Guru bahasa daerah se-Indonesia terancam tak kerja
Senin, 31 Desember 2012 - 12:15 WIB
Guru bahasa daerah se-Indonesia terancam tak kerja
A
A
A
Sindonews.com - Kurikulum 2013 yang menyebut akan meniadakan mata pelajaran muatan lokal (Mulok), dinilai akan mengancam banyak guru pengajar bahasa daerah di Indonesia.
Pasalnya, secara otomatis para guru tersebut akan kehilangan pekerjaannya jika benar kurikulum 2013 yang kini masih uji publik tersebut jadi diterapkan.
"Kurikulum 2013 meniadakan mata pelajaran muatan lokal (mulok), pengaruhnya bukan hanya kepada guru pengajar bahasa sunda tetapi juga kepada seluruh guru pengajar bahasa daerah di Indonesia dan mahasiswa yang mendalami bahasa daerah," kata Ketua Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) Iwan Hermawan, Senin (31/12/2012).
Iwan yang mengikuti aksi budaya menolak kurikulum 2013 di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, hari ini, menyatakan penolakannya terhadap Kurikulum 2013.
"Bukan guru Bahasa Sunda saja yang terancam, guru Bahasa Padang, Bali, Jawa, dan pengajar bahasa daerah lainnya di Indonesia juga terancam kehilangan pekerjaannya," tambahnya.
Perubahan kurikulum, menurutnya, mereduksi mata pelajaran mulok, khususnya pelajaran bahasa daerah. Kurikulum baru akan mengintegrasikan pelajaran bahasa daerah ke dalam pelajaran seni budaya dan olah raga. Dengan begitu, lanjutnya, pengajar seni, budaya, dan olah raga akan disatugurukan.
"Maka selain mengancam guru bahasa daerah, Kurikulum 2013 juga mengancam guru pengajar mulok lainnya seperti guru bahasa inggris SD dan TK," jelasnya.
Kurikulum baru ini, lajutn Iwan, akan mulai diberlakukan Juni 2013. Para guru mulok hanya memiliki enam bulan sebagai persiapan.
"Persiapan enam bulan ini tidak akan cukup, maka kita harus menolak Kurikulum 2013," tegasnya.
Menurutnya, perubahan Kurikulum 2013 bukan inisiatif Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Iwan menuduh, ada desakan politis dalam penyusunan kurikulum ini.
"Ini karena kepentingan kapitalis yang diuntungkan penerbit karena nantinya ada buku pelajaran baru. Penyusunan kurikulum jelas merugikan, juga tidak melibatkan guru," paparnya.
Selain itu, seorang guru bahasa sunda dari Banten yang turut dalam aksi menolak kurikulum, Deni, mengaku khawatir dengan adanya Kurikulum 2013. Dia khawatir bukan karena dirinya akan kehilangan pekerjaan, tetapi akan banyak guru yang jadi korban.
"Kurikulum 2013 jelas ini mengancam guru-guru mulok. Makanya saya ikut aksi," kata Deni.
Pasalnya, secara otomatis para guru tersebut akan kehilangan pekerjaannya jika benar kurikulum 2013 yang kini masih uji publik tersebut jadi diterapkan.
"Kurikulum 2013 meniadakan mata pelajaran muatan lokal (mulok), pengaruhnya bukan hanya kepada guru pengajar bahasa sunda tetapi juga kepada seluruh guru pengajar bahasa daerah di Indonesia dan mahasiswa yang mendalami bahasa daerah," kata Ketua Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) Iwan Hermawan, Senin (31/12/2012).
Iwan yang mengikuti aksi budaya menolak kurikulum 2013 di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, hari ini, menyatakan penolakannya terhadap Kurikulum 2013.
"Bukan guru Bahasa Sunda saja yang terancam, guru Bahasa Padang, Bali, Jawa, dan pengajar bahasa daerah lainnya di Indonesia juga terancam kehilangan pekerjaannya," tambahnya.
Perubahan kurikulum, menurutnya, mereduksi mata pelajaran mulok, khususnya pelajaran bahasa daerah. Kurikulum baru akan mengintegrasikan pelajaran bahasa daerah ke dalam pelajaran seni budaya dan olah raga. Dengan begitu, lanjutnya, pengajar seni, budaya, dan olah raga akan disatugurukan.
"Maka selain mengancam guru bahasa daerah, Kurikulum 2013 juga mengancam guru pengajar mulok lainnya seperti guru bahasa inggris SD dan TK," jelasnya.
Kurikulum baru ini, lajutn Iwan, akan mulai diberlakukan Juni 2013. Para guru mulok hanya memiliki enam bulan sebagai persiapan.
"Persiapan enam bulan ini tidak akan cukup, maka kita harus menolak Kurikulum 2013," tegasnya.
Menurutnya, perubahan Kurikulum 2013 bukan inisiatif Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Iwan menuduh, ada desakan politis dalam penyusunan kurikulum ini.
"Ini karena kepentingan kapitalis yang diuntungkan penerbit karena nantinya ada buku pelajaran baru. Penyusunan kurikulum jelas merugikan, juga tidak melibatkan guru," paparnya.
Selain itu, seorang guru bahasa sunda dari Banten yang turut dalam aksi menolak kurikulum, Deni, mengaku khawatir dengan adanya Kurikulum 2013. Dia khawatir bukan karena dirinya akan kehilangan pekerjaan, tetapi akan banyak guru yang jadi korban.
"Kurikulum 2013 jelas ini mengancam guru-guru mulok. Makanya saya ikut aksi," kata Deni.
(rsa)