Tak juga surut, ribuan warga Mijen mengungsi
Rabu, 10 April 2013 - 17:08 WIB
Tak juga surut, ribuan warga Mijen mengungsi
A
A
A
Sindonews.com - Banjir yang disebabkan jebolnya tanggul sungai memaksa warga empat desa di Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah mengungsi. Sayangnya hingga kini, belum ada bantuan logistik bagi para pengungsi.
Pantauan SINDO pada Rabu (10/4/2013) siang sekira pukul 14.30 WIB, sebagian warga mulai mengungsi di rumah kerabat atau madrasah yang bangunannya berlantai dua.
Sementara di Dusun Ngempak Desa Jleper, salah satu lokasi yang dijadikan tempat pengungsian adalah Madrasah Diniyyah Taswiqussalaf. Di lokasi ini, ada sekira 50 warga yang mengungsi. Puluhan orang ini menempati ruangkelas madin yang bangunannya berlantai dua ini.
Salah seorang pengungsi, Ali Saidi (45), warga Desa Jleper Kecamatan Mijen mengatakan mengungsi bersama lima orang anggota keluarganya. Ia terpaksa mengungsi karena air yang menggenangi rumahnya masih berkisar antara 2-3 meter.
"Tidak banyak barang yang bisa saya selamatkan karena air dengan cepat masuk sehingga saya prioritaskan menyelamatkan anggota keluarga," kata Ali Saidi, di Demak, Rabu (10/4/2013).
Warga lain yang juga mengungsi di Madin Tasywiqussalaf, Sutinah (58) mengatakan ia dan enam anggota keluarganya sudah mengungsi sejak Selasa 9 April 2013. Hanya hingga kini belum menerima bantuan dari pihak pemerintah.
"Hingga sekarang makanan saya beli sendiri di warung warga yang rumahnya tidak terendam air," tuturnya.
Sementara itu, Camat Mijen Sugiyarto mengatakan pihaknya sudah mendistribusikan bantuan berupa bahan pangan kesejumlah desa. Bahan pangan tersebut rencananya akan diolah di dapur umum yang didirikan di desa korban banjir.
"Kita memang tidak membuat dapur umum di kecamatan. Sebab lokasi banjir tersebar dan jangkauannya juga jauh dari kantor kecamatan. Makanya bantuan kita serahkan ke desa masing-masing," tandasnya.
Pantauan SINDO pada Rabu (10/4/2013) siang sekira pukul 14.30 WIB, sebagian warga mulai mengungsi di rumah kerabat atau madrasah yang bangunannya berlantai dua.
Sementara di Dusun Ngempak Desa Jleper, salah satu lokasi yang dijadikan tempat pengungsian adalah Madrasah Diniyyah Taswiqussalaf. Di lokasi ini, ada sekira 50 warga yang mengungsi. Puluhan orang ini menempati ruangkelas madin yang bangunannya berlantai dua ini.
Salah seorang pengungsi, Ali Saidi (45), warga Desa Jleper Kecamatan Mijen mengatakan mengungsi bersama lima orang anggota keluarganya. Ia terpaksa mengungsi karena air yang menggenangi rumahnya masih berkisar antara 2-3 meter.
"Tidak banyak barang yang bisa saya selamatkan karena air dengan cepat masuk sehingga saya prioritaskan menyelamatkan anggota keluarga," kata Ali Saidi, di Demak, Rabu (10/4/2013).
Warga lain yang juga mengungsi di Madin Tasywiqussalaf, Sutinah (58) mengatakan ia dan enam anggota keluarganya sudah mengungsi sejak Selasa 9 April 2013. Hanya hingga kini belum menerima bantuan dari pihak pemerintah.
"Hingga sekarang makanan saya beli sendiri di warung warga yang rumahnya tidak terendam air," tuturnya.
Sementara itu, Camat Mijen Sugiyarto mengatakan pihaknya sudah mendistribusikan bantuan berupa bahan pangan kesejumlah desa. Bahan pangan tersebut rencananya akan diolah di dapur umum yang didirikan di desa korban banjir.
"Kita memang tidak membuat dapur umum di kecamatan. Sebab lokasi banjir tersebar dan jangkauannya juga jauh dari kantor kecamatan. Makanya bantuan kita serahkan ke desa masing-masing," tandasnya.
(ysw)