TDL naik, pariwisata DIY terancam
Senin, 03 Desember 2012 - 07:02 WIB
TDL naik, pariwisata DIY terancam
A
A
A
Sindonews.com – Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15 persen pada 2013, mengancam eksistensi pelaku usaha yang ada di Yogyakarta.
Listrik telah menjadi varibael biaya pokok yang masuk dalam ongkos produksi. Pemerintah harus memberikan perhatian terhadap ancaman Pemutusan hubungan kerja dan usaha yang gulung tikar.
“Karena biaya produksi naik, sangat mungkin akan banyak pengusaha bangkut,” jelas Ketua DPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DIY Lilik Syaiful Ahmad, Minggu (2/12/12).
Menurutnya, kenaikan ini juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi pengusaha muda. Mereka harus menyiapkan konsep dan upaya antisipasi.
Tentu saja harus didukung dengan managemen yang baik dan tata kelola keuangan yang professional. Kenaikan ini, bisa merusak citra Yogyakarta sebagai kota pariwisata.
Sebab wisata banyak berkaitan erat dengan oleh-oleh, hotel dan restauran. Jangan sampai apa yang ditawarkan terkesan mahal yang berdampak terhadap kunjungan wisatawan.
“Tantang kita adalah bagaimana menciptakan Yogyakarta tetap menarik dikunjungi,” jelas Lilik.
Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan kenaikan TDL akan menjadi pukulan yang telat bagi pengusaha khususnya kalangan perhotelan. Sebab sekitar 70 persen operasional hotel mengandalkan dari enenrgi listrik.
Sehingga kenaikan TDl, pasti akan diikuti dengan kenaikan tarif. Apalagi ada keputusan terkait kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang baru.
“Listrik menjadi beban tersendiri, kalau UMK justru tidak masalah karena gajinya sudah diatas UMK,” jelasnya.
Listrik telah menjadi varibael biaya pokok yang masuk dalam ongkos produksi. Pemerintah harus memberikan perhatian terhadap ancaman Pemutusan hubungan kerja dan usaha yang gulung tikar.
“Karena biaya produksi naik, sangat mungkin akan banyak pengusaha bangkut,” jelas Ketua DPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DIY Lilik Syaiful Ahmad, Minggu (2/12/12).
Menurutnya, kenaikan ini juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi pengusaha muda. Mereka harus menyiapkan konsep dan upaya antisipasi.
Tentu saja harus didukung dengan managemen yang baik dan tata kelola keuangan yang professional. Kenaikan ini, bisa merusak citra Yogyakarta sebagai kota pariwisata.
Sebab wisata banyak berkaitan erat dengan oleh-oleh, hotel dan restauran. Jangan sampai apa yang ditawarkan terkesan mahal yang berdampak terhadap kunjungan wisatawan.
“Tantang kita adalah bagaimana menciptakan Yogyakarta tetap menarik dikunjungi,” jelas Lilik.
Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan kenaikan TDL akan menjadi pukulan yang telat bagi pengusaha khususnya kalangan perhotelan. Sebab sekitar 70 persen operasional hotel mengandalkan dari enenrgi listrik.
Sehingga kenaikan TDl, pasti akan diikuti dengan kenaikan tarif. Apalagi ada keputusan terkait kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang baru.
“Listrik menjadi beban tersendiri, kalau UMK justru tidak masalah karena gajinya sudah diatas UMK,” jelasnya.
(ysw)