Lanjutkan reklamasi pantai Bali = perang baratayudha

Kamis, 01 Agustus 2013 - 13:21 WIB
Lanjutkan reklamasi...
Lanjutkan reklamasi pantai Bali = perang baratayudha
A A A
Sindonews.com - Kalangan akademisi meminta Gubernur Bali Made Mangku Pastika jangan ngotot melanjutkan rencana reklamasi Pantai Teluk Tanjung Benoa, Kabupaten Badung. Karena, selain rencana tersebut mendapat banyak penolakan, juga dinilai melanggar aturan yang lebih tinggi.

Penasehat Forum Peduli Bali Dwipa (FPBD) Prof. Gusti Bagus Wijaya Kusuma dari Universitas Udayana mengatakan, pihaknya tidak ada maksud menolak atau menerima wacana reklamasi di Bali.

"Kami hanya ingin memberi masukan kepada semua pihak, terutama dari sisi hukum yang dinilai cacat," ujarnya dalam seminar di Wantilan DPRD Bali, Kamis (1/8/2013).

Wacana rekamasi yang menuai kontroversi dan penolakan di masyarakat, hendaknya dijadikan bahan pertimbangan gubernur. Terlebih, reklamasi juga melangkahi dua aturan yang lebih tinggi. Dua aturan terbaru sebagai landasan hukumnya itu pertama Peraturan Presiden (Perpres) No.45 tahun 2011 tentang Peta Rencana Perkotaan Sarbagita.

Dalam Perpres tertanggal 27 Juli 2011, itu tidak ada ada peta menyangkut reklamasi Teluk Benoa ini. "Yang ada justru hanya jalan tol di atas perairan Nusa Dua–Benoa, serta reklamasi Pulau Serangan dan Pulau Pudut," bebernya.

Jadi, tambahnya, tidak ada alasan bagi Gubernur Made, untuk ngotot melanjutkan rencana reklamasi Teluk Benoa.

Diketahui, desakan agar Gubernur mencabut SK Nomor 2138/ 02-C/ HK/ 2012 tentang Pemberian Izin dan Hak Pemanfaatan dan Pengembangan Pengelolaan Wilayah Perairan Teluk Benoa kepada PT TWBI terus menguat.

"Desakan tidak perlu ditentang lagi, apalagi harus ngotot untuk melanjutkan reklamasi,” katanya mengingatkan.

Di mata Prof Dr Ibrahim, dosen Guru Besar Ilmu Administrasi Negara Fakultas Hukum yang hadir dalam seminar, jika reklamasi tetap dilanjutkan, maka akan terjadi lagi Perang Baratayudha di Bali.

Pasalnya, adanya reklamasi besar-besaran seluas 838 hektar itu bakal berdampak merusak lingkungan di sekitarnya, dan kini melahirkan kontroversi di masyarakat.

"SK Gubernur itu cacat hukum, namun masalahnya tentu pihak yang mendapat izin akan melakukan gugutan material dan immaterial yang tidak sedikit jika SK dibatalkan," jelas Ibrahim.
(san)
Berita Terkait
Lewat Kompetensi Praktik...
Lewat Kompetensi Praktik Lapangan, Praja Diharapkan Paham Pemerintahan Daerah
Sinergi Pemerintah Pusat...
Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah, BSKDN Kemendagri Tekankan Kolaborasi
Pulihkan Ekonomi, Daerah...
Pulihkan Ekonomi, Daerah Utang Rp12,24 Triliun ke Pusat
BSKDN Kemendagri: Konsep...
BSKDN Kemendagri: Konsep ITKPD Upaya Wujudkan Tujuan Otonomi Daerah
Mengukur Kunci Sukses...
Mengukur Kunci Sukses Daerah, RGSS Resmi Hadir
Majukan Suatu Daerah...
Majukan Suatu Daerah Perlu Merangkul Semua Elemen Termasuk Seniman
Berita Terkini
3 Yayasan Sah di Bawah...
3 Yayasan Sah di Bawah UIN Jakarta, Pengacara: Klaim Sepihak Akan Berdampak Hukum
1 jam yang lalu
Imigrasi Semarang Bongkar...
Imigrasi Semarang Bongkar Praktik Love Scamming, Tangkap 4 WNA China
6 jam yang lalu
Keluhkan Bongkar Muat...
Keluhkan Bongkar Muat Batu Bara di Laut, Nelayan Pulau Ampel: Jadi Susah Tangkap Ikan
6 jam yang lalu
Makin Fleksibel! Keliling...
Makin Fleksibel! Keliling Dunia Nggak Masalah, Daftar BRImo Kini Bisa dari 15 Negara
6 jam yang lalu
Bhakti TNI, Satgas Yonif...
Bhakti TNI, Satgas Yonif 631/Antang Bangun MCK di Dagai Puncak Jaya
6 jam yang lalu
Wujudkan Desa Mandiri,...
Wujudkan Desa Mandiri, BRI Peduli Dorong Wisata dan Edukasi Berbasis Masyarakat di Ketapanrame
7 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved