Gizi buruk turun, kelebihan gizi ngetrend
Rabu, 19 Desember 2012 - 11:57 WIB
Gizi buruk turun, kelebihan gizi ngetrend
A
A
A
Sindonews.com – Kasus gizi buruk pada balita di Kabupaten Kulonprogo tahun 2012 ini menurun. Tahun sebelumnya, kasus gizi buruk mencapai 194 orang atau 0,89 persen, tahun ini turun menjadi 180 penderita atau 0.87 persen.
Belakangan, Pemkab Kulonprogo memantau kalau perkembangan anak yang kelebihan gizi justru mengalami peningkatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo Bambang Haryatno mengungkapkan, selain gizi buruk, balita dengan gizi kurang juga turun. Tahun sebelumnya terdapat 2.303 penderita, tahun ini menjadi 2.269.
“Angkanya jauh di bawah angka penderita nasional,” kata Bambang di Kulonprogo, Rabu (19/12/2012).
Menurut Bambang, yang sedang banyak terjadi di masyarakat belakangan ini justru balita dengan gizi lebih. Tahun lalu, tercatat 234 balita dengan gizi lebih, tahun ini angka itu naik menjadi 335 balita.
“Ini seolah menjadi tren di msyarakat ketimbang gizi buruk,” kata dia.
Dinas, kata dia, mendukung penuh gerakan sadar gizi 1.000 hari. Sebab, asupan gizi 1.000 hari pertama pada anak sangat vital dalam pembentukan sel otak. Sehingga, jika anak mendapat asupan gizi yang baik sejak awal maka akan muncul generasi yang baik di masa yang akan datang.
Dia menambahkan, angka kematian ibu di Kulonprogo merupakan yang terendah di DIY. Tahun ini tiga ibu meninggal dunia, namun kematian itu terjadi karena kasus yang sulit ditanggulangi.
“Yang pertama itu, ibu hamil dengan kelainan jantung. Kemudian kedua embolia air ketuban dan terakhir anemi berat,’ tambahnya.
Kunthi Sholihatin, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Pengasih mengatakan,kenaikan balita dengan gizi lebih juga terjadi di wilayahnya. Tahun ini terdapat 26 anak dengan gizi lebih sedangkan gizi buruk hanya 18 anak saja.
“Bahkan terakhir, ada balita umur 4 tahun meninggal karena gizi lebih dan DM,” katanya.
Menurutnya, persoalan yang menyebabkan kematian ibu, gizi buruk maupun lebih terjadu karena kurangnya pengetahuan sera kesadaran ibu tentang pentingnya ASI. Tak hanya itu, mash ada sebagian masyarakat yang menolak imunisasi dan KB.
Dia menambahkan, kendala yang dihadapi justru untuk menyadarkan ibu yang bekerja atau yang berpendidikan. Sebab, 21 persen balita yang belum ke posyandu justru dari mereka yang mampu dan berpendidikan.
“Jadi status bekerja dan pendidikan tinggi tidak menjamin kesadaran mereka pentingnya ASi maupun membawa bayinya ke posyandu,” pungkasnya.
Belakangan, Pemkab Kulonprogo memantau kalau perkembangan anak yang kelebihan gizi justru mengalami peningkatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo Bambang Haryatno mengungkapkan, selain gizi buruk, balita dengan gizi kurang juga turun. Tahun sebelumnya terdapat 2.303 penderita, tahun ini menjadi 2.269.
“Angkanya jauh di bawah angka penderita nasional,” kata Bambang di Kulonprogo, Rabu (19/12/2012).
Menurut Bambang, yang sedang banyak terjadi di masyarakat belakangan ini justru balita dengan gizi lebih. Tahun lalu, tercatat 234 balita dengan gizi lebih, tahun ini angka itu naik menjadi 335 balita.
“Ini seolah menjadi tren di msyarakat ketimbang gizi buruk,” kata dia.
Dinas, kata dia, mendukung penuh gerakan sadar gizi 1.000 hari. Sebab, asupan gizi 1.000 hari pertama pada anak sangat vital dalam pembentukan sel otak. Sehingga, jika anak mendapat asupan gizi yang baik sejak awal maka akan muncul generasi yang baik di masa yang akan datang.
Dia menambahkan, angka kematian ibu di Kulonprogo merupakan yang terendah di DIY. Tahun ini tiga ibu meninggal dunia, namun kematian itu terjadi karena kasus yang sulit ditanggulangi.
“Yang pertama itu, ibu hamil dengan kelainan jantung. Kemudian kedua embolia air ketuban dan terakhir anemi berat,’ tambahnya.
Kunthi Sholihatin, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Pengasih mengatakan,kenaikan balita dengan gizi lebih juga terjadi di wilayahnya. Tahun ini terdapat 26 anak dengan gizi lebih sedangkan gizi buruk hanya 18 anak saja.
“Bahkan terakhir, ada balita umur 4 tahun meninggal karena gizi lebih dan DM,” katanya.
Menurutnya, persoalan yang menyebabkan kematian ibu, gizi buruk maupun lebih terjadu karena kurangnya pengetahuan sera kesadaran ibu tentang pentingnya ASI. Tak hanya itu, mash ada sebagian masyarakat yang menolak imunisasi dan KB.
Dia menambahkan, kendala yang dihadapi justru untuk menyadarkan ibu yang bekerja atau yang berpendidikan. Sebab, 21 persen balita yang belum ke posyandu justru dari mereka yang mampu dan berpendidikan.
“Jadi status bekerja dan pendidikan tinggi tidak menjamin kesadaran mereka pentingnya ASi maupun membawa bayinya ke posyandu,” pungkasnya.
(ysw)