Sering diejek dan diolok buat orang sadis
Sabtu, 09 Maret 2013 - 08:31 WIB
Sering diejek dan diolok buat orang sadis
A
A
A
Sindonews.com - Motif ekonomi selalu menjadi alasan pelaku tindakan kriminal. Namun untuk kasus kriminal tertentu seperti pembunuhan, sifatnya interpersonal dan tidak punya hubungan langsung dengan persoalan ekonomi.
"Kalau pembunuhan secara langsung tidak memiliki hubungan dengan masalah ekonomi, itu sifatnya interpersonal, lebih bersifat hubungan pribadi," ujar kriminolog dari Universitas Indonesia Iqrak Sulhin saat dihubungi Sindonews, Sabtu (9/3/2013).
Dijelaskan dia, kasus-kasus pembunuhan atau pemerkosaan yang terjadi belakangan ini, lebih disebabkan adanya perasaan personal yang merasa tidak diterima publik.
"Biasanya orang yang merasa tidak diterima publik cenderung melakukan aksi di luar dugaan, karena merasa tidak diterima publik seperti diejek atau diolok-olok," terangnya.
Karena itu, dia mengingatkan bahayanya stigmatisasi terhadap seseorang yang berlebihan di masyarakat. Karena dapat menjadi mengakibatkan seorang kehilangan kontrol.
Dia memberi contoh kasus mutilasi di Tol Cikampek. Sejak awal, dia mengaku sudah melihat adanya indikasi kriminal, karena sering terjadi KDRT. Namun tidak adanya awareness dari masyarakat, membuat pelaku lebih leluasa melakukan tindakan di luar dugaan atau abnormal.
"Seharusnya ada awareness dari masyarakat kepada indikasi-indikasi yang mengarah pada kriminalitas yang lebih tinggi. Dibutuhkan partisipasi aktif masyarakat untuk itu," terangnya.
"Kalau pembunuhan secara langsung tidak memiliki hubungan dengan masalah ekonomi, itu sifatnya interpersonal, lebih bersifat hubungan pribadi," ujar kriminolog dari Universitas Indonesia Iqrak Sulhin saat dihubungi Sindonews, Sabtu (9/3/2013).
Dijelaskan dia, kasus-kasus pembunuhan atau pemerkosaan yang terjadi belakangan ini, lebih disebabkan adanya perasaan personal yang merasa tidak diterima publik.
"Biasanya orang yang merasa tidak diterima publik cenderung melakukan aksi di luar dugaan, karena merasa tidak diterima publik seperti diejek atau diolok-olok," terangnya.
Karena itu, dia mengingatkan bahayanya stigmatisasi terhadap seseorang yang berlebihan di masyarakat. Karena dapat menjadi mengakibatkan seorang kehilangan kontrol.
Dia memberi contoh kasus mutilasi di Tol Cikampek. Sejak awal, dia mengaku sudah melihat adanya indikasi kriminal, karena sering terjadi KDRT. Namun tidak adanya awareness dari masyarakat, membuat pelaku lebih leluasa melakukan tindakan di luar dugaan atau abnormal.
"Seharusnya ada awareness dari masyarakat kepada indikasi-indikasi yang mengarah pada kriminalitas yang lebih tinggi. Dibutuhkan partisipasi aktif masyarakat untuk itu," terangnya.
(san)