Radar mati, Bandara Soekarno-Hatta lumpuh total
Minggu, 16 Desember 2012 - 20:45 WIB
Radar mati, Bandara Soekarno-Hatta lumpuh total
A
A
A
Sindonews.com - Radar Bandara Internasional Soekarno-Hatta dinyatakan tidak berfungsi. Tak pelak sejumlah jadwal penerbangan sekira pukul 16.55 sampai 17.10 WIB lumpuh total. Hingga kini 21 jadwal penerbangan dinyatakan delay.
Menurut Coorporate Secretary PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Trisno Heriyadi menyatakan, Hal itu disebabkan karena Unit Power Supply (UPS) dibandara itu mati karena suplay listrik yang berhenti.
“Dampaknya jelas delay, ini terjadi untuk penerbangan Internasional dan domestic, tetapi tidak signifikan,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (16/12/2012).
Menurut Trisno, karena suplay listrik yang sempat mati, maka ketika listrik itu hidup kembali ada waktu loading atau restrart sekira satu jam untuk kembali membuat semua sistem berjalan.
“Ini kan kemajuan teknologi. UPS mati, karena tekhnologi. Sebenarnya di Negara lain, ini sering terjadi, tetapi tidak sampai geger seperti di sini. Itu hal biasa meski itu tidak boleh terjadi,“ katanya.
Adapun prosedur yang dilakukan oleh Pilot, lanjut Trisno, maupun ATS sudah saling paham.
Terkait dengan banyaknya penumpang yang mengeluh dan marah lantaran banyak jadwal yang delay tersebut, Trisno juga menganggapnya sebagai hal yang wajar.
“Namanya juga delay. Tetapi seharusnya penumpang mengerti ini dilakukan demi keselamatan. Daripada memaksakan take off atau landing bagaimana coba,” ujarnya.
Menurut Coorporate Secretary PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Trisno Heriyadi menyatakan, Hal itu disebabkan karena Unit Power Supply (UPS) dibandara itu mati karena suplay listrik yang berhenti.
“Dampaknya jelas delay, ini terjadi untuk penerbangan Internasional dan domestic, tetapi tidak signifikan,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (16/12/2012).
Menurut Trisno, karena suplay listrik yang sempat mati, maka ketika listrik itu hidup kembali ada waktu loading atau restrart sekira satu jam untuk kembali membuat semua sistem berjalan.
“Ini kan kemajuan teknologi. UPS mati, karena tekhnologi. Sebenarnya di Negara lain, ini sering terjadi, tetapi tidak sampai geger seperti di sini. Itu hal biasa meski itu tidak boleh terjadi,“ katanya.
Adapun prosedur yang dilakukan oleh Pilot, lanjut Trisno, maupun ATS sudah saling paham.
Terkait dengan banyaknya penumpang yang mengeluh dan marah lantaran banyak jadwal yang delay tersebut, Trisno juga menganggapnya sebagai hal yang wajar.
“Namanya juga delay. Tetapi seharusnya penumpang mengerti ini dilakukan demi keselamatan. Daripada memaksakan take off atau landing bagaimana coba,” ujarnya.
(rsa)