Sepekan, kasus DBD di Yogya naik 100 persen
Rabu, 30 Januari 2013 - 10:53 WIB
Sepekan, kasus DBD di Yogya naik 100 persen
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta saat ini sedang mewaspadai kasus Deman Berdarah Dengue (DBD) menjadi kejadian luar biasa (KLB). Ini lantaran kasus DBD terus meningkat.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Yogyakarta, mencatat hingga kini sudah ada 60 kasus. Jumlah ini meningkat 100 persen jika dibandingkan Rabu 23 Januari 2013 pekan lalu, yakni 30 kasus.
Dari 14 kecamatan, DBD paling banyak terjadi di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Umbulharjo, Wirobrajan, Ngampilan, dan Kotagede. Namun begitu seluruh kecamatan tetap diminta mewaspadai DBD tersebut. Apalagi peningkatan ini diprediksikan akan terus terjadi hingga Februari mendatang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Yogyakarta Tuty Setyowati mengatakan, walau kasus DBD ini terus meningkat, namun belum akan menetapkan KLB.
Selain belum ada yang meninggal, untuk penentuan KLB juga ada beberapa parameter. Salah satunya jarak lokasi penderita DBB, yakni kurang dari 300 meter ada penderita DBD lain.
“Karena itu, untuk mengantisipasi dan mencegah merebaknya penyakit ini, selain minta wara mewaspadai kasus DBD, juga dengan membiasakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dan pemberantasan saran nyamuk (PSN),” kata Tuty, Rabu (30/1/2013).
Namun untuk PSN tidak dengan pengasapan atau fogging, karena obat untuk fogging itu berbahaya bagi lingkungan. Untuk itu, selain dengan mengirimkan surat edaran ke puskesmas dan kecamatan untuk hal tersebut. Juga mengaktifkan petugas survailans di setiap kelurahan.
“Untuk petugas kami sudah menerjunkan 54 petugas yang akan memantau kasus DBD di masyarakat,” paparnya.
Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Yogyakarta Harris Syarif Usman mengatakan, PMI siap memenuhi kebutuhan darah, jika permintaan meningkat akibat merebaknya DBD.
Stok darah di PMI Yogyakarta sendiri rata-rata ada 75 kantong darah per hari. Sedangkan permintaan darah rata-rata mencapai 50 hingga 75 kantong setiap harinya.
Usman menambahkan, untuk memenuhi stok darah tersebut, selain saat ini dengan mendata kembali para pendonor, juga bekerjasama dengan Palang Merah Remaja (PMR) untuk menjaring pendonor sukarela khususnya remaja dan instansi-instansi tertentu untuk donor darah massal serta berkoordinasi dengan PMI kabupaten.
“Kami juga memiliki tiga alat pengolah darah yang mencukupi jika terjadi peningkatan permintaan trombosit,” terangnya.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Yogyakarta, mencatat hingga kini sudah ada 60 kasus. Jumlah ini meningkat 100 persen jika dibandingkan Rabu 23 Januari 2013 pekan lalu, yakni 30 kasus.
Dari 14 kecamatan, DBD paling banyak terjadi di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Umbulharjo, Wirobrajan, Ngampilan, dan Kotagede. Namun begitu seluruh kecamatan tetap diminta mewaspadai DBD tersebut. Apalagi peningkatan ini diprediksikan akan terus terjadi hingga Februari mendatang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Yogyakarta Tuty Setyowati mengatakan, walau kasus DBD ini terus meningkat, namun belum akan menetapkan KLB.
Selain belum ada yang meninggal, untuk penentuan KLB juga ada beberapa parameter. Salah satunya jarak lokasi penderita DBB, yakni kurang dari 300 meter ada penderita DBD lain.
“Karena itu, untuk mengantisipasi dan mencegah merebaknya penyakit ini, selain minta wara mewaspadai kasus DBD, juga dengan membiasakan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dan pemberantasan saran nyamuk (PSN),” kata Tuty, Rabu (30/1/2013).
Namun untuk PSN tidak dengan pengasapan atau fogging, karena obat untuk fogging itu berbahaya bagi lingkungan. Untuk itu, selain dengan mengirimkan surat edaran ke puskesmas dan kecamatan untuk hal tersebut. Juga mengaktifkan petugas survailans di setiap kelurahan.
“Untuk petugas kami sudah menerjunkan 54 petugas yang akan memantau kasus DBD di masyarakat,” paparnya.
Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Yogyakarta Harris Syarif Usman mengatakan, PMI siap memenuhi kebutuhan darah, jika permintaan meningkat akibat merebaknya DBD.
Stok darah di PMI Yogyakarta sendiri rata-rata ada 75 kantong darah per hari. Sedangkan permintaan darah rata-rata mencapai 50 hingga 75 kantong setiap harinya.
Usman menambahkan, untuk memenuhi stok darah tersebut, selain saat ini dengan mendata kembali para pendonor, juga bekerjasama dengan Palang Merah Remaja (PMR) untuk menjaring pendonor sukarela khususnya remaja dan instansi-instansi tertentu untuk donor darah massal serta berkoordinasi dengan PMI kabupaten.
“Kami juga memiliki tiga alat pengolah darah yang mencukupi jika terjadi peningkatan permintaan trombosit,” terangnya.
(rsa)