Remaja wanita asal Garut hilang dibawa pacarnya
Kamis, 20 Juni 2013 - 01:18 WIB
Remaja wanita asal Garut hilang dibawa pacarnya
A
A
A
Sindonews.com - Sudah dua bulan, Cucun (15), warga Kampung Naringgul RT03 RW05, Desa Hegarsari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, tidak ada kabar.
Putri keempat dari tujuh bersaudara pasangan Endan (48) dan Enur (40) ini, tidak diketahui keberadaannya sejak meninggalkan rumah pada 16 April 2013 lalu.
Ayah Cucun, Endan, menuturkan, puterinya tersebut pergi meninggalkan rumah bersama dengan seorang lelaki yang disebut-sebut bernama Ade (38). Ketika itu, Ade meminta izin kepada dirinya agar bisa membawa Cucun ke Tangerang, Banten, untuk dipertemukan dengan orang tuanya.
“Tujuan dibawanya anak saya itu adalah untuk diperkenalkan kepada orang tua Ade. Anak saya dan Ade memang memiliki hubungan khusus. Bahkan, anak saya selalu merengek untuk bisa dinikahi oleh Ade. Karena permintaan anak saya ini pula, Ade datang ke rumah dan menjanjikan Cucun agar bisa bertemu dengan orang tua Ade di sana (Tangerang) untuk berkenalan lebih jauh,” kata Endan saat ditemui Rabu (19/6/2013).
Namun, lanjut Endan, ia dan keluarganya hanya mengizinkan waktu bagi Cucun satu hari saja. Akan tetapi, Cucun tidak kunjung pulang ke rumah.
“Saya sempat menghubungi nomor ponsel anak saya itu di hari ketika ia berangkat dari rumah. Saat dihubungi, anak saya dan Ade tengah berada di Terminal Leuwipanjang, Bandung. Saya kira semua akan baik-baik saja. Namun ketika dihubungi kembali, nomornya tidak aktif sampai sekarang,” tuturnya.
Lebih jauh Endan memaparkan awal perkenalan Ade dengan puterinya tersebut. Sebelum memiliki hubungan khusus, keduanya sering berkomunikasi melalui situs jejaring sosial Facebook dan telepon selular sejak Februari sebelumnya.
“Saya kira itu hanya main-main saja. Hingga akhirnya Ade ini sering datang ke rumah untuk mengunjungi anak saya. Saya amati hubungan mereka semakin serius, karena setiap datang ke rumah, anak saya pasti selalu dibawakan baju baru, jam tangan, sampai handphone. Hingga pada akhirnya, anak saya meminta pada saya dan ibunya untuk tidak meneruskan sekolah ke SMA dan menikah dengannya. Saya pun menyanggupi permintaan itu namun dengan syarat, anak saya ini harus lulus SMP dulu,” urai Endan yang sehari-hari berprofesi sebagai petani ini memaparkan.
Menurut Endan, ketika sering berkunjung ke rumah, Ade sering menceritakan perihal pekerjaan dan keluarganya di Tangerang. Dari perbincangan itu, diperoleh informasi bahwa Ade bekerja di tempat penggilingan rongsokan kawasan Cicalengka, Kabupaten Bandung.
“Setelah anak saya hilang begini, saya sudah dua kali mendatangi tempat kerja Ade di Cicalengka. Tapi, si pemilik tempatnya bekerja mengatakan bila Ade sudah tidak pernah masuk kerja. Kemudian saya datang ke daerah yang disebut-sebut Ade sebagai tempat tinggalnya di Tangerang. Lagi-lagi, saya tidak menemukan alamat pastinya. Karena masih penasaran, saya juga sempat datangi delapan orang pintar hanya untuk menanyakan kabar Cucun. Tapi percuma karena semuanya tidak membuahkan hasil,” katanya.
Disebutkan Endan, dirinya kini sudah tidak memiliki uang sepeser pun untuk dapat mencari keberadaan Cucun. Uang tabungan yang tadinya akan digunakan untuk membiayai anak-anaknya masuk sekolah dan keperluan rumah tangga, semuanya habis dipakai sebagai akomodasi dan transport saat ia mencari Cucun.
“Saya berharap, Cucun bisa segera mengabari kami dan pulang ke rumah,” ucapnya.
Endan yakin, anaknya ini telah menjadi korban penculikan Ade. Pasalnya, bila Ade berniat untuk menikahi puterinya tersebut, pasti Cucun akan dapat mengabarinya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA) Nitta K Wijaya mengatakan, media jejaring sosial Facebook dan HP sangat rentan dalam kasus penculikan anak dibawah umur. Sebagian besar kasus hilangnya remaja putri, kata dia, kasusnya didominasi oleh maraknya penggunaan media-media tersebut oleh anak dibawah umur.
“Kasus seperti ini malah bukan hanya terjadi di Garut saja, tapi di daerah lain juga. Diperlukan pengawasan dari orangtua saat mereka mengakses media tersebut,” tukasnya.
Putri keempat dari tujuh bersaudara pasangan Endan (48) dan Enur (40) ini, tidak diketahui keberadaannya sejak meninggalkan rumah pada 16 April 2013 lalu.
Ayah Cucun, Endan, menuturkan, puterinya tersebut pergi meninggalkan rumah bersama dengan seorang lelaki yang disebut-sebut bernama Ade (38). Ketika itu, Ade meminta izin kepada dirinya agar bisa membawa Cucun ke Tangerang, Banten, untuk dipertemukan dengan orang tuanya.
“Tujuan dibawanya anak saya itu adalah untuk diperkenalkan kepada orang tua Ade. Anak saya dan Ade memang memiliki hubungan khusus. Bahkan, anak saya selalu merengek untuk bisa dinikahi oleh Ade. Karena permintaan anak saya ini pula, Ade datang ke rumah dan menjanjikan Cucun agar bisa bertemu dengan orang tua Ade di sana (Tangerang) untuk berkenalan lebih jauh,” kata Endan saat ditemui Rabu (19/6/2013).
Namun, lanjut Endan, ia dan keluarganya hanya mengizinkan waktu bagi Cucun satu hari saja. Akan tetapi, Cucun tidak kunjung pulang ke rumah.
“Saya sempat menghubungi nomor ponsel anak saya itu di hari ketika ia berangkat dari rumah. Saat dihubungi, anak saya dan Ade tengah berada di Terminal Leuwipanjang, Bandung. Saya kira semua akan baik-baik saja. Namun ketika dihubungi kembali, nomornya tidak aktif sampai sekarang,” tuturnya.
Lebih jauh Endan memaparkan awal perkenalan Ade dengan puterinya tersebut. Sebelum memiliki hubungan khusus, keduanya sering berkomunikasi melalui situs jejaring sosial Facebook dan telepon selular sejak Februari sebelumnya.
“Saya kira itu hanya main-main saja. Hingga akhirnya Ade ini sering datang ke rumah untuk mengunjungi anak saya. Saya amati hubungan mereka semakin serius, karena setiap datang ke rumah, anak saya pasti selalu dibawakan baju baru, jam tangan, sampai handphone. Hingga pada akhirnya, anak saya meminta pada saya dan ibunya untuk tidak meneruskan sekolah ke SMA dan menikah dengannya. Saya pun menyanggupi permintaan itu namun dengan syarat, anak saya ini harus lulus SMP dulu,” urai Endan yang sehari-hari berprofesi sebagai petani ini memaparkan.
Menurut Endan, ketika sering berkunjung ke rumah, Ade sering menceritakan perihal pekerjaan dan keluarganya di Tangerang. Dari perbincangan itu, diperoleh informasi bahwa Ade bekerja di tempat penggilingan rongsokan kawasan Cicalengka, Kabupaten Bandung.
“Setelah anak saya hilang begini, saya sudah dua kali mendatangi tempat kerja Ade di Cicalengka. Tapi, si pemilik tempatnya bekerja mengatakan bila Ade sudah tidak pernah masuk kerja. Kemudian saya datang ke daerah yang disebut-sebut Ade sebagai tempat tinggalnya di Tangerang. Lagi-lagi, saya tidak menemukan alamat pastinya. Karena masih penasaran, saya juga sempat datangi delapan orang pintar hanya untuk menanyakan kabar Cucun. Tapi percuma karena semuanya tidak membuahkan hasil,” katanya.
Disebutkan Endan, dirinya kini sudah tidak memiliki uang sepeser pun untuk dapat mencari keberadaan Cucun. Uang tabungan yang tadinya akan digunakan untuk membiayai anak-anaknya masuk sekolah dan keperluan rumah tangga, semuanya habis dipakai sebagai akomodasi dan transport saat ia mencari Cucun.
“Saya berharap, Cucun bisa segera mengabari kami dan pulang ke rumah,” ucapnya.
Endan yakin, anaknya ini telah menjadi korban penculikan Ade. Pasalnya, bila Ade berniat untuk menikahi puterinya tersebut, pasti Cucun akan dapat mengabarinya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA) Nitta K Wijaya mengatakan, media jejaring sosial Facebook dan HP sangat rentan dalam kasus penculikan anak dibawah umur. Sebagian besar kasus hilangnya remaja putri, kata dia, kasusnya didominasi oleh maraknya penggunaan media-media tersebut oleh anak dibawah umur.
“Kasus seperti ini malah bukan hanya terjadi di Garut saja, tapi di daerah lain juga. Diperlukan pengawasan dari orangtua saat mereka mengakses media tersebut,” tukasnya.
(rsa)