rp3,62 triliun.
Presiden SBY langsung merespon keinginan warga tersebut. Yaitu dengan memerintahkan kementerian terkait maupun badan nasional penanggulangan bencana (BNPB) untuk menindaklanjutinya. Baik bantuan sapi perah maupun infrastruktur. Dan menandaskan bantuan itu harus selesai pada tahun ini.
“Kekurangan 500 ekor sapi perah siap kami berikan akhir tahun ini,” janji SBY.
Pada kesempatan itu, SBY juga memberikan langsung bantuan sebesar Rp1 miliar untuk peningkatan ekonomi warga lereng Merapi. Uang tunai itu diterima oleh Bupati Slemn Sri Purnomo.
(lns)