2014, Depok targetkan balita bebas gizi buruk
Sabtu, 29 Desember 2012 - 17:59 WIB
2014, Depok targetkan balita bebas gizi buruk
A
A
A
Sindonews.com - Dinas Kesehatan Kota Depok mengklaim, telah berhasil mengurangi angka balita gizi buruk secara signifikan. Dari tahun 2006, jumlah balita gizi buruk mencapai 1.100 balita, hingga akhir tahun 2012 hanya tinggal 52 balita.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Hardiono mengatakan, penuntasan kasus gizi buruk harus melibatkan peran serta siapa saja. Bahkan, Depok sudah berhasil melampaui skala nasional yang ditargetkan Kementrian Kesehatan (Kemenkes) yakni 0,5 persen kasus gizi buruk dari total balita masih ditolerir.
"Justru kami sudah melampaui target, ini prestasi, sudah melampaui target tahun 2016, saya akan merevisi rencana strategi (renstra) bahwa tahun 2014 targetnya nol persen balita gizi buruk, sebab sekarang saja kami hanya 0,04 persen dari total balita," papar Hardiono kepada wartawan, di Depok, Sabtu (29/12/2012).
Total balita di Depok sebanyak 127.159 balita. Sementara 52 balita gizi buruk yang masih ditemukan, merupakan sisa dari kasus yang akan dituntaskan. Pihaknya memiliki tenaga gizi di 17 Puskesmas, masing-masing dua orang.
"Serta ada 25 pos gizi untuk dilakukan penimbangan bayi juga. Serta program Positive deviance, atau melibatkan para orang tua yang telah sukses membuat anak mereka tak lagi gizi buruk, untuk menularkan ilmunya ke balita gizi buruk lainnya di 13 pos gizi," tegas Hardiono.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Depok Dewi Damayanti mengatakan, tantangan yang harus dihadapi yakni memberikan pemahaman kepada para orang tua bagaimana cara untuk menangani balita gizi buruk.
Sebab, kata Dewi, setiap balita gizi buruk yang ditemukan pada saat penimbangan bayi di Posyandu, sulit untuk dirawat inap di panti Pusat Pemulihan Gizi (PPG) yang disediakan Pemkot Depok.
"Banyak orang tua yang menolak anaknya dirawat di PPG, karena menilai anaknya enggak sakit, anaknya lincah kok walaupun beratnya tidak sesuai dengan tinggi badan atau dinyatakan gizi buruk, sehingga jika demikian, pasti kami rawat jalan dan dikontrol oleh Puskesmas tiap bulan," terangnya.
Sedikitnya terdapat lima PPG yang dibangun oleh Pemkot Depok, yakni di kecamatan Sukmajaya (rawat inap), Cimanggis, Sawangan, Tapos, dan Pancoranmas. Dewi menambahkan pihaknya juga rutin memantau balita yang pernah dirawat di PPG, agar tak kembali gizi burut atau turun berat badannya.
"Apalagi kalau ada penyakit penyerta, misalnya TB paru, apakah karena gizi buruk maka jadi TB paru atau sebaliknya, di PPG banyak orang tua yang menolak karena anaknya harus ditungguin. Sebab orang tua juga diajarkan membuat makanan, cara berikan makanan, serta dipantau tumbuh kembangnya, makanya ini perlu pendekatan yang ekstra," imbuhnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Hardiono mengatakan, penuntasan kasus gizi buruk harus melibatkan peran serta siapa saja. Bahkan, Depok sudah berhasil melampaui skala nasional yang ditargetkan Kementrian Kesehatan (Kemenkes) yakni 0,5 persen kasus gizi buruk dari total balita masih ditolerir.
"Justru kami sudah melampaui target, ini prestasi, sudah melampaui target tahun 2016, saya akan merevisi rencana strategi (renstra) bahwa tahun 2014 targetnya nol persen balita gizi buruk, sebab sekarang saja kami hanya 0,04 persen dari total balita," papar Hardiono kepada wartawan, di Depok, Sabtu (29/12/2012).
Total balita di Depok sebanyak 127.159 balita. Sementara 52 balita gizi buruk yang masih ditemukan, merupakan sisa dari kasus yang akan dituntaskan. Pihaknya memiliki tenaga gizi di 17 Puskesmas, masing-masing dua orang.
"Serta ada 25 pos gizi untuk dilakukan penimbangan bayi juga. Serta program Positive deviance, atau melibatkan para orang tua yang telah sukses membuat anak mereka tak lagi gizi buruk, untuk menularkan ilmunya ke balita gizi buruk lainnya di 13 pos gizi," tegas Hardiono.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Depok Dewi Damayanti mengatakan, tantangan yang harus dihadapi yakni memberikan pemahaman kepada para orang tua bagaimana cara untuk menangani balita gizi buruk.
Sebab, kata Dewi, setiap balita gizi buruk yang ditemukan pada saat penimbangan bayi di Posyandu, sulit untuk dirawat inap di panti Pusat Pemulihan Gizi (PPG) yang disediakan Pemkot Depok.
"Banyak orang tua yang menolak anaknya dirawat di PPG, karena menilai anaknya enggak sakit, anaknya lincah kok walaupun beratnya tidak sesuai dengan tinggi badan atau dinyatakan gizi buruk, sehingga jika demikian, pasti kami rawat jalan dan dikontrol oleh Puskesmas tiap bulan," terangnya.
Sedikitnya terdapat lima PPG yang dibangun oleh Pemkot Depok, yakni di kecamatan Sukmajaya (rawat inap), Cimanggis, Sawangan, Tapos, dan Pancoranmas. Dewi menambahkan pihaknya juga rutin memantau balita yang pernah dirawat di PPG, agar tak kembali gizi burut atau turun berat badannya.
"Apalagi kalau ada penyakit penyerta, misalnya TB paru, apakah karena gizi buruk maka jadi TB paru atau sebaliknya, di PPG banyak orang tua yang menolak karena anaknya harus ditungguin. Sebab orang tua juga diajarkan membuat makanan, cara berikan makanan, serta dipantau tumbuh kembangnya, makanya ini perlu pendekatan yang ekstra," imbuhnya.
(mhd)