Kasus DBD di Sleman naik 163,5 persen

Selasa, 08 Oktober 2013 - 00:37 WIB
Kasus DBD di Sleman...
Kasus DBD di Sleman naik 163,5 persen
A A A
Sindonews.com - Kasus Deman Berdarah Dengue (DBD) di Sleman, selama 2013 mengalami kenaikan 163,5 persen, jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman hingga September 2013, jumlah kasus DBD mencapai 662 orang. Sedangkan pada tahun 2012 hanya 236 orang atau meningkat 286 orang. Bahkan hingga akhir tahun diperkirakan akan terus bertambah.

Dari jumlah tersebut, lima kecamatan yaitu Depok, Kalasan, Ngaglik, Gamping, dan Godean menjadi wilayah yang paling banyak kasusnya dibandingkan dengan daerah lain. Sehingga lima kecamatan itu juga dinyatakan sebagai endemik DBD.

Kepala bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman Novita Krisnaini mengakui, jika secara kuantitatif kasus DBD mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu hampir mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Termasuk dua orang penderita diantaranya meninggal dunia.

“Anomali cuaca dan masih rendahnya kesadaran warga dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) diduga menjadi penyebabnya,” kata Novi, di ruang kerjanya, Senin (7/10/2013).

Novi mengatakan, untuk menekan jumlah kasus tersebut, berbagai tindakan terus dilakukan, seperti gerakan PSN dan menguras menutup dan mengubur plus lavarsida (3M Plus), terutama di tempat-tempat yang berpotensi untuk berkembangnya nyamuk, serta fooging atau pengasapan.

“Gerakan PSN dan 3M plus pola hidup bersih dan sehat (PHBS) akan lebih diprioritaskan dibandingkan dengan fogging. Sebab fogging hanya akan mematikan nyamuk indukan, jentiknya tidak,” paparnya.

Novi menjelaskan, secara umum nyamuk itu tidak berbahaya. Nyamuk itu menjadi bahaya jika mengigit orang yang terkena DBD dan setelah itu mengigit orang lain. Ini lantaran virus yang terbawa saat nyamuk mengigit orang yang terkena akan ditularkan kepada orang yang digigitnya.

“Siklus nyamuk ini selama tujuh hari, yaitu dari telur menjadi jentik dan nyamuk dewasa. Sehingga dengan kegiatan PSN dan 3M secara rutin, populasi nyamuk tidak bertambah,” terangnya.

Selain itu, penanggan kasus DBD, ini tidak akan selesai jika masyarakat tidak pernah terlibat secara langsung. Sehingga perlu adanya kesadaran dan pemberdayaan masyarakat dalam memberantas penyebaran penyakit ini.
(san)
Berita Terkait
Cegah DBD, Enesis Group...
Cegah DBD, Enesis Group Lakukan Edukasi di Jawa Tengah
Peran Masyarakat dalam...
Peran Masyarakat dalam Perlindungan Keluarga dari Ancaman DBD
Takeda dan Alodokter...
Takeda dan Alodokter Berkolaborasi Melawan DBD di Indonesia
Angkak dan Sari Kurma...
Angkak dan Sari Kurma Bantu Trombosit Pasien DBD Naik? Ini Faktanya!
Saat Pendemi Covid-19,...
Saat Pendemi Covid-19, Ratusan Anak di Blitar Terserang DBD
Kolaborasi Kemenkes...
Kolaborasi Kemenkes dan Takeda Edukasi Pencegahan Dini untuk Tangkal DBD
Berita Terkini
Dinkes Apresiasi Operasi...
Dinkes Apresiasi Operasi Bibir Sumbing Gratis MNC Peduli dan RS Azra Bogor
3 jam yang lalu
MNC Peduli dan Yayasan...
MNC Peduli dan Yayasan Jalinan Kasih Sudah Operasi Lebih dari 5.000 Pasien Bibir Sumbing Sejak 2004
5 jam yang lalu
Gelar Operasi Sumbing...
Gelar Operasi Sumbing Gratis, MNC Peduli dan Smiletrain Indonesia Gandeng RS Azra Bogor
5 jam yang lalu
Energy Executive Award...
Energy Executive Award 2026 Tegaskan Pentingnya Kepemimpinan Wujudkan Ketahanan Energi
5 jam yang lalu
Pembangunan Jalan Tol...
Pembangunan Jalan Tol Akses Pelabuhan Patimban Capai 68%
6 jam yang lalu
Pemberdayaan Masyarakat...
Pemberdayaan Masyarakat Unusa, Tingkatkan Kesadaran tentang Penyakit Kulit
8 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved