Kakak adik di Majene derita lumpuh layu
Minggu, 23 Desember 2012 - 17:26 WIB
Kakak adik di Majene derita lumpuh layu
A
A
A
Sindonews.com – Karena didera kemiskinan, dua saudara yang masih kakak-adik di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), yakni Jumardi dan Jupriadi, menderita lumpuh layu.
Kondisi tubuh anak dari pasangan Jusman dan Hasmiah, warga Lingkungan Garogo Kelurahan Baru, Kecamatan Banggae, sungguh memprihatinkan.
Kepada SINDO, Hasmiah, ibu dua bocah anak menuturkan, Jumardi kini berusia 7 tahun namun hanya berbobot 9,1 kilogram. Bahkan, pada saat usia 6 tahun, Jumardi belum bisa berjalan seperti seperti anak lain.
“Sekarang baru bisa. Itupun belum normal seperti anak lain sebayanya,” tutur Hasmiah saat membawa anaknya ke Posyandu Flamboyan, kemarin.
Hal yang sama dialami adiknya, Jupriadi. Pada usianya saat ini 3,8 tahun, berat badannya hanya 6,8 kilogram.
Kasus yang dialami Jupriadi tidak jauh beda dengan kakaknya. Lebih parah lagi, adik Jumardi itu tak hanya tidak bisa jalan, untuk duduk pun tidak bisa karena tulang-tulangnya tidak kuat menahan badannya.
Diceritakan Hasmiah, sejak ia melahirkan Jumardi, kondisi kesehatannya memang mengalami banyak masalah. Tubuhnya drop hingga mengakibatkan pertumbuhan fisiknya terganggu.
Pada saat itu, ia bersamabersama suaminya, membawa anaknya ke pusat pelayanan kesehatan Totoli, Kecamatan Bangge. Tetapi, hasilnya tidak maksimal. Bahkan, pernah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majene, namun pihak keluarga terkendala pada biaya.
Mengenai kondisi Jumardi dan Jupriadi, Rimba, salah seorang bidan posyandu Flamboyan, di Majene, mengatakan, kedua anak itu dikategorikan mengalami lumpuh layu.
Sebenarnya, keduanya sudah pernah mendapat penanganan dari tim medis di tingkat Puskesmas Totoli. Namun, untuk lebih intensif harus dilakukan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.
“Persoalannya, orang tua kedua anak itu harus menyiapkan dana agar bisa mendapat penanganan medis hingga tuntas. Dan itu tidak sedikit,” jelas Rimba.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Bina Kesehatan Keluarga, Dinas Kesehatan (Dinkes) Majene, Uswati, mengatakan pihaknya akan berupaya agar anak tersebut bisa ditangan dengan serius. Tapi, sebelumnya, kami konsultasikan dulu kepada kepala dinas.
Sebelumnya, Kepala Dinkes Majene, dr Evawaty, yang dikonfirmasi terkait dengan masalah penanganan kesehatan bagi warga miskin di wilayah Kabupaten Majene, mengakui masih ada penduduk yang tidak bisa mengakses kesehatan gratis karena terkendala Jamkesmas atau Jamkesda.
“Kalau itu juga tidak ada, yang bersangkutan (warga miskin) bisa mengurus surat keterangan miskin di kelurahan. Apalagi yang memang kondisinya sudah darurat,” jelas Evawaty.
Kondisi tubuh anak dari pasangan Jusman dan Hasmiah, warga Lingkungan Garogo Kelurahan Baru, Kecamatan Banggae, sungguh memprihatinkan.
Kepada SINDO, Hasmiah, ibu dua bocah anak menuturkan, Jumardi kini berusia 7 tahun namun hanya berbobot 9,1 kilogram. Bahkan, pada saat usia 6 tahun, Jumardi belum bisa berjalan seperti seperti anak lain.
“Sekarang baru bisa. Itupun belum normal seperti anak lain sebayanya,” tutur Hasmiah saat membawa anaknya ke Posyandu Flamboyan, kemarin.
Hal yang sama dialami adiknya, Jupriadi. Pada usianya saat ini 3,8 tahun, berat badannya hanya 6,8 kilogram.
Kasus yang dialami Jupriadi tidak jauh beda dengan kakaknya. Lebih parah lagi, adik Jumardi itu tak hanya tidak bisa jalan, untuk duduk pun tidak bisa karena tulang-tulangnya tidak kuat menahan badannya.
Diceritakan Hasmiah, sejak ia melahirkan Jumardi, kondisi kesehatannya memang mengalami banyak masalah. Tubuhnya drop hingga mengakibatkan pertumbuhan fisiknya terganggu.
Pada saat itu, ia bersamabersama suaminya, membawa anaknya ke pusat pelayanan kesehatan Totoli, Kecamatan Bangge. Tetapi, hasilnya tidak maksimal. Bahkan, pernah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majene, namun pihak keluarga terkendala pada biaya.
Mengenai kondisi Jumardi dan Jupriadi, Rimba, salah seorang bidan posyandu Flamboyan, di Majene, mengatakan, kedua anak itu dikategorikan mengalami lumpuh layu.
Sebenarnya, keduanya sudah pernah mendapat penanganan dari tim medis di tingkat Puskesmas Totoli. Namun, untuk lebih intensif harus dilakukan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.
“Persoalannya, orang tua kedua anak itu harus menyiapkan dana agar bisa mendapat penanganan medis hingga tuntas. Dan itu tidak sedikit,” jelas Rimba.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Bina Kesehatan Keluarga, Dinas Kesehatan (Dinkes) Majene, Uswati, mengatakan pihaknya akan berupaya agar anak tersebut bisa ditangan dengan serius. Tapi, sebelumnya, kami konsultasikan dulu kepada kepala dinas.
Sebelumnya, Kepala Dinkes Majene, dr Evawaty, yang dikonfirmasi terkait dengan masalah penanganan kesehatan bagi warga miskin di wilayah Kabupaten Majene, mengakui masih ada penduduk yang tidak bisa mengakses kesehatan gratis karena terkendala Jamkesmas atau Jamkesda.
“Kalau itu juga tidak ada, yang bersangkutan (warga miskin) bisa mengurus surat keterangan miskin di kelurahan. Apalagi yang memang kondisinya sudah darurat,” jelas Evawaty.
(ysw)