Jatam sorot rencana RI-Rusia bangun rel di Kaltim
Kamis, 10 Oktober 2013 - 17:02 WIB
Jatam sorot rencana RI-Rusia bangun rel di Kaltim
A
A
A
Sindonews.com - Rencana pembangunan rel kereta api di Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 191 kilometer antara Kabupaten Kutai Barat hingga Kota Balikpapan mulai ditentang sejumlah pihak. Salah satunya adalah Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim.
Jatam menyebut, pembangunan rel kereta api oleh investor asal Rusia itu untuk angkutan batubara akan membuat pengrusakan lingkungan di Kaltim dilakukan secara masif. Efek lain adalah konflik sosial makin tinggi dan merusak lumbung pangan.
“Pembangunan rel kereta api ini membuktikan Pemerintah Provinsi Kaltim tidak pernah melindungi sumber daya alam. Rel kereta api ini akan makin memudahkan menjual batubara, tentu saja tidak untuk Kaltim, tapi dijual ke luar,” kata Dinamisator Jatam Kaltim, Kahar Al-Bahri, Kamis (10/10/2013).
Dengan mudahnya angkutan batubara, Jatam menilai pembukaan lahan dan kerusakan lingkungan semakin luas. Selama ini angkutan batubara di kaltim menggunakan angkutan Sungai, dengan adanya rel kereta api, kerusakan lingkungan akan semakin jauh merambah hingga ke pedalaman.
“Efeknya selain pembukaan lahan dan kerusakan lingkungan, dampak sosial lainnya akan bermunculan. Konflik sosial seperti perebutan lahan akan semakin sering terjadi,” tambahnya.
Pemprov Kaltim, kata Kahar, tidak pernah belajar dari banyaknya kasus yang terjadi di sekitar areal lokasi tambang. Di Samarinda misalnya, banyak kasus yang hingga saat ini belum terselesaikan. Di Samarinda saja, katanya, ada enam bocah yang meninggal akibat tenggelam di kolam bekas galian tambang. Ada juga tanggul jebol yang membuat banyak masyarakat menderita.
“Pemerintah sama saja memindahkan bencana dari kota ke tempat yang semakin sulit mereka jangkau. Yang bisa mereka bisa pantau saja sering tidak dikontrol, apalagi nanti yang jauh dari jangkauan mereka, konflik sosial akan makin tinggi,” kata Kahar.
Jatam menilai Pemptov Kaltim tidak ada upaya membenahi efek paska tambang batubara. Gubernur Kaltim dinilai hanya terus berusaha memberikan ijin tanpa upaya mengontrol.
Seperti diberitakan sebelumnya, rencana pembangunan rel kereta api untuk angkutan batubara dan sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) sebentar lagi akan terealisasi.
Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, menegaskan Presiden Rusia Vladimir Putin sudah menyampaikan rencana tersebut ke Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) di Bali beberapa waktu lalu dan telah disepakati.
“Untuk tahap awal, pembangunan rel kereta api ini dimanfaatkan industri, tidak hanya batubara, namun juga CPO (Crude Palm Oil, minyak kelapa sawit). Seiring waktu, nantinya akan digunakan untuk angkutan orang ,” kata Awang Faroek.
Baca juga: RI-Rusia sepakat bangun rel kereta api di Kaltim
Jatam menyebut, pembangunan rel kereta api oleh investor asal Rusia itu untuk angkutan batubara akan membuat pengrusakan lingkungan di Kaltim dilakukan secara masif. Efek lain adalah konflik sosial makin tinggi dan merusak lumbung pangan.
“Pembangunan rel kereta api ini membuktikan Pemerintah Provinsi Kaltim tidak pernah melindungi sumber daya alam. Rel kereta api ini akan makin memudahkan menjual batubara, tentu saja tidak untuk Kaltim, tapi dijual ke luar,” kata Dinamisator Jatam Kaltim, Kahar Al-Bahri, Kamis (10/10/2013).
Dengan mudahnya angkutan batubara, Jatam menilai pembukaan lahan dan kerusakan lingkungan semakin luas. Selama ini angkutan batubara di kaltim menggunakan angkutan Sungai, dengan adanya rel kereta api, kerusakan lingkungan akan semakin jauh merambah hingga ke pedalaman.
“Efeknya selain pembukaan lahan dan kerusakan lingkungan, dampak sosial lainnya akan bermunculan. Konflik sosial seperti perebutan lahan akan semakin sering terjadi,” tambahnya.
Pemprov Kaltim, kata Kahar, tidak pernah belajar dari banyaknya kasus yang terjadi di sekitar areal lokasi tambang. Di Samarinda misalnya, banyak kasus yang hingga saat ini belum terselesaikan. Di Samarinda saja, katanya, ada enam bocah yang meninggal akibat tenggelam di kolam bekas galian tambang. Ada juga tanggul jebol yang membuat banyak masyarakat menderita.
“Pemerintah sama saja memindahkan bencana dari kota ke tempat yang semakin sulit mereka jangkau. Yang bisa mereka bisa pantau saja sering tidak dikontrol, apalagi nanti yang jauh dari jangkauan mereka, konflik sosial akan makin tinggi,” kata Kahar.
Jatam menilai Pemptov Kaltim tidak ada upaya membenahi efek paska tambang batubara. Gubernur Kaltim dinilai hanya terus berusaha memberikan ijin tanpa upaya mengontrol.
Seperti diberitakan sebelumnya, rencana pembangunan rel kereta api untuk angkutan batubara dan sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) sebentar lagi akan terealisasi.
Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, menegaskan Presiden Rusia Vladimir Putin sudah menyampaikan rencana tersebut ke Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) di Bali beberapa waktu lalu dan telah disepakati.
“Untuk tahap awal, pembangunan rel kereta api ini dimanfaatkan industri, tidak hanya batubara, namun juga CPO (Crude Palm Oil, minyak kelapa sawit). Seiring waktu, nantinya akan digunakan untuk angkutan orang ,” kata Awang Faroek.
Baca juga: RI-Rusia sepakat bangun rel kereta api di Kaltim
(rsa)