Tiap tahun 1.000 hektar sawah di Bali tergerus
Jum'at, 30 Agustus 2013 - 08:17 WIB
Tiap tahun 1.000 hektar sawah di Bali tergerus
A
A
A
Sindonews.com - Keberadaan subak sebagai sistem irigasi khas Bali makin terancam menyusul tergerusnya lahan sawah yang diperkirakan mencapai 1.000 hektar pertahun lantaran dijual petani kepada pengembang.
Padahal subak sistem irigasi tradisional Bali yang dijaga lebih dari 1.000 tahun, telah dianugerahi status Warisan Dunia untuk kategori lanskap budaya dari UNESCO.
Tidak hanya itu, kepopuleran subak mampu memikat lebih dari dua juta pengunjung setiap tahunnya.
“Lanskap dan tradisi budaya subak sangatlah populer, sehingga petani pun menjual sawah mereka kepada pengembang, dan membuat luas lahan produksi berkurang 1.000 hektar setiap tahunnya,” kata Steve Lansing, antropolog ekologi dalam keterangan tertulisnya di Annual Ecosystem Services Partnership (ESP) Conference ke-6 di Bali, Jumat (30/8/2013).
Steve yang telah mempelajari subak sejak 1974 menyatakan, subak sebagai sebuah sistem yang terpadu sehingga ketika sebagian lahan dijual beban yang ditanggung persawahan di sekitarnya akan meningkat.
Kondisi ini memberikan tekanan yang lebih besar bagi petani untuk menjual sawahnya, yang kemudian mengancam keberlangsungan seluruh sistem.
Dia mengingatkan, jika laju lahan terus tergerus seperti sekarang, maka seluruh lahan subak terancam dan jika tidak ada tindakan yang diambil dalam beberapa tahun keseluruhan sistem akan hancur.
Untuk mencegah hal ini, UNESCO mengadopsi model "bottom-up" yang selama ini telah digunakan subak sebagai rencana perlindungan sistem tersebut.
Dalam rencana yang dikembangkan Steve dan rekan-rekannya yang merupakan penduduk Bali, sebuah Dewan Pengurus yang terdiri dari kepala desa dan subak bertugas mengelola wilayah warisan dunia ini.
Dewan inilah yang memutuskan aspek mana dari lanskap yang dapat melibatkan pengunjung, menarik biaya kunjungan mereka, dan menggunakan pendapatan ini untuk kepentingan bersama.
“Subak akan menjadi situs UNESCO pertama di Asia yang dikelola secara lokal, dan bukan oleh pemerintah,” imbuh Steve.
Dia berharap dewan tersebut dapat bertindak cepat untuk mengatasi ancaman terhadap keberadaan subak.
"Perkembangan penting yang perlu dicatat bagaimana usaha pelestarian tidak hanya dilakukan di lahan persawahan, tapi juga di sistem pengelolaannya,” kata Meine van Noordwijk, kepala peneliti di World Agroforestry Centre yang merangkap sebagai ketua penyelenggara konferensi.
Subak mengelola sistem pengairannya sendiri yang terkait erat satu sama lain.
Hal ini berbeda dengan situs warisan UNESCO lainnya di Asia, di mana biasanya dibentuknya sistem pengelolaan dengan pendekatan top-down.
Diketahui, ketahanan subak sebelumnya teruji oleh revolusi hijau tahun 1970-an, ketika pemerintah Indonesia memperkenalkan teknologi-teknologi modern seperti varietas baru padi, pupuk kimia, dan pestisida organik.
Padahal subak sistem irigasi tradisional Bali yang dijaga lebih dari 1.000 tahun, telah dianugerahi status Warisan Dunia untuk kategori lanskap budaya dari UNESCO.
Tidak hanya itu, kepopuleran subak mampu memikat lebih dari dua juta pengunjung setiap tahunnya.
“Lanskap dan tradisi budaya subak sangatlah populer, sehingga petani pun menjual sawah mereka kepada pengembang, dan membuat luas lahan produksi berkurang 1.000 hektar setiap tahunnya,” kata Steve Lansing, antropolog ekologi dalam keterangan tertulisnya di Annual Ecosystem Services Partnership (ESP) Conference ke-6 di Bali, Jumat (30/8/2013).
Steve yang telah mempelajari subak sejak 1974 menyatakan, subak sebagai sebuah sistem yang terpadu sehingga ketika sebagian lahan dijual beban yang ditanggung persawahan di sekitarnya akan meningkat.
Kondisi ini memberikan tekanan yang lebih besar bagi petani untuk menjual sawahnya, yang kemudian mengancam keberlangsungan seluruh sistem.
Dia mengingatkan, jika laju lahan terus tergerus seperti sekarang, maka seluruh lahan subak terancam dan jika tidak ada tindakan yang diambil dalam beberapa tahun keseluruhan sistem akan hancur.
Untuk mencegah hal ini, UNESCO mengadopsi model "bottom-up" yang selama ini telah digunakan subak sebagai rencana perlindungan sistem tersebut.
Dalam rencana yang dikembangkan Steve dan rekan-rekannya yang merupakan penduduk Bali, sebuah Dewan Pengurus yang terdiri dari kepala desa dan subak bertugas mengelola wilayah warisan dunia ini.
Dewan inilah yang memutuskan aspek mana dari lanskap yang dapat melibatkan pengunjung, menarik biaya kunjungan mereka, dan menggunakan pendapatan ini untuk kepentingan bersama.
“Subak akan menjadi situs UNESCO pertama di Asia yang dikelola secara lokal, dan bukan oleh pemerintah,” imbuh Steve.
Dia berharap dewan tersebut dapat bertindak cepat untuk mengatasi ancaman terhadap keberadaan subak.
"Perkembangan penting yang perlu dicatat bagaimana usaha pelestarian tidak hanya dilakukan di lahan persawahan, tapi juga di sistem pengelolaannya,” kata Meine van Noordwijk, kepala peneliti di World Agroforestry Centre yang merangkap sebagai ketua penyelenggara konferensi.
Subak mengelola sistem pengairannya sendiri yang terkait erat satu sama lain.
Hal ini berbeda dengan situs warisan UNESCO lainnya di Asia, di mana biasanya dibentuknya sistem pengelolaan dengan pendekatan top-down.
Diketahui, ketahanan subak sebelumnya teruji oleh revolusi hijau tahun 1970-an, ketika pemerintah Indonesia memperkenalkan teknologi-teknologi modern seperti varietas baru padi, pupuk kimia, dan pestisida organik.
(lns)