4.000 hektare sawah & 95 desa terendam
Senin, 18 Februari 2013 - 13:22 WIB
4.000 hektare sawah & 95 desa terendam
A
A
A
Sindonews.com - Akibat meluapnya Sungai Bengawasn SOlo, sekira 4.000 hektare sawah di Kabupaten Bojonegoro terendam banjir. Tidak hanya sawah, luapan sungai terbesar di Jawa Tengah itu juga membuat 95 desa terendam.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Dinas PU Pengairan Jatim Sunoko mengatakan, penyebab banjir di Kabupaten Bojonegoro karena hujan yang mencapai 100 Mililiter di Kawasan Ngawi, Pacitan, Ponorogo, dan Tawang Mangu.
"Intensitas hujan mencapai 100 mililiter lebih sehingga arusnya masuk ke melalui Bengawan Solo. Sementara sejumlah anak-anak sungai tidak mampu menampung hingga akhirnya meluap ke pemukiman," katanya, Senin (18/2/2013).
Banjir yang terjadi sejak hari Sabtu lalu, menggenangi 95 Desa di 13 Kecamatan. Dengan ketinggian air mencapai satu meter. Paling parah terjadi di Desa Ledokkulan dan Ledokwetan.
"Tapi sekarang sudah mulai surut. Kita berharap selama dua hari ini di hulu tidak terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Jika sampai terjadi pasti akan terjadi banjir lagi," terang Sunoko.
Ia juga menjelaskan, banjir yang menggenangi 95 desa tersebut tidak semua masuk ke pemikiman warga. Saat ini Dinas PU Pengairan terus melakukan upaya-upaya agar luapan air di Sungai Bengawan Solo tidak masuk ke pemukiman warga.
Salah satunya adalah memperlebar aliran sungai di Plankwod yang menuju ke laut. Plankwod ini merupakan sudetan dari Sungai Bengawan Solo yang panjangnya mencapai 75 kilometer ke laut.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Dinas PU Pengairan Jatim Sunoko mengatakan, penyebab banjir di Kabupaten Bojonegoro karena hujan yang mencapai 100 Mililiter di Kawasan Ngawi, Pacitan, Ponorogo, dan Tawang Mangu.
"Intensitas hujan mencapai 100 mililiter lebih sehingga arusnya masuk ke melalui Bengawan Solo. Sementara sejumlah anak-anak sungai tidak mampu menampung hingga akhirnya meluap ke pemukiman," katanya, Senin (18/2/2013).
Banjir yang terjadi sejak hari Sabtu lalu, menggenangi 95 Desa di 13 Kecamatan. Dengan ketinggian air mencapai satu meter. Paling parah terjadi di Desa Ledokkulan dan Ledokwetan.
"Tapi sekarang sudah mulai surut. Kita berharap selama dua hari ini di hulu tidak terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Jika sampai terjadi pasti akan terjadi banjir lagi," terang Sunoko.
Ia juga menjelaskan, banjir yang menggenangi 95 desa tersebut tidak semua masuk ke pemikiman warga. Saat ini Dinas PU Pengairan terus melakukan upaya-upaya agar luapan air di Sungai Bengawan Solo tidak masuk ke pemukiman warga.
Salah satunya adalah memperlebar aliran sungai di Plankwod yang menuju ke laut. Plankwod ini merupakan sudetan dari Sungai Bengawan Solo yang panjangnya mencapai 75 kilometer ke laut.
(ysw)