Pengamat: Remaja cenderung nekat tanpa hiraukan efeknya
Rabu, 04 September 2013 - 21:57 WIB
Pengamat: Remaja cenderung nekat tanpa hiraukan efeknya
A
A
A
Sindonews.com - Ketika seorang anak berada dalam situasi yang tertekan cenderung melakukan tindakan agresif. Namun, diusia remaja mereka belum tahu resiko atas tindakan tersebut. Ketika sudah terjadi barulah mereka menyadari bahwa tindakan yang dilakukan itu salah.
"Anak itu tidak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah sehingga cenderung melakukan tindakan demikian," kata Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Bagus Takwin, Rabu (4/9/2013).
Ketika menghadapi situasi yang kompleks anak-anak usia remaja cenderung merespon dengan cara mereka. Belum memiliki kemampuan untuk mengelola emosi sehingga tidak berfikir panjang atas apa yang dilakukan.
"Artinya mereka tidak memikirkan efek dari tindakan agresif tersebut," tukasnya.
Menurut dia, tindakan itu muncul bukan karena direncanakan. Bisa jadi dilakukan secara spontan dan tidak direncanakan sebelumnya.
Dalam kondisi tertekan maka seseorang bisa bertindak diluar nalarnya. Seperti membunuh misalnya yang menurut Bagus, pada dasarnya tidak direncanakan terlebih dahulu.
"Agresif itu bisa muncul karena frustasi, tertekan dan terpojok. Ketika dia tidak bisa menghadapi situasi karena ejekan temannya ya bisa jadi tindakan itu yang dilakukannya," ujarnya.
Artinya, kata Bagus, anak itu tidak mampu menghindar dari ejekan temannya sehingga ketika pada posisi puncak kekesalan dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Terlebih jika dia juga tak memiliki teman untuk berbagi.
"Yang jelas anak ini belum mengetahui kalau sikap agresif yang dilakukannya bukanlah cara yang baik," tutupnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang siswa SMP di Bogor nekat menghabisi nyawa teman sekelasnya karena hanya sakit hati. KOrban dihabisi dan mayatnya dibuang ke dalam selokan.
"Anak itu tidak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah sehingga cenderung melakukan tindakan demikian," kata Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Bagus Takwin, Rabu (4/9/2013).
Ketika menghadapi situasi yang kompleks anak-anak usia remaja cenderung merespon dengan cara mereka. Belum memiliki kemampuan untuk mengelola emosi sehingga tidak berfikir panjang atas apa yang dilakukan.
"Artinya mereka tidak memikirkan efek dari tindakan agresif tersebut," tukasnya.
Menurut dia, tindakan itu muncul bukan karena direncanakan. Bisa jadi dilakukan secara spontan dan tidak direncanakan sebelumnya.
Dalam kondisi tertekan maka seseorang bisa bertindak diluar nalarnya. Seperti membunuh misalnya yang menurut Bagus, pada dasarnya tidak direncanakan terlebih dahulu.
"Agresif itu bisa muncul karena frustasi, tertekan dan terpojok. Ketika dia tidak bisa menghadapi situasi karena ejekan temannya ya bisa jadi tindakan itu yang dilakukannya," ujarnya.
Artinya, kata Bagus, anak itu tidak mampu menghindar dari ejekan temannya sehingga ketika pada posisi puncak kekesalan dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Terlebih jika dia juga tak memiliki teman untuk berbagi.
"Yang jelas anak ini belum mengetahui kalau sikap agresif yang dilakukannya bukanlah cara yang baik," tutupnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang siswa SMP di Bogor nekat menghabisi nyawa teman sekelasnya karena hanya sakit hati. KOrban dihabisi dan mayatnya dibuang ke dalam selokan.
(ysw)